Hari pasaran datang setiap lima hari sekali, dan ketika tiba, lapangan di pinggir Mraggen berubah jadi lautan suara: kambing mengembik, ayam berkokok, sapi yang gelisah, dan ratusan manusia yang menawar dengan suara keras di antara bau jerami, kotoran, dan keringat. Wening tiba pagi-pagi, sebelum puncak keramaian, dengan Hendra dan daftar nama korban di tangannya. Kalau penyakit ini melompat dari hewan ke manusia, maka tempat di mana ratusan manusia dan ratusan hewan berdesakan dalam satu hari adalah simpul yang tidak boleh ia lewatkan.
Ia bekerja seperti biasa: tidak bertanya tentang penyakit, tapi tentang kebiasaan. Ia menelusuri tiap korban dalam daftarnya dan mencocokkannya dengan pasar. Suratman, ternyata, rutin ke pasar ini menjual kambing. Cucu Mbah Painem mengangon dan kadang membantu di kandang penampungan. Bahkan Surti — yang tak datang ke hajatan — pernah membeli ayam di sini dua pekan sebelum sakit, kata suaminya ketika Wening menelepon ulang. Pelan-pelan, sebuah simpul baru terbentuk: bukan semua korban, tapi cukup banyak dari mereka, punya jejak yang melewati pasar ini.
Tapi Wening menahan dirinya, lagi, dengan disiplin yang sekarang sudah jadi kebiasaan. Pasar yang ramai akan menjebak banyak orang dalam jejaknya — yang sakit maupun yang sehat. Hampir semua orang di Mraggen pernah ke pasar; itulah masalahnya. Kalau ia cuma mencari siapa yang pernah ke pasar, ia akan menemukan semua orang, dan menemukan semua orang sama saja dengan tidak menemukan siapa-siapa. Yang harus ia cari adalah sesuatu yang lebih sempit: bukan sekadar ke pasar, tapi bersentuhan dengan hewan tertentu, di tempat tertentu, dengan cara tertentu.
Ia mulai mewawancarai para pedagang. Dari mana hewan-hewan ini datang. Apakah ada yang sakit. Apakah ada hewan yang mati mendadak belakangan ini. Pertanyaan terakhir itu membuat beberapa pedagang menutup diri — hewan mati adalah kerugian, dan kerugian adalah aib yang tak ingin diumumkan. Tapi seorang pedagang kambing tua bernama Pak Sambi, yang sudah berjualan di pasar ini sejak muda dan tampaknya lebih lelah daripada takut, akhirnya bicara.
"Memang ada yang aneh akhir-akhir ini, Bu," katanya, sambil mengusap leher kambingnya. "Beberapa ternak mati mendadak. Tidak cuma di sini. Di kandang-kandang atas, di lereng. Kambing sehat, besoknya kaku. Ada yang bilang diracun, ada yang bilang kena angin. Saya sih curiga dari pakannya."
Wening duduk di sampingnya, menjaga nada bicara seperti ngobrol biasa. "Pakan dari mana, Pak?"
"Macam-macam. Tapi yang murah belakangan ini, yang banyak dipakai orang lereng..." Pak Sambi menggosok jarinya, mengingat. "Barang dari gua, Bu."
Wening menahan diri untuk tidak langsung condong ke depan. "Barang dari gua?"
"Iya. Di lereng utara ada gua, tempat orang ambil sarang walet. Mahal itu, sarang walet, buat dijual ke kota. Nah, di gua itu banyak juga kelelawarnya, ribuan. Kotorannya menumpuk tebal di dasar gua. Orang ambil kotoran itu, dikeringkan, dijual buat pupuk dan campuran pakan ternak. Murah. Banyak yang pakai belakangan ini karena pupuk pabrik mahal." Ia mengangkat bahu. "Saya sih tidak pakai. Tapi orang lereng banyak."
Wening mencatat dengan tangan yang ia jaga tetap tenang, tapi di dalam, potongan-potongan mulai bergeser dan saling mendekat. Hewan yang mati mendadak di lereng. Pakan dan pupuk dari kotoran gua. Gua yang penuh kelelawar. Dan korban-korban yang tinggal di lereng, mengambil air dari sumur-sumur di cekungan tempat aliran dari lereng berkumpul. Sebuah gambar mulai timbul, masih kabur, tapi cukup nyata untuk membuat tengkuknya dingin.
Ia memaksa dirinya berhati-hati. Ini menggoda — terlalu menggoda. Kelelawar adalah tersangka klasik untuk penyakit yang melompat dari hewan; otaknya ingin langsung menarik garis lurus dari gua ke kuburan. Tapi ia ingat peringatan Rosita, dan ia ingat luka lamanya. Garis lurus yang ditarik terlalu cepat adalah garis yang sering keliru. Ia belum tahu apakah penyakit ini benar-benar lewat kotoran kelelawar, atau lewat ternak yang memakannya, atau lewat sesuatu yang sama sekali belum ia bayangkan. Ia belum tahu kenapa beberapa orang yang dekat dengan gua sehat-sehat saja, sementara beberapa yang jauh justru sakit. Anomali Surti dan Mbah Karsiyem belum sepenuhnya terjawab; air masih bagian dari cerita ini, entah bagaimana.
"Pak Sambi," katanya, "siapa yang paling tahu soal gua itu? Yang ambil sarang walet, yang ambil kotorannya?"
Pak Sambi menyebut beberapa nama, lalu menambahkan, dengan suara yang sedikit menurun, "Tapi hati-hati, Bu. Gua itu sekarang ada yang punya. Bukan orang kampung lagi. Ada yang beli hak ambil sarangnya, dijatah, dijaga. Katanya orang yang sama yang mau bikin pabrik baru itu. Jadi tidak sembarang orang boleh masuk."
Wening mengangkat kepalanya perlahan. Pabrik. Kata yang sama yang ditelepon pejabat itu beberapa malam lalu — yang ia minta agar Wening tak membesar-besarkan demi investasi. Dan sekarang nama yang sama muncul lagi, melekat pada gua yang mungkin jadi titik awal seluruh wabah ini.
Ia belum bisa menarik garis itu. Ia menolak menariknya sekarang, di tengah hiruk pikuk pasar, hanya karena dua kata yang sama muncul di dua tempat. Kebetulan nama bukan bukti rantai. Tapi ia mencatatnya, melingkarinya, dan menyimpannya. Lalu ia menatap ke arah utara, ke punggung bukit gelap tempat — kalau Pak Sambi benar — sebuah gua menganga dengan ribuan kelelawar di atapnya dan kuburan kotoran di dasarnya. Besok, ia akan ke sana. Bukan untuk membuktikan apa yang sudah ia duga. Tapi untuk melihat dengan matanya sendiri di mana, persisnya, dunia hewan dan dunia manusia saling bersentuhan.