Bram menarik napas berat. Mengambil HP-nya dari tangan Lara dengan gerakan yang bukan terburu-buru tapi tidak juga santai. Gerakan seseorang yang sudah menyiapkan jawaban tapi tidak pernah berharap harus memberikannya.
"Lara. Itu... itu kerja yang baru saya pindah. Cuma istilah perusahaan logistik internasional. 'Identitas' itu nama produk—kode untuk pengiriman barang yang lewat regulasi tertentu. 'Safehouse' itu nama gudang—kami pakai istilah itu untuk penyimpanan barang sensitif. Kode internal."
Lara menatap Bram.
"Mas. Sumpah?"
"Sumpah, Lara."
"Mas. Anda tahu—kalau saya google istilah-istilah itu, hasil pertamanya adalah operasi intelijen?"
Bram menelan ludah. Tangan kanannya, yang memegang HP, sedikit gemetar.
"Lara. Saya tahu istilah-istilah itu juga dipakai di konteks lain. Tapi di kantor saya, ada konteks logistik. Bukan intelijen."
"Mas."
"Lara. Saya minta tolong. Percaya saya."
Lara menarik napas.
"Mas. OK."
Tapi Lara tidak yakin. Sama sekali tidak yakin. Dia bilang OK karena dia butuh waktu untuk mencerna. Karena dia tidak siap untuk pertarungan malam itu, di ruang tamu rumah Bintaro yang tujuh tahun mereka tinggali, dengan Rasya tidur di kamar sebelah.
Malam itu, saat Bram tidur, Lara membuka HP-nya sendiri. Pelan. Mode senyap. Browser mode incognito—dia tidak mau ada history yang Bram bisa lihat kalau pinjam HP-nya nanti.
Search: "identitas safehouse cooldown exposure logistik"
Hasil pertama: artikel akademis tentang witness protection di Indonesia. Hasil kedua: blog tentang operasi agen rahasia. Hasil ketiga: paper sosiologis tentang military operations.
Bukan logistik. Tidak satu pun yang bicara logistik dengan kombinasi istilah seperti itu.
Lara menutup browser. Hapus history. Masih incognito tapi dia hapus untuk paranoid.
Tidur dengan jantung berdebar.
***
Pagi berikutnya, Lara berpura-pura normal. Sarapan dengan Bram dan Rasya—telur orak-arik, roti bakar, jus jeruk segar. Antar Rasya ke sekolah dengan mobil. Pulang ke rumah pukul setengah delapan.
Lalu mulai investigasi sendiri.
Lara cek nama perusahaan tempat Bram kerja—Pratama Logistic Group. Online. Website biasa. Logo profesional. Halaman "About Us" yang bicara tentang shipping internasional, network di lima belas negara, klien dari berbagai industri. Logistik tampak normal.
Tapi alamat kantor pusat di gedung yang sama dengan beberapa perusahaan lain. Lara cek satu per satu—pakai LinkedIn, pakai search engine biasa, pakai database kementerian yang dia bisa akses gratis. Tiga dari delapan perusahaan yang berbagi alamat punya kontrak dengan Kementerian Pertahanan. Dua punya CEO yang background-nya militer purnawirawan.
Lara cek LinkedIn Bram. Profil pegawai biasa. Marketing Manager di Pratama Logistic. Lulus Universitas Indonesia, jurusan Manajemen, tahun 2013. Riwayat kerja: Pratama Logistic, delapan tahun. Sebelumnya: enam bulan di "Direktorat Jenderal Anggaran, Kementerian Keuangan."
Hmm. Kementerian Keuangan. Tapi cuma enam bulan.
Lara cek alumni teman Bram di kampus dulu. Bram pernah cerita beberapa nama—teman dekatnya saat kuliah. Lara cek satu-satu di LinkedIn.
Beberapa kerja di Pratama. Beberapa kerja di perusahaan logistik lain. Dan dua nama—dua nama dari empat sahabat dekat Bram di kuliah—kerja di Badan Intelijen Nasional. Salah satu publik LinkedIn-nya bahkan terbuka dengan title "Senior Analyst, BIN."
Lara duduk di sofa. Memikirkan.
Bram pernah kerja sebentar di pemerintahan setelah lulus kuliah. Tapi cuma enam bulan—itu yang dia bilang ke Lara, tujuh tahun lalu, saat mereka pertama kenal di pernikahan teman. Lalu pindah ke swasta. Lara pikir cerita itu sudah lewat.
Kenapa sekarang Bram di "perusahaan" yang teman-teman kuliahnya kerjakan di BIN, yang kantor-nya di gedung yang sama dengan tiga perusahaan kontraktor Kementerian Pertahanan?
Lara cek satu hal lagi. Buka Google Maps. Ketik alamat kantor Bram di Sudirman. Lihat foto street view yang pernah Lara abaikan ratusan kali saat lihat lokasi-lokasi lain di Jakarta.
Gedung biasa. Gedung perkantoran 30 lantai yang kelihatan profesional. Tapi pintu masuk—di street view yang Lara zoom in—ada satpam berseragam yang tidak biasa. Tidak satpam SCBD-style yang Lara kenal dari pengalaman datang ke kantor Bram beberapa kali untuk acara keluarga. Satpam yang pakai earpiece. Satpam yang berdiri tegak dengan postur militer. Satpam yang... Lara tidak bisa namai. Tapi terlihat lebih serius.
Lara menelepon ibunya. Pukul sebelas pagi. Dengan tangan yang gemetar.
"Bu."
"Lara. Ada apa, sayang?"
"Bu. Saya butuh ngobrol. Bisa saya datang sekarang?"
"Sekarang? Lara, ini hari Senin pagi. Rasya sekolah?"
"Iya, Rasya sekolah. Saya cuma butuh... butuh ibu. Sebentar."
Ibu Lara diam tiga detik—tiga detik yang sama dengan hening Bram di telepon enam hari lalu.
"Lara. Iya. Datang. Saya tunggu."
Lara kunci rumah. Naik mobil. Innova putih yang sudah delapan tahun di garasi. Ke Bekasi, lewat tol dalam kota.
Sampai rumah ibu pukul sebelas tiga puluh pagi. Ibu Lara membuka pintu. Wajahnya bingung—Lara hampir tidak pernah datang dadakan ke rumahnya. Selalu janjian dulu.
"Lara. Kau pucat. Apa yang terjadi?"
Lara duduk di sofa ibunya. Sofa kain bunga yang sudah dua puluh tahun ada di ruang tamu rumah keluarga Lara.
Lalu menangis. Pertama kalinya dalam tujuh tahun.
"Bu. Saya pikir... saya pikir saya tidak kenal Bram."