Serangan Leon jauh lebih kuat dari sebelumnya, auranya berwarna hitam pekat.
“Drayven, hati-hati!” teriak Sylva dari pinggir arena.
Drayven menghindari serangan bertubi-tubi, sambil menganalisis situasi.
Leon bukan dirinya sendiri. Mereka telah menggunakan sihir terlarang untuk meningkatkan kekuatannya.
Drayven menghela napas.
Jika ia ingin menang, ia harus melawan dengan serius.
Leon meluncurkan bola api hitam yang menghancurkan sebagian arena.
Namun, sebelum bola api itu bisa menyentuhnya, Drayven mengangkat tangannya.
“Inferno Dragona!”
Api emas menyelimuti tubuhnya, membentuk wujud naga raksasa di belakangnya.
Seluruh arena terdiam.
Aura Raja Naga telah bangkit.
Leon menyerang lagi, tapi kali ini Drayven tidak mundur.
Dengan satu tebasan sihir api, ia menetralkan energi kegelapan yang mengendalikan Leon.
BOOM!
Leon jatuh tak sadarkan diri.
Duel selesai.
Drayven menoleh ke arah Profesor Aldric, yang tampak terkejut di tribun.
Aku tahu rahasiamu sekarang.
Dan aku akan menghancurkan organisasimu.
Setelah duel, Drayven, Sylva, dan Kael berkumpul di asrama.
Drayven membuka jurnal yang ia ambil dari kantor Aldric.
Di halaman terakhir, ada sebuah catatan yang membuatnya semakin yakin.
"Eksperimen berikutnya akan dilakukan di Ruang Bawah Tanah Akademi."
Drayven menatap mereka berdua. “Kita harus menghentikan ini sebelum lebih banyak orang menjadi korban.”
Sylva mengangguk. “Katakan saja apa yang harus kita lakukan.”
Kael mengepalkan tinjunya. “Aku sudah muak dengan mereka. Ayo kita akhiri ini.”
Drayven tersenyum tipis.
Perang bayangan telah dimulai.
Dan kali ini, Raja Naga akan memburu mereka.