Sampel berangkat pukul lima pagi, dititipkan pada Parmin dengan kotak pendingin yang sudah diisi ulang esnya dan sebuah surat pengantar yang Wening tulis tiga kali sampai tiap kolomnya benar. Ia menatap mobil itu menghilang di tikungan dengan perasaan yang sudah ia kenal: melepas sesuatu yang sangat berharga ke tangan jalan yang tidak peduli.
Lalu hujan datang, lebih deras dari hari-hari sebelumnya, turun tanpa henti sepanjang pagi. Pukul sepuluh, ponsel Wening bergetar. Parmin, suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan dan sesuatu yang lebih buruk.
"Bu, jalan di Kilometer Tujuh longsor. Tanah turun, nutup jalan total. Mobil tidak bisa lewat. Saya di sini, antri sama yang lain. Belum tahu kapan dibuka."
Wening menutup matanya dan berhitung cepat di kepala. Es di kotak pendingin akan bertahan, kalau beruntung, sepuluh sampai dua belas jam dalam cuaca dingin ini. Sampel darah yang menghangat akan kehilangan nilainya; kuman yang ingin ia tangkap bisa mati, atau pecah, sampai tak terbaca lagi oleh lab. Sampel yang rusak sama dengan tidak ada sampel sama sekali — berhari-hari kerja, dan lebih buruk lagi, berhari-hari waktu, hilang. Rantai dingin yang putus adalah salah satu cara paling sunyi sebuah penyelidikan mati.
"Parmin, dengar saya," katanya, sudah berdiri, sudah menyambar jaket. "Jangan ke mana-mana. Jaga kotaknya. Jangan dibuka. Saya menyusul."
Hendra menatapnya seperti ia gila. "Bu, ke Kilometer Tujuh? Jalan longsor, hujan begini."
"Kalau sampelnya rusak, kita mulai dari nol lagi. Lima hari minimal. Berapa orang lagi yang sakit dalam lima hari?" Wening sudah memasukkan kotak es cadangan puskesmas — untungnya ada, untuk vaksin — ke dalam tas. "Saya butuh es, garam kalau ada, dan ojek yang berani."
Mereka menemukan tukang ojek bernama Sukar yang, demi uang dan sedikit demi rasa penasaran, bersedia mengantar Wening menembus hujan ke arah longsoran. Jalan itu mengerikan — lumpur, batu, air yang mengalir menyilang seperti sungai dadakan. Dua kali motor nyaris tergelincir ke jurang dangkal di sisi jalan, dan Wening memeluk tas esnya seolah itu bayi.
Di Kilometer Tujuh, antrean kendaraan berhenti di depan tumpukan tanah merah dan pohon tumbang. Parmin berdiri di sisi mobil dinas, basah kuyup, melindungi kotak pendingin dengan terpal. Wajahnya lega bercampur cemas saat melihat Wening.
"Es-nya sudah mulai mencair, Bu. Air sudah ada di dasar kotak."
Wening tidak membuang waktu untuk panik. Ia berlutut di tepi jalan, di bawah naungan terpal yang dipegangi Parmin, dan membuka kotak dengan gerakan cepat dan hati-hati. Ia mengeluarkan tabung-tabung darah dan air, memeriksa labelnya satu per satu — semua utuh, tak ada yang pecah. Lalu ia menyusun ulang seluruh isinya: es lama yang masih ada di bawah, tabung-tabung dibungkus kembali, es baru dari puskesmas di atas dan samping, dan — ini trik lama yang ia ingat dari pelatihan — ia menaburkan garam kasar yang ia bawa ke sela-sela es. Garam membuat es mencair lebih lambat dan suhunya turun lebih rendah, memberi mereka jam-jam tambahan yang berharga. Ia menyegel kotak itu rapat, lalu membungkusnya lagi dengan terpal sebagai isolasi tambahan.
"Berapa lama lagi longsorannya dibuka?" tanyanya pada seseorang yang tampak seperti petugas.
"Alat berat datang sore, Bu. Kalau hujan reda."
Sore terlalu lama. Wening menatap punggung bukit, mengingat peta di kepalanya. "Ada jalan kaki memutar? Lewat punggungan, tembus ke jalan provinsi di seberang longsoran?"
Parmin dan Sukar saling pandang. "Ada, Bu. Tapi jauh, dua jam jalan kaki, naik turun. Licin."
"Di seberang sana, kalau saya sampai jalan provinsi, ada kendaraan ke arah kota?"
"Ada angkutan. Ada yang lewat."
Maka Wening menggendong kotak pendingin itu di punggungnya seperti ransel, ditahan tali yang dipinjamkan Parmin, dan berjalan menembus hutan dan lumpur selama hampir tiga jam — lebih lama dari perkiraan karena hujan membuat tiap langkah jadi pertaruhan. Sukar menemaninya separuh jalan sampai punggungan, lalu menunjuk arah turun. Betisnya terbakar, sepatunya penuh lumpur sampai mata kaki, dan ada saat di mana ia berpikir betapa absurd ini semua — seorang epidemiolog provinsi memanggul kotak es lewat hutan demi beberapa tabung darah. Tapi ia tahu apa yang ada di dalam tabung-tabung itu: kemungkinan satu-satunya untuk memberi nama pada penyakit yang sedang membunuh orang-orang yang ia temui.
Di seberang longsoran, ia menemukan jalan provinsi dan menyetop sebuah pikap yang bersedia membawanya ke kota dengan bayaran. Sampel itu akhirnya sampai di lab provinsi malam itu, basah, lelah, tapi masih dingin. Petugas lab yang menerimanya menatap Wening — yang berlumpur dari kepala sampai kaki, dengan kotak es di punggungnya — lalu menatap kotak itu, dan tidak bertanya apa-apa. Ia hanya mengangguk dan mulai bekerja.
Hasil awal datang dua hari kemudian, lewat telepon, dari seorang teman lamanya di lab — analis bernama Rosita yang suaranya selalu tenang bahkan saat menyampaikan kabar buruk. Belum ada nama pasti, kata Rosita. Tapi mereka sudah bisa menyingkirkan beberapa tersangka. Bukan demam berdarah biasa — gambarannya tidak cocok. Bukan tifus. Pemeriksaan air dari sumur menunjukkan pencemaran bakteri tinja, ya, tapi bukan jenis yang menjelaskan perdarahan dan kematian secepat ini. Air kotor, tapi air kotor bukan pembunuhnya.
"Yang menarik," kata Rosita, "darah pasienmu menunjukkan pola yang kami lihat pada penyakit yang melompat dari hewan ke manusia. Zoonosis. Kami sedang menyempitkan ke kelompok mana. Tapi Wening — kalau ini benar dari hewan, sumurmu yang tercemar itu mungkin bukan jalur utamanya. Mungkin cuma kebetulan kotor. Kau harus cari hewannya. Cari di mana manusia dan hewan ini bersentuhan."
Wening menutup telepon dan duduk lama di ruang kerja yang berkedip-kedip itu. Air, hipotesis yang begitu rapi semalam, baru saja runtuh — atau setidaknya kehilangan tahtanya. Bukan racun di sumur. Sesuatu yang berpindah dari hewan ke manusia. Ia membuka catatannya ke halaman kosong dan menulis satu kata, lalu melingkarinya: hewan apa? Dan di bawahnya, pertanyaan yang akan menentukan langkah berikutnya — di mana orang-orang ini, yang sakit dan yang mati, bersentuhan dengan hewan yang sama?