Lima hari berlalu. Lara tidak menanyakan tentang HP lagi.
Bram normal. Pulang jam delapan setiap hari. Main dengan Rasya di lantai ruang tamu—tradisi mereka sebelum makan malam, di mana Rasya akan menyusun balok lego di lantai dan Bram akan berperan sebagai naga raksasa yang menghancurkan bangunan Rasya. Makan malam bersama. Tidur dengan tangan di pinggang Lara seperti tujuh tahun terakhir.
Tapi Lara mulai memperhatikan.
Bram pakai HP-nya—yang Lara tahu, iPhone hitam yang dia ganti setiap dua tahun—untuk semua aplikasi. WhatsApp keluarga. Instagram (akun yang jarang posting tapi rutin scroll). Tokopedia. Aplikasi bank.
Tapi setiap kali Bram di kamar mandi, atau di teras untuk merokok pipa kecilnya yang dia mulai tujuh tahun lalu (yang Lara izinkan asal di luar rumah), dia bawa HP yang berbeda. HP tipis hitam. Bukan iPhone yang Lara kenal. HP Android murah, layar yang lebih kecil, casing yang lebih plastik.
Lara melihatnya beberapa kali. Sekali Senin pagi saat dia bangun lebih awal dari biasanya untuk ke toilet, dia melihat Bram di teras dengan HP itu. Sekali Rabu malam, saat Bram pikir Lara sudah tidur, dia ke kamar mandi dengan HP itu di tangan.
Lara menyimpan dalam diam. Menulis di buku catatan kecil yang dia simpan di laci toko online-nya—catatan yang tampak seperti list inventory, tapi sebenarnya catatan tentang gerak-gerik suaminya.
Hari Sabtu, Lara mengajak Bram makan siang ke rumah ibu Lara di Bekasi. Kunjungan rutin—mereka biasanya ke Bekasi sekali sebulan, kadang dua. Rasya senang ke rumah neneknya karena ada kucing tetangga yang Rasya bisa main.
Di mobil, dalam perjalanan pulang, dengan Rasya tertidur di kursi belakang setelah dua jam main dengan kucing, Lara akhirnya bertanya:
"Mas Bram."
"Iya."
"Saya... saya melihat Anda pakai HP lain. Tipis. Hitam."
Bram diam beberapa detik. Tangan di setir mobil Innova mereka. Mata di jalan tol Cikampek yang macet sedang.
"Lara. Itu HP kerja yang saya bilang minggu lalu."
"Mas. Saya tidak pernah lihat Anda pakai HP kerja sebelum minggu lalu. Tujuh tahun nikah."
"Saya... saya baru dipindah ke departemen baru. Yang lebih sensitif. Saya mulai dipake HP kerja minggu lalu."
Lara menatap suaminya yang mengemudi.
"Mas. Anda... yakin?"
Bram menelan ludah. Lara melihat jakun-nya bergerak.
"Lara. Saya yakin."
"Mas. Boleh saya lihat HP-nya?"
Bram berhenti di lampu merah di pintu tol. Menatap Lara untuk pertama kali sejak percakapan dimulai.
"Lara. Saya... saya tidak boleh. Itu kebijakan kantor."
"Kebijakan kantor mana yang melarang istri lihat HP kerja?"
"Lara—"
"Mas. Saya istri Anda. Tujuh tahun. Saya tidak pernah memeriksa HP Anda. Tujuh tahun saya tidak tahu password iPhone Anda dan saya tidak pernah tanya. Kalau saya minta lihat HP kerja Anda sekarang, ada alasan."
Bram kembali fokus ke jalan saat lampu hijau. Tapi gerakan-nya kaku sekarang—seperti seseorang yang lupa cara mengemudi natural karena terlalu sadar diri.
"Lara. Saya... saya tidak bisa. Itu HP kantor."
"Mas. Anda sembunyi sesuatu?"
"Lara. Tidak."
"Mas Bram. Sumpah?"
Hening. Tiga detik. Empat. Lima.
"Lara. Saya tidak bisa sumpah karena itu HP kantor dan saya tidak boleh memberikan."
Lara menatap pria yang dia menikahi tujuh tahun. Pria yang minggu lalu tertawa di restoran Italia Senopati. Pria yang mencium kening anaknya tiap malam sebelum tidur.
Yang sekarang... berbohong padanya.
"OK, Mas."
Sisa perjalanan pulang dalam diam. Tol Cikampek yang biasanya Lara isi dengan playlist akustik favoritnya, hari itu tanpa musik. Cuma suara mesin Innova dan napas Bram yang terlalu hati-hati.
Rasya—di kursi belakang—tidur, untungnya. Tidak mendengar.
Sampai di rumah Bintaro, Bram menggendong Rasya ke kamar. Lara langsung ke dapur. Mulai memasak makan malam—tumis sayur dengan tempe, masakan paling sederhana yang dia bisa lakukan tanpa harus berpikir. Tidak bicara.
Saat Bram kembali dari kamar Rasya, dia berdiri di pintu dapur. Lara tahu dia di sana tanpa menoleh. Tujuh tahun mengenal seseorang membuat tubuh Anda merespons kehadiran mereka tanpa harus melihat.
"Lara."
"Iya, Mas."
"Sayang. Anda... Anda terganggu."
"Iya, Mas."
"Saya... saya akan tunjukkan HP kerja saya. Setelah Rasya tidur. Tidak ada apa-apa di situ."
Lara berhenti memasak. Menatap Bram.
"Mas. OK."
Pukul sembilan malam, Rasya tidur. Bram dan Lara di ruang tamu. TV mati. Lampu utama yang dimatikan, hanya lampu sudut yang menyala.
Bram mengeluarkan HP hitam tipis dari tasnya. Buka kunci dengan password yang Lara tidak lihat angkanya—Bram menutupi dengan tangan kiri saat tangan kanan mengetik. Memberikan ke Lara.
Lara buka. Layar utama HP yang minimalis—tidak ada wallpaper menarik, hanya warna hitam polos:
- WhatsApp dengan beberapa kontak nama satu huruf: "K", "M", "T", "B"
- Email kerja dengan domain yang Lara tidak kenal
- Aplikasi VPN
- Aplikasi enkripsi yang Lara baru pertama kali lihat
- Tidak ada foto. Tidak ada media sosial. Tidak ada Tokopedia. Tidak ada Spotify.
Lara membuka WhatsApp. Kontak "K". Membaca pesan-pesan terbaru.
Pesan-pesan tentang gudang. Tentang inventory. Tentang shipping ke alamat-alamat yang Lara tidak kenal—Surabaya, Medan, Singapura.
Sebagian besar dalam bahasa Inggris. Sebagian kode angka yang Lara tidak mengerti.
"Bram. Kantor Anda... apa kantor pengiriman?"
"Ya, Lara. Logistik internasional."
Lara membuka kontak "M".
Pesan dari "M":
*"Bram. Identitas yang dimaksud sudah dipindah ke safehouse Surabaya."*
*"Bram. Jangan kontak orang itu lagi sampai cooldown selesai."*
*"Bram. Risiko exposure tinggi minggu ini."*
Lara menelan ludah.
"Identitas". "Safehouse". "Cooldown". "Exposure".
Ini... bukan perusahaan logistik biasa.
Lara mengangkat wajah ke Bram.
"Mas. Anda... Anda kerja di mana sebenarnya?"