Ruang rapat kantor kabupaten dipenuhi kursi yang tidak biasanya penuh sebegini. Wening duduk di barisan depan, di antara dr. Larasati dan Hendra, menghadap meja panjang tempat perwakilan Kementerian Kesehatan duduk berdampingan dengan kepala dinas kesehatan provinsi yang baru. Di belakang mereka, spanduk putih bertuliskan "Konferensi Pers: Penetapan Nama Resmi Penyakit" masih agak miring, belum sempat diluruskan panitia. Kamera-kamera sudah berjajar di sisi ruangan, lensa-lensa hitam yang lapar akan satu kalimat yang bisa dijadikan judul.
"Kami mengusulkan penamaan sementara untuk memudahkan komunikasi publik," kata perwakilan kementerian, seorang pria berkacamata yang belum genap sebulan menjabat menggantikan pejabat lama. Ia membuka map tipis di depannya. "Virus Mraggen. Sederhana, mudah diingat, dan langsung mengarah ke lokasi kejadian sehingga masyarakat tahu daerah mana yang perlu diwaspadai."
Ruangan riuh sebentar. Seorang wartawan di barisan tengah sudah menulis di buku catatannya sebelum kalimat itu selesai diucapkan.
Wening merasakan sesuatu mengeras di dadanya, sesuatu yang sudah lama ia kenali—perasaan yang sama saat ia mendengar Camat Sudrajat dulu menyebut angka-angka di papannya "terlalu menakutkan untuk investor". Kali ini bukan angka yang dipertaruhkan, melainkan nama. Dan nama, ia tahu, akan hidup jauh lebih lama daripada wabah itu sendiri.
"Kalau boleh saya tanggapi," katanya, berdiri sebelum sesi tanya-jawab resmi dibuka. Beberapa kamera langsung berputar ke arahnya. "Virus ini akan disebut begitu bukan hanya di koran hari ini. Ia akan disebut begitu di buku pelajaran anak-anak Ngepoh dan Karangsari lima puluh tahun lagi. Orang yang lahir di Mraggen, yang tak pernah menderes legen atau masuk gua sekalipun, akan ditanya di kota lain: kamu dari daerah virus itu, kan?"
"Itu justru bentuk kewaspadaan," sela perwakilan kementerian, "bukan hukuman."
"Bagi yang menetapkan nama, mungkin begitu," jawab Wening. "Bagi yang menyandangnya seumur hidup, itu cap. Bapak tidak akan pulang ke rumah membawa nama itu. Warga Mraggen akan."
Dr. Larasati mengangkat tangan, dan pria berkacamata itu mempersilakan dengan anggukan yang setengah enggan. "Sejak 2015, pedoman internasional penamaan penyakit baru sudah melarang penggunaan nama tempat, nama orang, spesies hewan, atau istilah budaya tertentu," katanya, suaranya tenang seperti biasa ketika membacakan hasil laboratorium. "Bukan karena alasan estetika. Karena sejarah sudah mengajarkan: begitu nama tempat menempel pada wabah, tempat itu ditinggalkan pedagang, dijauhi calon menantu, dicoret dari peta wisata—bertahun-tahun setelah wabahnya sendiri sudah tak ada."
"Lalu apa usul Saudari?" tanya kepala dinas provinsi, nadanya sedikit tajam, seperti orang yang merasa rapat ini sudah cukup lama. "Publik butuh nama yang mudah diingat. Kode ilmiah sepuluh digit tidak akan pernah jadi headline."
Hendra, yang duduk di sebelah Wening, akhirnya angkat bicara. Suaranya lebih pelan dari biasanya, tapi tak gemetar. "Saya orang Karangsari. Adik saya salah satu yang meninggal karena penyakit ini." Ruangan mendadak diam. "Kalau nanti orang menyebutnya virus Mraggen, itu berarti nama kampung saya, nama tempat saya menguburkan adik saya, akan selamanya jadi kata lain untuk penyakit. Saya tidak mau adik saya diingat sebagai bagian dari sesuatu yang membuat orang takut menyebut nama rumahnya sendiri."
Tidak ada yang membantah setelah itu. Dokter Bagas, yang duduk di ujung barisan mewakili Puskesmas Mraggen, menambahkan dengan nada klinis yang justru terasa lebih tajam karena kesederhanaannya. "Saya yang merawat pasien-pasiennya. Saya bisa katakan: penyakit ini tidak peduli dari kecamatan mana asalnya. Ia menyebar lewat legen yang dibiarkan terbuka dan air yang tercemar, di mana pun itu terjadi. Menamainya dengan nama tempat hanya membuat orang berhenti waspada di tempat lain, karena mengira bahayanya sudah dipagari di sini."
Perwakilan kementerian menghela napas, membolak-balik kertas di map-nya seolah mencari jalan tengah yang belum tertulis. "Jadi usulan konkretnya apa?"
Wening sudah menyiapkan ini sejak semalam, di meja kerja sempit Puskesmas, ditemani dr. Larasati lewat telepon dan Yuni yang menyalin ulang catatan-catatan lama Ningsih untuk terakhir kalinya sebelum diserahkan ke arsip resmi. "Untuk keperluan ilmiah dan pencatatan internasional, biarkan tim taksonomi virus memberi kode berdasarkan karakteristik genetiknya—itu urusan laboratorium, bukan urusan kampung. Untuk komunikasi publik, kami mengusulkan nama netral yang tidak menunjuk tempat, orang, atau hewan." Ia berhenti sebentar, memilih kata yang sudah dipertimbangkan matang-matang bersama Yuni malam sebelumnya. "Semburat."
"Semburat?" ulang kepala dinas, seperti mencicipi kata itu.
"Semburat cahaya subuh, sebelum matahari benar-benar terbit," jawab Wening. "Warga di sini menyebut waktu penderes turun dari pohon aren sebagai waktu semburat—bukan siang, bukan malam, batas yang mudah disalahpahami. Itu menggambarkan penyakit ini dengan jujur: sesuatu yang muncul di celah yang jarang diperhatikan orang. Tapi kata itu sendiri tidak menuding siapa pun. Tidak ada kampung bernama Semburat yang akan menanggung stigma."
Hening sejenak, hanya suara kipas angin langit-langit dan derak kursi. Lalu perwakilan kementerian menutup map-nya, seolah keputusan itu lebih mudah diambil daripada yang ia kira. "Akan kami bawa ke rapat komite penamaan pusat. Tapi saya rasa—" ia melirik para wartawan yang sudah menunggu kutipan, "—Virus Semburat lebih mudah ditulis di judul daripada yang saya kira."
Ketika ruangan mulai bubar dan lampu kamera dipadamkan satu per satu, Wening menoleh ke peta di ingatannya—peta tiga warna yang masih tergantung di dinding Puskesmas Mraggen, dengan tulisan tangan di sudut atas yang selama berbulan-bulan hanya berbunyi Wabah Tanpa Nama. Ia membayangkan tangannya sendiri nanti mencoret kata itu, menuliskan yang baru di atasnya, bukan untuk menutup luka, tapi supaya luka itu, ketika dikenang, tidak lagi menunjuk ke satu kampung sebagai kesalahannya.