Angin pagi di mulut gua itu masih berbau sama—tanah basah, kapur, dan sedikit amonia dari timbunan guano yang mengering di sudut-sudut batu—tetapi Wening melihat gua itu sekarang dengan mata yang berbeda dari saat pertama ia berdiri di situ, gemetar oleh rasa ngeri sekaligus takjub. Dulu ia datang untuk mencari sumber. Sekarang ia datang untuk memastikan sumber itu tetap ada, hanya dijaga jaraknya dari manusia.
Tim yang berdiri di depan mulut gua pagi itu bukan lagi rombongan diam-diam dengan senter dan sarung tangan lusuh seperti dulu. Ada petugas dari kementerian lingkungan yang datang bersama tim pusat, ada Dokter Bagas yang membawa map berisi protokol kesehatan kerja, ada Hendra yang memegang papan klip berisi daftar nama, dan ada Parmin yang berdiri agak di belakang, mengawasi tumpukan bambu dan jaring yang baru diturunkan dari bak truk.
"Bukan ditutup mati," kata Wening, mengulang kalimat yang sudah ia ucapkan berkali-kali dalam sepekan terakhir, kepada siapa pun yang masih bertanya kenapa gua itu tak diberondong kapur atau disumpal semen seperti yang diusulkan sebagian warga yang ketakutan. "Diatur jalannya."
Petugas kementerian, seorang perempuan muda bernama Endang, menunjuk sketsa yang dibentangkan di atas kap mobil. "Zona ini," katanya, mengetuk area dekat mulut gua, "jadi zona larangan panen. Kelelawar butuh ruang gerak ke luar-masuk tanpa terganggu. Kalau kita pasang jaring rapat di situ, sama saja kita bikin mereka stres, dan kelelawar yang stres justru lebih banyak melepas virus lewat air liur dan kotorannya. Itu sudah dikonfirmasi dr. Larasati dari sampel kemarin."
Wening mengangguk. Ia ingat betul percakapan telepon dengan dr. Larasati dua malam lalu, suara perempuan itu lelah tapi tegas: membunuh atau mengusir kelelawar bukan menyelesaikan masalah, hanya memindahkannya—koloni yang tercerai-berai akan mencari gua baru, membawa virus ke tempat yang belum pernah diawasi siapa pun. Prinsip itu sudah ia yakini sejak jauh sebelum kurva melandai, sejak ia menolak seruan warga untuk membakar gua itu. Sekarang, di hadapan kenyataan yang sudah tak terbantahkan, prinsip itu punya bentuk: jaring dipasang bukan di mulut gua, melainkan lebih jauh, membatasi jalur manusia tanpa menghalangi jalur sayap.
Haji Suparlan berdiri agak jauh dari kerumunan, diapit dua orang dari dinas yang mengawasinya sejak izin usahanya dibekukan. Wajahnya tak lagi punya gestur mengancam seperti dulu; ia lebih banyak diam, menatap gua yang dulu jadi sumber kekayaannya dengan tatapan yang sulit dibaca—entah dendam, entah menyerah. Ketika Endang membacakan aturan baru soal panen sarang walet—hanya boleh dilakukan dua kali setahun, di luar musim kelahiran kelelawar, oleh pekerja bersertifikat dengan alat pelindung diri lengkap, dan hasil panen wajib melalui pemeriksaan sebelum dijual—Suparlan hanya mengangguk pelan, seperti orang yang tahu perlawanannya sudah kehabisan tempat berpijak.
"Bapak masih bisa berusaha," kata Wening kepadanya, bukan sebagai belas kasihan, tapi sebagai fakta yang perlu diucapkan agar semua orang di situ paham bahwa ini bukan pemusnahan mata pencaharian. "Tapi caranya berubah. Pekerja bapak harus lewat pelatihan dulu. Ada masker, ada sarung tangan, ada baju kerja yang tidak dipakai pulang ke rumah."
Suparlan tidak menjawab. Tapi ia tidak membantah.
Di dalam gua, cahaya senter menyusuri dinding yang basah, memperlihatkan tumpukan guano yang kini akan dikelola berbeda—bukan dikeruk sembarangan seperti dulu, melainkan dipindahkan berkala dengan alat khusus, dijauhkan dari aliran air yang mengalir ke hulu mata air Ngepoh. Hendra menunjukkan pada Bagas titik-titik yang sudah ditandai tim untuk pemasangan saluran pengalih, agar air hujan yang membawa kotoran kelelawar tak lagi menyusup ke sumber minum warga seperti yang terjadi bertahun-tahun tanpa disadari siapa pun.
"Kita juga pasang bak cuci di sini," kata Bagas, menunjuk area dekat mulut gua yang sudah dipatok bambu. "Siapa pun yang keluar dari dalam wajib cuci tangan dan kaki pakai larutan klorin sebelum menyentuh apa pun di luar. Bukan cuma buat pekerja panen. Peneliti, petugas, siapa saja."
Wening membayangkan papan pengumuman yang akan dipasang di jalan setapak menuju gua—bukan papan larangan yang menakut-nakuti, melainkan papan yang menjelaskan, dengan bahasa sederhana, kenapa aturan itu ada. Ia sudah membicarakannya dengan Yuni, yang bersemangat menyusun kalimat-kalimat itu bersama ibu-ibu kader lain, meneruskan cara Ningsih dulu menerjemahkan hal rumit jadi kalimat yang bisa dipahami tetangga sebelah rumah.
Ketika rombongan keluar dari mulut gua menjelang siang, Mbah Karto sudah menunggu di bawah pohon randu, bersandar pada tongkatnya. Ia tidak lagi datang membawa mantra atau tafsir tentang kutukan leluhur. Ia datang membawa usul yang lebih sederhana: agar upacara kecil tetap diadakan setiap kali panen dimulai, bukan untuk memohon ampun dari gua, tapi untuk mengingatkan warga bahwa gua itu bukan musuh, dan bukan pula berkah yang boleh diperas tanpa batas.
"Yang penting orang tetap ingat menjaga jarak," kata Mbah Karto, matanya menyipit menatap mulut gua yang gelap. "Bukan karena takut, tapi karena tahu."
Wening mengangguk. Di dekat pos deres yang tak jauh dari kaki bukit, para penderes legen sudah mulai memasang tutup anyaman di atas pot-pot bambu mereka, sesuatu yang dulu terasa merepotkan tapi kini dilakukan tanpa disuruh dua kali. Parmin berjalan menyusuri jalur itu, memeriksa satu per satu, mencatat di buku kecil yang sejak beberapa bulan lalu selalu ia bawa.
Dari kejauhan, koloni kelelawar masih bergantung di langit-langit gua, tak terusik, menunggu senja untuk terbang keluar mencari makan seperti yang mereka lakukan jauh sebelum ada wabah, jauh sebelum ada nama untuk penyakit yang mereka bawa tanpa pernah memintanya. Wening berdiri sejenak memandangi mulut gua yang kini dijaga pagar rendah dan papan aturan, bukan ditutup rapat, bukan pula dibiarkan seperti dulu.
Ini, pikirnya, yang paling dekat dengan benar.