SEPULUH TAHUN KEMUDIAN
"El Capo," pria itu mendekati Cap dengan ragu, seperti domba yang mendekati serigala.
"Vinnie," jawab Cipriano tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer, hanya mengamati Vinnie dari sudut matanya. Dia bisa merasakan ketakutan bawahannya itu. Pasti Vinnie dan Tulio mungkin sedang bertaruh, atau lebih buruk lagi, Tulio mungkin mengancam Vinnie dengan pistol untuk menyampaikan berita ini. Tulio memang bisa jadi menyebalkan, dan Vinnie hanyalah benalu selama dua bulan terakhir.
"Ayahmu mengirim bawahannya di gerbang depan. Dia bilang ayahmu menyuruhmu kembali ke New Jersey. Kalau kau tidak menanggapi perintahnya, dia akan membunuh istri dan anak orang suruhannya itu."
Dia mengangkat bahu, "Terus?" Cap tidak peduli apa yang ayahnya lakukan.
"Ayahmu mengirim Pierluigi."
Cap berhenti sejenak, "pria yang punya istrinya di kursi roda dan anak yang cacat itu?"
"Yup. Eh kudengar dokter terlalu menekan kepala bayinya dengan forsep atau semacamnya."
"Apaan sih," gerutunya kesal. "Mana ada dokter yang rela menekan kepala bayi? Istrinya minum banyak obat pereda rasa sakit dan baru sadar dia hamil setelah enam bulan, dan itu jelas memengaruhi perkembangan otak. Tapi mereka tidak mau orang lain tahu anaknya lahir cacat karena kecanduan opioid selama dikandungan."
"Ya oke. Don meminta Pierluigi menyampaikan pesan itu secara langsung, atau keluarganya tidak akan kembali lagi."
"Maksudmu?"
"Tulio menelepon pamanmu dan bilang ayahmu sengaja menyuruh istri dan anak Pierluigi menginap di rumah ayahmu untuk liburan. Anak itu sangat suka berenang di kolam, dan sepertinya mereka ingin anak itu tenggelam."
Brengsek. Dasar amoral. Cap tau dia juga begitu tapi dia tidak bisa membiarkan ayahnya membunuh seorang anak berkebutuhan khusus yang baru berusia sepuluh tahun.
“Bawa dia masuk dan pastikan dia tidak dijerat pengawal. Habis urusannya selesai, suruh dia pulang.”
Pierluigi dibawa masuk ke dalam kantor dengan kasar. Pria itu menundukkan kepala.
“Bicaralah,” kata Cipriano Amato, suaranya tegas. Dia bukan orang yang sabar, dan suasana hatinya semakin buruk.
“Ayahmu memintaku menyampaikan sebuah pesan, El Capo.”
“Katakan. Aku tidak punya banyak waktu.” Cap melambaikan tangannya pada pria itu melanjutkan bicara, melirik Tulio dengan kesal.
“Ayahmu ingin kau mengambil alih bisnis di New Jersey. Dia ingin menghabiskan waktu bersamamu sebelum dia meninggal.”
“Dia tidak sekarat.”
“Dia bilang dia menderita kanker paru stadium tiga, El Capo. Dia sekarat.”
“Ayahku tidak menderita kanker paru. Tahun lalu dia kena ALS, dan tahun sebelumnya dia kena kanker prostat.” Cap berdiri dan mendekati pria yang gemetar itu. “Jangan percaya pria tua pembohong itu.”
Pria itu mendongak dengan ragu. “Dia bilang dokter hanya memberinya waktu tiga puluh hari.”
Cap tertawa kecil. “Kalau aku harus ke New Jersey dan meninggalkan Sisilia, aku akan memberinya waktu dua hari sebelum kita saling membunuh. Dan tebak siapa di antara kita yang akan selamat.” Dia bersandar di mejanya. “Kau tahu kenapa dia ingin aku datang ke New Jersey?”
“Dia ingin kau mengambil alih keluarga Amato?”
“Semua orang juga tahu itu omong kosong. Apa kau tahu alasan sebenarnya?” tanya Cipriano. “Pierluigi, apakah kau senang menikah dan bercinta dengan wanita yang sama, setiap hari, tanpa pernah meniduri orang lain?”
Pria itu menelan ludah, menatapnya dengan lebar, “Um…”
“Ayolah, kita semua laki-laki di sini,” dia melambaikan tangan ke sekeliling ruangan, “kau satu-satunya yang sudah menikah di ruangan ini. Apakah v****a yang sama setiap hari sepadan dengan janji seumur hidup atau itu semua hanya membuatmu sakit kepala. Lihat,” dia berdiri tegak dengan punggung lurus, “ayahku, menikah dengan wanita simpanannya. Aku anak satu-satunya dari istri sahnya. Aku membuat janji pada Ibuku untuk tidak mengingkari sumpah pernikahanku. Itu berarti, aku berjanji di ambang kematian ibuku untuk tidak pernah berselingkuh dari istriku. Apa aku terlihat seperti pria yang setia pada istriku?”
Muka Pierluigi sekarang merah padam. “Sekarang saja ada dua wanita yang sedang berebut siapa yang akan tidur denganku malam ini. Tadi malam mereka harus berbagi, dan sepertinya mereka tidak suka.”
“Ah.. begitu.” Muka pria itu sekarang makin seperti lampu merah.
“Sekarang, ayahku ingin aku datang ke New Jersey dan menikah. Dia ingin menyerahkan bisnis padaku hanya saat aku menikah. Aku belum siap meniduri wanita yang sama selamanya. Pierluigi, apa istrimu layak menjadi satu-satunya wanita yang kau nikahi? Sanggup tidak tepati janji pernikahan itu?”
“Keadaanku berbeda," bisiknya ragu sembari menghindari kontak mata dengan bosnya. "Istriku mengalami kecelakaan setahun setelah kami menikah."
"Ya, ya, kau ditabrak pengemudi mabuk kan?"
"Benar."
"Dan keluarga kami yang mengurus pengemudi itu?"
"Benar, Tuan," ia mengangguk dengan tegas.
“Kondisi istrimu memburuk. 'Dalam sakit dan sehat sampai maut memisahkan.' Kau tahu, sumpahku pada ibuku tidak berlaku pada keadaan seperti itu, terkurung di kursi roda dan tidak bisa kutiduri lagi.”
Cipriano tahu betul dia membuat Pierluigi kesal karena terlihat dari matanya yg meliriknya dengan marah tapi segera mengalihkan pandangannya karena takut.
"Bisakah dia bercinta lagi, Pierluigi?"
"Aku mencintai istriku. Aku senang dia adalah satu-satunya wanita yang akan bersamaku sampai meninggal."
Cap terkekeh mendengar pria itu, "yah, aku lupa kau orang yang suci. Beritahu ayahku, aku tidak akan kembali dalam waktu dekat untuk menikah.”
“Ayahmu diserang oleh keluarga Greco.”
Kata-kata itu terucap begitu saja, hingga Cipriano yang semula berjalan ke mejanya langsung terhenti, “Apa?”
“Greco berencana mengambil bisnis keluarga Amato, karena kau dan ayahmu sudah lama tidak berhubungan, dia pikir dia punya kesempatan. Ayahmu butuh bantuanmu, tapi dia gengsi untuk memintanya. Dia dan Greco sudah perang dingin selama hampir dua tahun, dan sebulan lalu, ada yang mencoba membunuh ayahmu. Aku ditugaskan melindunginya. Aku sudah bekerja untuknya sejak umur lima belas tahun—ini pertama kalinya dia mengakui keberadaanku, dan aku merasa berterima kasih bisa menyuruhmu pulang. Kata ayahmu ini adalah suatu kehormatan bagiku, ia juga membawa istri dan anakku ke rumahnya. Aku sudah menjadi bagian dari keluarga Amato, seperti ayah dan pamanku, dan aku akan lakukan apapun yang Don suruh. Aku mungkin tidak suka tugas ini dan aku mungkin tidak suka dia mengambil istri dan anakku, tapi Greco,” dia menundukkan kepalanya, “dia pasti akan menembak istri dan anakku lalu mengirimku pergi dan tidak kembali ke New Jersey. Aku seharusnya tidak mengatakan ini, tetapi kalau aku kembali tanpamu dan Greco menang, anakku akan mati juga.”
“Kenapa bisa?”
“Dia tidak suka orang yang lemah. Greco membuat anak buahnya berlatih keras. Tidak ada wanita yang diizinkan menjadi anggota. Seluruh anggotanya tidak diizinkan menikah dan siapa pun yang memiliki anak cacat akan dikeluarkan dari keluarga jika mereka menolak menyingkirkannya. Keluarga Amato sudah menerima beberapa pembelot dari Greco selama bertahun-tahun.”
Cipriano ingat Greco menembak kepala saudaranya sendiri saat dia diangkat menjadi Don. Saudaranya menderita down syndrome dan menurut Greco, itu membuat ayahnya tampak lemah. Greco membunuh ayah dan saudaranya sendiri lalu mengambil alih keluarga. Cap rasa dirinya lebih manusiawi daripada Greco.
“Kembalilah ke hotelmu, Pierluigi.”
“Aku tidak menginap di hotel, Tuan. Aku datang langsung ke sini dari bandara.”
“Antar dia ke salah satu kamar kita, Vinnie. Dia bisa kembali ke Amerika bersama kita.” Cap menatap wajah terkejut pria itu, “Kalau Greco memang ingin mengambil keluarga Amato, aku akan kembali dan memastikan dia tahu aku tidak akan membiarkan warisanku hilang begitu saja tanpa pertumpahan darah. Tapi, kalau kau bohong dan ini adalah renacana lain ayahku, aku akan membunuhmu.”