Lingkaran tidak berbunyi apa-apa ketika menutup. Ia hanya kembali ke titik awalnya dan diam di sana, seolah-olah tidak pernah ke mana-mana.
Beberapa waktu setelah trofi nasional itu mulai mengumpulkan debu pertamanya di meja makan, balai desa kembali berisik di hari Sabtu. Kursi plastik ditata berbaris. Papan demonstrasi tua yang engselnya berderit berdiri di depan. Ada spanduk kecil yang dicetak seadanya, ada pengeras suara yang suaranya pecah, ada ibu-ibu berjualan gorengan di halaman—turnamen antar desa, hadiahnya tidak seberapa, tapi seisi kampung datang seolah ini kejuaraan dunia.
Di papan satu, di partai final, duduk Salma.
Anak itu sudah berbeda dari anak yang dulu pertama kali masuk kelas balai desa dengan seragam kebesaran dan kancing lepas sebelah. Ia masih kecil, masih harus mencondongkan badan untuk menjangkau kotak-kotak yang jauh, tapi caranya duduk sudah berubah—tenang, dua tangan di pangkuan, mata yang membaca papan seperti membaca halaman yang ia hafal. Pak Sastro mengajarinya akhir permainan sebelum pembukaan, sama seperti dulu mengajari Galih, dan hasilnya aneh sekaligus masuk akal: Salma justru paling berbahaya ketika bidak di papan tinggal sedikit, ketika anak-anak lain mulai bosan dan asal melangkah—di sanalah ia menghitung, pelan, dalam, tanpa bisa diganggu.
Lawannya sore itu anak dari kecamatan, dua tahun lebih tua, datang dengan pelatih bayaran dan map plastik berisi catatan garis-garis pembukaan. Anak itu main rapi, cepat, dari hafalan—dan sampai babak final tidak ada yang sanggup memaksanya berpikir. Sampai ia bertemu Salma.
Partai itu sendiri berjalan seperti dua musim. Empat belas langkah pertama milik anak kecamatan sepenuhnya: rapi, cepat, dari buku, bidak-bidak putih berdiri persis di kotak-kotak yang diajarkan map plastik itu. Salma tidak melawan dengan hafalan—ia tidak punya, dan Pak Sastro tidak pernah mengizinkan muridnya berutang pada hafalan. Ia merapatkan barisan, menukar apa yang perlu ditukar, dan menunggu. Membiarkan hafalan lawan habis sendiri. Karena hafalan, seperti napas orang berlari, selalu habis. Di langkah kesembilan belas, untuk pertama kalinya sore itu, anak kecamatan itu berpikir lebih dari satu menit. Di langkah kedua puluh empat, pelatih bayarannya di tepi ruangan berhenti mencatat. Dan di situlah, Galih tahu, partai yang sebenarnya baru dimulai—partai yang tidak bisa dibeli dalam map plastik.
Galih menonton dari kursi penonton, baris ketiga. Di pangkuannya ada koran terlipat yang sejak tadi tidak ia buka. Ia baru menyadarinya di tengah partai—bahwa ia membawa koran itu dari rumah tanpa berpikir, melipatnya persis seperti dulu Pak Sastro melipat korannya, dan memangku koran yang tidak pernah benar-benar dibaca ternyata adalah cara menenangkan tangan sendiri saat menonton. Galih hampir tertawa. Ada hal-hal yang menular tanpa perlu diajarkan.
Pak Sastro duduk di sebelahnya, tangan bersedekap, diam. Lebih dari dua puluh tahun lelaki ini menonton dari kursi-kursi seperti ini, dan baru sekarang Galih paham apa yang selama itu ditontonnya: bukan partai, bukan hasil—melainkan apakah papan masih diperlakukan sebagaimana mestinya.
Di langkah-langkah akhir partai final itu, balai desa berubah hening. Pengeras suara dimatikan. Bahkan penjual gorengan berhenti menggoreng. Karena posisi di papan demonstrasi telah menjadi sesuatu yang bahkan orang yang tidak bisa main catur pun bisa merasakannya: tegang, tajam, satu langkah dari patah.
Salma, dengan hitam, berada di persimpangan yang Galih kenali sampai ke tulang. Ada langkah aman di depannya—mundur, rapatkan barisan, main panjang, mungkin remis, mungkin kalah pelan-pelan. Dan ada langkah yang lain: sebuah pengorbanan, kuda ditumbalkan di kotak yang tampak gila, membuka garis yang kalau benar menang, kalau keliru satu saja hancur semua. Galih sudah menghitungnya dari kursinya. Ia tahu jawabannya. Tapi jawaban dari kursi penonton tidak ada artinya—papan tidak pernah menilai orang yang menonton.
Tangan Salma bergerak ke arah papan.
Lalu menggantung di sana.
Jari-jari kecil itu berhenti di udara, tepat di atas kuda, di bawah lampu balai desa yang kuning dan berdengung—dan waktu tiba-tiba berputar jauh ke belakang, ke gedung olahraga ibu kota yang dingin, ke jam yang menunjukkan detik-detik terakhir, ke sebuah tangan lain yang dulu menggantung persis seperti itu di antara keselamatan dan kebenaran. Galih mendengar dirinya menahan napas. Seisi balai desa menahan napas. Ia teringat Salma pernah bertanya, dulu, saat tutup botol gajah itu naik ke kotak kaca: kalau jimatnya sudah pensiun, Mas Galih pakai apa kalau takut? Waktu itu ia tidak menjawab, karena tidak tahu. Sekarang, di kursi penonton, ia tahu jawabannya—tidak pakai apa-apa. Takut tidak perlu diganti apa-apa. Takut cuma perlu ditemani sampai tangan selesai menghitung.
"Papan itu jujur," bisik Galih, nyaris pada dirinya sendiri.
Di sampingnya, Pak Sastro tidak menoleh. Tapi lelaki tua itu mengangguk, sangat pelan, seperti orang mengamini doa.
Dan tangan kecil itu turun.
Kuda berpindah ke kotaknya. Pengorbanan dimainkan. Anak kecamatan itu mencondongkan badan, lama, menghitung—dan Galih sudah tahu apa yang akan ia temukan, karena garis itu benar, garis itu selalu benar, garis itu hanya menunggu orang yang cukup berani mempercayainya di tempat yang gelap. Lawan menjawab. Salma membalas tanpa jeda, langkah demi langkah, seperti orang berjalan pulang di jalan yang sudah ia hafal gelap-gelapnya—dan Galih tersenyum di kursinya, karena ia mengenali jalan itu, ia pernah tinggal di sana, dan sekarang ada anak lain yang tahu jalan pulang dari belantara.
Bertahun-tahun lalu ia mengira lingkaran itu menutup di tangannya sendiri—di babak penentu, di udara dingin, di satu langkah yang menentukan siapa dirinya. Ternyata tidak. Lingkaran itu tidak menutup di tangan Galih. Ia menutup di sini, di tangan anak lain, di balai desa yang engselnya berderit, di bawah lampu yang kuning—dengan Galih di kursi penonton, memangku koran yang tidak dibacanya, menjaga dari jauh satu-satunya hal yang tidak pernah bisa dicuri dari siapa pun.
Di depan sana, jam berdetak. Papan enam puluh empat kotak itu menunggu langkah berikutnya, sejujur yang selalu dijanjikannya, untuk anak-anak yang masih akan datang.
TAMAT