Tiga hari setelah serangan di jalan, Wirananta muncul.
Bukan di ruang sidang. Bukan di hadapan hukum. Ia muncul di layar — sebuah wawancara eksklusif yang disiarkan stasiun televisi asing, direkam entah di mana, di sebuah negeri tanpa perjanjian ekstradisi tempat ia bersembunyi sejak awal kasus meledak. Damar menontonnya di ruang tengah rumah aman bersama Arini dan Maharani, dengan secangkir kopi yang mendingin tak tersentuh.
Wirananta tidak seperti monster. Itulah yang paling mengganggu Damar. Pria itu duduk tenang di sebuah ruangan berdinding kayu, mengenakan kemeja putih sederhana tanpa dasi, rambutnya yang memutih disisir rapi. Ia tersenyum hangat pada pewawancara. Suaranya lembut, sabar, seperti seorang kakek yang menjelaskan sesuatu pada cucunya.
"Saya korban," kata Wirananta dalam wawancara itu. "Korban dari kriminalisasi. Saya membangun Cakrawala dari nol. Puluhan ribu orang Indonesia menanamkan harapan mereka pada perusahaan saya, dan saya bangga pada apa yang kami bangun. Lalu datang seorang anak muda — analis yang masih hijau, baru beberapa tahun bekerja — yang salah membaca laporan keuangan, dan dari kesalahan baca itu lahirlah seluruh badai ini."
Damar merasakan darahnya naik, tapi ia menahan diri.
"Pembukuan kami rumit," lanjut Wirananta. "Kami punya enam anak perusahaan, operasi yang membentang sampai ke timur. Orang yang tidak paham bisa salah mengira aliran dana internal sebagai sesuatu yang gelap. Itu bukan kejahatan. Itu kompleksitas bisnis. Dan saya disalahkan untuk kompleksitas yang tidak dipahami orang luar."
Pewawancara bertanya tentang Gunawan, tentang tuduhan pembunuhan.
Wajah Wirananta berubah sedih, sangat meyakinkan. "Pak Gunawan adalah karyawan yang saya hormati. Kematiannya adalah kecelakaan yang memilukan. Menuduh saya terlibat dalam hal seperti itu—" ia menggeleng pelan, "—itu fitnah paling kejam yang pernah dilemparkan kepada saya. Saya menangis di pemakaman beliau. Saya."
Arini menggeram pelan. "Dia bagus. Sialnya, dia bagus sekali."
Dan memang. Keesokan harinya, opini publik retak. Sebagian masyarakat — yang lelah dengan kabar buruk, yang ingin percaya bahwa tidak ada yang sejahat itu — mulai bergumam. Mungkin anak muda itu terlalu cepat menuduh. Mungkin ini cuma salah paham akuntansi yang dibesar-besarkan media. Mungkin Wirananta benar korban. Tagar pembelaan untuknya muncul. Beberapa komentator yang dulu diam mulai bicara, mempertanyakan apakah Damar benar-benar memahami yang ia laporkan, atau hanya seorang analis muda yang mencari nama.
Damar membaca komentar-komentar itu sampai larut, dan untuk pertama kalinya sejak gudang blok C, ia merasakan keraguan menyusup. Bukan ragu pada faktanya — fakta ada di tangannya, terenkripsi, terverifikasi. Tapi ragu pada apakah fakta saja cukup melawan wajah hangat seorang kakek di layar televisi.
"Mereka mengubah cerita," kata Damar pada Arini. "Selama ini ceritanya: penjahat besar versus kebenaran. Sekarang dia membaliknya jadi: orang tua baik versus anak muda sombong."
Arini menutup laptopnya. "Itu karena selama ini kita melawan dengan angka. Dan angka tidak menangis di layar televisi." Ia menatap Damar. "Tahu kenapa wawancara ini sebenarnya hadiah buat kita?"
Damar menggeleng.
"Karena untuk membela diri, dia harus bicara. Dan setiap kali orang seperti Wirananta bicara, dia meninggalkan jejak. Dia bilang tadi kematian Gunawan kecelakaan yang memilukan, dan dia menangis di pemakaman. Tapi kita punya emailnya, Damar. Email Salim ke direktur keuangan: Soal Gunawan sudah saya tangani — disetujui Pak W. Dia baru saja, di depan jutaan penonton, membela diri dengan kebohongan yang bisa kita bantah dengan dokumennya sendiri."
Damar perlahan mengerti. "Dia membangun panggung. Dan kita punya rekaman untuk merobohkannya."
"Lebih dari itu," kata Arini, matanya berkilau dengan semangat seorang wartawan yang mencium cerita besar. "Dia membela dirinya sebagai pengusaha jujur yang dizalimi. Sekarang bayangkan apa yang terjadi pada wajah hangat itu kalau publik tahu uang yang dia bilang dikelola dengan jujur itu sudah dia pindahkan ke rekening rahasia di luar negeri — triliunan rupiah milik ibu rumah tangga dan pensiunan — sementara dia duduk nyaman di negeri pelarian, memakai kemeja putih, dan bicara tentang harapan rakyat."
Damar menatapnya. "Kamu sudah tahu sesuatu."
Arini mengangguk pelan. "Konsorsium jurnalis internasional sedang menelusuri rekening cangkang Wirananta. Tiga yurisdiksi. Pola tanda tangan yang sama dengan yang kamu petakan dulu. Dan kabar dari rekan mereka di luar negeri—" ia berhenti, menahan senyum, "—sebuah bank besar baru saja mulai menanyakan asal-usul dana itu. Bank tidak suka menyimpan uang yang baunya seperti penjara."
Layar televisi masih menampilkan wajah Wirananta yang tersenyum hangat, diputar ulang dalam segmen berita. Damar menatapnya, dan kali ini ia tidak lagi merasa ragu.
"Nikmati senyummu," gumam Damar pada layar. "Mumpung uangmu masih bisa kamu sentuh."