Cap tidak mengatakan apa-apa, dan Giada pun tidak menolak. Silver pasti akan menamparnya jika dia tau dia mengiyakan ajakan Cap. Dia terus mengikuti Cap yang menggenggam tangannya. Pria itu meminta seseorang keluar dari kamar mandi pribadi yang mereka tuju, lalu mengunci pintu. Dengan cepat, Cap memutar tubuhnya dan mendorongnya ke dinding. Punggung Giada menghantam saklar lampu, membuat ruangan menjadi gelap, menyisakan cahaya kecil dari meja rias di sudut. Giada terkejut saat Cap menyambarnya mulutnya, dan dia merobek topengnya dengan ganas.
Cipriano dengan cepat menanggalkan celana dalam berenda Giada, merobeknya dari pinggul sebelum jemarinya dengan lihai menggapai klitorisnya. Tubuh molek Giada digerayangi, dan lidah mereka terus beradu dan saling menyesap seakan tak ada hari esok. Pria itu mulai mencium lehernya, menghisap dalam-dalam tepat di nadinya. Giada khawatir Cipriano akan meninggalkan bekas. Jari-jari Cap yang semula bermain-main di labia mayornya, melesak masuk ke dalam. Giada tersentak dan mendesah saat tangan Cap yang lain menurunkan resleting gaunnya. Dia memang b******n yang handal bercinta.
“Tidak memakai bra, huh?” Cap meremas p******a Giada sebelum memasukkan putingnya ke dalam mulut.
Tak mau kalah, jemari Giada juga ikut bermain-main dengan sabuk Cap, lalu menyelipkan tangannya ke celana sang pria dan tanpa ragu menyentuh penisnya. “Kita benar-benar bercinta di kamar mandi,” batinnya.
Cap mengeluarkan erangan berat saat Giada mengurut kejantanannya, disaat yang bersamaan jemarinya bermain-main di liang senggama wanita itu.
“Dikit lagi,” Giada merengek saat jari-jari Cap menekuk menggaruk-garuk dan menemukan titik sensitifnya, “iya di situ ah–sial!” Kepalanya mengadah ke atas saat merasa orgasmenya sudah dekat.
Pria itu menjambak rambutnya. Giada sontak menarik tangannya dari dalam celana panjang Cap saat pria itu membalikkan dan mendorong tubuhnya ke meja untuk menungging. Pria itu memasukkan penisnya dengan mudah seraya mencengkeram p****t Giada. p***s Cap memenuhi lubang senggamanya dan Giada merentangkan kakinya lebih lebar, memberi Cap akses untuk memasukinya lebih dalam. Kejantanan pria itu sangat besar, dan sekarang tidak mengherankan mengapa para wanita merebutkan Cap.
Sekilas, kewarasan merasuki otak sang puan saat ia menyadari dirinya sedang bersenggama dengan Cipriano Amato di acara ulang tahun ayahnya. Untaian kalimat kotor lolos dari mulut sang pria tatkala ia mulai melesakkan kejantanannya dalam-dalam. Giada pun ikut terhanyut mendengar suara parau Cap, menikmati apa yang sedang mereka lakukan.
Giada nyaris tak bisa menyeimbangi gerakan pria itu hingga membuat kakinya terangkat. Payudaranya menempel di atas meja dan tubuhnya bergoyang hebat seirama dengan sang adam. Giada memperhatikan raut wajah pria itu di cermin seraya menghentaknya penisnya dari belakang. Ia memperhatikan p***s Cap yang bergerak masuk dan keluar dari vaginanya. Rambut ikal gelapnya jatuh ke dahinya sementara tangan besar Cap dengan kasar terus meremas pantatnya.
Giada mencapai klimaksnya lagi. Kali ini klimaksnya mengucur dengan deras sampai ia harus menggigit kepalan tangannya demi menahan dirinya agar tidak berteriak.
“Iya– gitu, sayang,” erang Cap, membuat Giada menggelinjang hebat setelah pelepasannya. Tangan Cap menggerayangi punggungnya, “kau tahu? lubangmu ini sangat pas untuk penisku dan aku akan terus mengisinya,” ucapnya seraya menggertakkan gigi.
"Iyah–ah..isi saja," desah Giada seraya meraih kran wastafel guna menyangga tubuhnya tatkala Cap terus bergerak dengan kasar. “Jangan berhenti.”
Cipriano menyeringai mendengar perintah si hawa yang sudah pasrah dibawah kukungannya. Pria itu meraba lembut sepanjang tulang belakangnya dan berhenti sejenak dan menelusuri tato di bahu Giada, sebelum akhirnya melepaskan pelukan mereka dan membalikkan tubuh si puan.
"Aku tak tau harus memilih p******a atau pantatmu," dengus Cap dan melesakkan kembali penisnya sembari menggerakkan mulutnya turun ke d**a telanjang Giada.
Giada mendekap kepala Cap saat pria itu menghisap payudaranya dengan rakus. Dia bersandar ke meja di belakangnya, pantatnya sudah di ujung meja dan p***s pria itu terus menghujam liang senggamanya. Tidak lama hingga Cipriano menyemburkan putihnya sampai meluber keluar karena rahim Giada tak sanggup menampung semuanya.
"Apa kau minum birth control?" tanya Cap tiba-tiba tanpa melepaskan cubitannya pada p****g Giada.
"Iya, tenanglah."
“Bagus, karena aku keluar di dalam dan sepanjang malam cairanku akan terlihat mengalir di kakimu. Jangan pakai celana dalammu dan jangan berani-beraninya menari dengan orang lain malam ini, atau demi Tuhan, aku menyeretmu ke kamar hotelku, dan aku akan memakaimu dengan berantakan.”
“Yah.. mungkin aku hanya akan menari dengan setengah dari semua orang di sini,” ejek Giada yang membuat Cap kembali mengusak klitorisnya dengan kasar dan membuatnya menggelinjang dengan penuh nikmat. Giada merintih seperti anak kucing yang terluka saat orgasmenya keluar dan saat liangnya dipenuhi s****a pria itu.
Cipriano meraih dagu Giada dan mencium bibirnya. Giada membuka matanya untuk melihat wajah pria itu saat menciumnya dengan mata tertutup. Keringat mengalir deras di dahinya dan rambutnya basah kuyup. Ia pun memejamkan mata seraya menikmati suara yang lolos dari bibir pria itu. Giada sengaja mengetatkan vaginanya untuk menahan putih Cap yang terus keluar.
“Perubahan rencana.” Cipriano berbisik di bibir Giada saat dia mulai menghentak penisnya lagi, “ronde kedua lau kita tinggalkan ruangan ini dan langsung ke kamarku. Bersiaplah, kau akan kusetubuhi sampai tidak bisa berjalan. Ini mungkin pesta terbaik dari semua yang pernah ibuku paksa untuk kuhadiri." Pria itu mengerang lagi, “sial! bagaimana lubangmu bisa sangat ketat?”
Lalu, ketukan di pintu membuat mereka berdua mengerang kesal.
“Diamlah di situ,” Cap mencabut keluar penisnya dan tak lupa menggesek ujungnya pada bibir v****a Giada yang bengkak. Rambut Giada jatuh menutupi wajahnya saat melihat apa yang sedang dilakukan pria itu. “Kita belum selesai.”
Cipriano keluar ruangan sambil merapikan dirinya, namun tak repot-repot membenarkan sabuknya. Ia menarik pintu di belakangnya dengan kasar, lalu menggeram pada temannya. “Ada apa?”
Giada pun langsung menguping.
“Ayahmu mencarimu. Rupanya, anak Gil menyelinap masuk, dan tak ada yang bisa menemukannya.”
“Anak Gil? Si kutu buku aneh itu? Sudah bertahun-tahun aku tidak melihatnya. Gil pasti menyembunyikannya dari kita.”
“Ya, tampaknya dia ingin bergabung dengan kita. Karena ditolak, mereka khawatir dia akan membuat kekacauan. Katanya, dia suka eksperimen dengan bahan-bahan kimia atau semacamnya. Mereka ingin kita yang menemukannya.”
“Aku bahkan tidak tahu seperti apa wajahnya.”
“Mungkin mirip ibunya, kalau gennya bagus. Tapi kalau dia gemuk dan jelek seperti Gil, pasti dia akan sulit untuk dinikahkan.”
Keduanya tertawa, lalu Cap mendengus, "Jadi dia mau pekerjaan?"
"Ya, dan ayahmu bilang dia bisa jadi pelayan di Skin. Sepertinya dia tidak terima, dan Gil tahu perempuan itu datang ke sini untuk meyakinkan ayahmu menerimanya. Dia bahkan menyebutkan sesuatu tentang meracuni minuman sebagai bentuk dendam."
"Wanita tidak punya tempat dalam bisnis ini. Aku akan membuatnya tidak pernah menginjakkan kaki di pekerjaan apa pun, karena dia baru saja mengganggu seks hebatku."
Cipriano memukul dinding dengan frustrasi. "Aku akan meminta Gil menikahkannya dengan seorang b******n posesif yang akan menguncinya dan menghamilinya. Aku akan memastikan anak itu akan menikah pada akhir minggu. Dasar jalang bodoh."
Giada merasa mual saat mendengar kata-kata Cipriano. Dia tidak tahu dengan siapa dia baru saja bersenggama. Dengan gugup, dia melirik sekeliling ruangan, matanya tertuju pada jendela kecil di atas. Dia harus segera keluar sebelum Cap kembali dan mengetahui identitas aslinya. Giada mengunci pintu agar tak ada yang bisa masuk, menendang sepatunya dan mulai memanjat kloset untuk membuka jendela lebar-lebar, lalu merangkak keluar melewatinya. Saat mendengar pintu di ketuk, ia semakin panik, lalu Giada melompat ke luar.
Persetan dengan Cipriano Amato. Jika dia tidak bisa bergabung di bisnis mereka, dia harus mengalahkan Cap, atau setidaknya, mati berusaha.