Pagi sidang ketiga, konvoi berangkat pukul tujuh. Dua mobil. Yang depan membawa pengawal, yang belakang membawa Damar bersama seorang petugas pendamping bernama Pak Yusuf — pria pendiam berusia lima puluhan yang sudah dua puluh tahun mengawal saksi dalam perkara berbahaya. Arini berangkat terpisah, lewat rute berbeda, atas perintah Maharani. "Jangan pernah taruh dua telur di satu keranjang," kata Maharani. "Apalagi kalau keranjangnya di jalan raya."
Jalanan masih basah sisa hujan semalam. Damar menatap ke luar jendela, kota yang lewat dengan ritme biasanya: pedagang membuka kios, anak sekolah menyeberang, klakson bersahutan. Dunia yang sama sekali tidak tahu bahwa di dalam salah satu mobil yang melintas itu, duduk seorang pemuda yang sedang dalam perjalanan untuk merobohkan kerajaan triliunan rupiah.
Pak Yusuf memeriksa kaca spion untuk yang kesekian kali. "Ada motor," katanya pelan. "Dua. Dari tadi jaga jarak."
Damar menoleh. Ia tidak melihat apa-apa yang mencurigakan. Hanya lalu lintas pagi.
"Mungkin cuma kebetulan," kata Damar.
"Dalam pekerjaan saya," jawab Pak Yusuf, "tidak ada kebetulan yang bertahan lebih dari tiga lampu merah."
Mereka berbelok masuk jalan yang lebih sempit, jalan pintas untuk menghindari kemacetan menuju gedung pengadilan. Mobil pengawal di depan memperlambat laju di sebuah perempatan kecil. Dan saat itulah semuanya terjadi sekaligus.
Sebuah truk boks yang sejak tadi terparkir di sisi jalan mendadak bergerak maju, memotong, menutup mulut perempatan. Mobil pengawal di depan mengerem mendadak, bannya berdecit di aspal basah. Kedua motor yang sejak tadi membuntuti melesat dari belakang, mendekat ke mobil Damar.
"Tunduk!" teriak Pak Yusuf, satu tangan mendorong kepala Damar ke bawah, tangan lain membanting setir. Mobil meliuk, naik ke trotoar, menyerempet tiang.
Damar mendengar suara — bukan tembakan, melainkan benturan keras di pintu, sesuatu dilempar atau dipukulkan. Kaca jendela samping retak menjadi jaring laba-laba tapi tidak pecah. Kaca anti peluru, Damar baru menyadarinya, yang dipasang lembaga sejak rumah aman.
"Pegangan!" Pak Yusuf menginjak gas. Mobil melonjak turun dari trotoar, menabrak salah satu motor yang terlalu dekat hingga pengendaranya terpental ke aspal. Mobil melaju kencang, menerobos celah sempit antara truk boks dan dinding ruko, spion kiri terlepas dengan suara patah.
Damar terhimpit di lantai mobil, jantungnya menghantam tulang rusuk. Ia mendengar Pak Yusuf bernapas berat, satu tangan menekan lengannya sendiri. Darah merembes di lengan baju Pak Yusuf.
"Bapak luka—"
"Pecahan kaca. Tidak apa-apa. Tetap di bawah."
Mobil pengawal di depan sudah berhasil memutar, kini melaju di belakang sebagai penyangga. Lewat radio, Damar mendengar suara berderak memanggil bantuan, menyebut posisi, meminta pengalihan rute. Sirene mulai terdengar dari kejauhan, mendekat.
Mereka tidak berhenti sampai mencapai gerbang gedung pengadilan, tempat barikade petugas sudah dibuka untuk menelan mereka masuk. Begitu mobil berhenti, tangan-tangan menarik pintu, mengeluarkan Damar, menggiringnya cepat ke dalam. Ia sempat menoleh sekali. Pak Yusuf masih di kursi pengemudi, menekan lengannya yang berdarah, dan mengangguk pada Damar — anggukan pria yang sudah melakukan tugasnya.
Di dalam, Maharani sudah menunggu, wajahnya pucat. "Kamu terluka?"
"Tidak. Pak Yusuf yang—"
"Sudah ditangani. Pecahan kaca, tidak dalam." Maharani memegang kedua bahu Damar, menatapnya. "Kamu masih bisa bersaksi?"
Damar mengatur napasnya. Tangannya gemetar — bukan ketakutan persisnya, melainkan sisa adrenalin yang belum surut. Ia menatap ke arah ruang sidang.
"Mereka menyerang konvoi resmi di siang bolong," kata Damar pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada Maharani. "Di tengah kota. Demi menghentikan satu orang sampai ke ruangan itu."
"Ya."
"Itu bukan tindakan orang yang merasa menang." Damar menegakkan tubuh. "Itu tindakan orang yang putus asa. Mereka tidak menyerangku karena aku lemah. Mereka menyerangku karena aku berbahaya buat mereka."
Maharani menatapnya. Sesuatu seperti hormat melintas di matanya. "Jadi?"
"Jadi aku bersaksi hari ini juga," kata Damar. "Karena kalau aku tidak masuk ke ruangan itu sekarang, mereka akan tahu serangan tadi berhasil — bukan membunuhku, tapi membungkamku. Dan aku tidak akan memberi mereka itu."
Berita serangan itu menyebar lebih cepat dari sidangnya sendiri. Sebelum tengah hari, video dari kamera ruko di perempatan sudah beredar: truk yang menutup jalan, motor yang mengepung, mobil yang menerobos. Publik melihatnya. Dan untuk pertama kalinya, ribuan orang yang tadinya menganggap kasus ini hanya urusan orang kaya di bursa, mulai bertanya: siapa yang sebegitu takutnya pada seorang analis muda, sampai berani menyerangnya di jalan raya?
Pertanyaan itu, Damar tahu, jauh lebih berbahaya bagi musuhnya daripada peluru mana pun.