Drayven menutup jurnal itu dan menyelipkannya ke dalam jubahnya. Mereka keluar dari ruangan tepat sebelum pintu terbuka.
Dari balik bayangan, mereka melihat Profesor Aldric masuk dengan seorang pria berjubah hitam.
Drayven menahan napas.
“Eksperimen berikutnya harus segera dimulai,” kata pria berjubah itu.
Profesor Aldric mengangguk. “Ya. Kita akan menguji subjek baru dalam duel akademi besok.”
Drayven menatap Sylva.
Mereka akhirnya menemukan petunjuk besar.
Keesokan harinya, suasana akademi dipenuhi antusiasme. Hari ini adalah hari duel akademi, di mana para murid akan bertarung satu sama lain untuk menunjukkan kemampuan mereka.
Namun, bagi Drayven, ini bukan sekadar duel biasa.
Ia tahu eksperimen organisasi bayangan akan dimulai hari ini.
Saat namanya dipanggil, Drayven melangkah ke arena. Lawannya? Leon Ravengard, salah satu murid terkuat di akademi.
Namun, ada sesuatu yang aneh.
Tatapan Leon kosong, seperti seseorang yang dikendalikan.
Drayven langsung sadar—Leon adalah subjek eksperimen mereka.
Duel dimulai, dan dalam sekejap, Leon menyerang dengan kekuatan yang tidak biasa.
BOOM!
Serangan Leon jauh lebih kuat dari sebelumnya, auranya berwarna hitam pekat.
“Drayven, hati-hati!” teriak Sylva dari pinggir arena.
Drayven menghindari serangan bertubi-tubi, sambil menganalisis situasi.
Leon bukan dirinya sendiri. Mereka telah menggunakan sihir terlarang untuk meningkatkan kekuatannya.
Drayven menghela napas.
Jika ia ingin menang, ia harus melawan dengan serius.