Dua mobil double-cabin putih berhenti di halaman Puskesmas Mraggen sedikit sebelum pukul sembilan, plat merahnya masih basah oleh embun jalan tanah yang belum kering sejak semalam. Wening mendengar suara mesin itu dari kamar kosnya, dua ratus meter dari sana, karena Hendra sudah lebih dulu meneleponnya lewat HT yang seharusnya tak lagi ia pegang sejak surat skorsing turun tiga hari lalu.
"Bu Wening, mereka datang," suara Hendra pecah-pecah oleh sinyal buruk. "Kementerian. Delapan orang. Ada yang bawa cool box besar."
Ia berdiri di depan cermin retak, masih mengenakan kaus tidur, dan untuk pertama kalinya sejak diskors ia tidak tahu harus berbuat apa dengan tubuhnya sendiri. Surat itu jelas: dilarang memasuki lingkungan kerja, dilarang mengakses data dinas, terhitung sampai pemeriksaan selesai. Tapi laporan yang membuat delapan orang itu datang dari tangannya sendiri, diketik di meja dapur pukul dua pagi, dikirim lewat jalur yang tak bisa ditarik kembali.
Ia memutuskan memakai baju kerja biasa, bukan seragam. Kalau ditanya, ia akan bilang ia datang sebagai warga.
Di halaman Puskesmas, Camat Sudrajat sudah berdiri paling depan, senyumnya terlalu lebar untuk pagi sedingin itu, tangan terulur ke arah rombongan yang baru turun. Pak Broto berdiri agak di belakangnya, telepon genggam menempel di telinga, mengucap sesuatu tentang "koordinasi" kepada siapa pun di ujung sana. Tapi rombongan itu tidak menyalami dulu. Mereka menurunkan barang: kotak pendingin sampel, tas berisi alat pelindung diri, map-map berlogo Direktorat Jenderal yang belum pernah Wening lihat kecuali di kop surat.
Perempuan yang turun paling akhir, berjaket lapangan biru tua dengan lencana bertuliskan namanya sendiri di dada, langsung menyapukan pandangan ke sekeliling halaman seolah mencari sesuatu yang lebih penting daripada uluran tangan Camat.
"Selamat pagi. Saya Marwan—maaf, dr. Marwan Aditya, dari tim investigasi wabah Kementerian," katanya, menjabat tangan Camat sekilas, cepat, formalitas belaka. "Kami menerima laporan dan permintaan verifikasi lapangan tiga hari lalu. Siapa yang bisa menunjukkan saya dr. Wening Pradipta?"
Hening sesaat. Camat Sudrajat berdeham. "Dokter Wening... sedang tidak bertugas. Ada proses administratif yang sedang berjalan."
"Saya paham ada proses administratif," dr. Marwan menjawab tanpa nada menuduh, hanya datar seperti membaca formulir. "Tapi laporan yang saya bawa ini ditandatangani olehnya, dengan lampiran peta kasus, kurva epidemik, dan hasil laboratorium dari provinsi. Saya perlu bicara dengan penyusunnya, bukan dengan yang mewakilkannya."
Dari balik pagar bambu, Wening melangkah masuk. Ia tidak berencana muncul secepat itu, tapi kakinya sudah bergerak begitu mendengar namanya disebut di mulut orang asing dengan nada yang tak bisa ditawar.
"Saya Wening," katanya.
Camat Sudrajat menoleh cepat, wajahnya berubah, tapi dr. Marwan sudah melangkah menghampiri, mengulurkan tangan. "Terima kasih sudah datang. Saya tahu posisi Anda sedang rumit. Kami tidak ke sini untuk itu. Kami ke sini untuk memeriksa apakah yang Anda tulis benar."
Kalimat itu—apakah yang Anda tulis benar—terasa seperti udara yang tiba-tiba bisa dihirup lagi.
Mereka masuk ke ruang yang selama ini jadi ruang kerja Wening, tempat peta tiga warna masih menempel di dinding meski sempat nyaris raib saat sabotase dua pekan lalu. Merah untuk jalur legen, biru untuk air dan guano, kuning untuk pasar dan kontak manusia. Dr. Marwan berdiri lama di depannya, tidak bicara, matanya bergerak dari satu titik ke titik lain seperti membaca kalimat yang ditulis ulang berkali-kali.
"Ini yang Anda pakai untuk merekomendasikan penundaan Pekan Raya?" tanyanya akhirnya.
"Ini yang saya pakai untuk merekomendasikan banyak hal. Penundaan Pekan Raya hanya satu bagian," jawab Wening. Ia tidak menambah-nambahi, tidak membela diri. Hendra berdiri di sampingnya, Bagas baru datang dari ruang periksa dengan sarung tangan masih terpasang, dan di sudut pintu Yuni menggenggam map biru berisi salinan yang ia amankan sendiri sejak sabotase itu—salinan yang, ternyata, jadi satu-satunya alasan peta ini masih utuh untuk dilihat orang asing pagi ini.
Pak Broto akhirnya masuk, mencoba mengambil alih percakapan dengan nada yang biasanya berhasil melunakkan siapa saja di kecamatan ini. "Dokter Marwan, saya rasa ada baiknya kita bicarakan dulu konteksnya. Situasi di sini sensitif, menjelang acara besar, dan—"
"Pak Broto." Dr. Marwan tidak menaikkan suara, tidak juga menurunkannya. "Saya sudah baca surat Anda ke provinsi minggu lalu. Saya juga sudah baca laporan yang katanya 'dilunakkan'. Saya datang untuk memeriksa dua versi itu sekaligus, bukan cuma satu."
Untuk pertama kalinya sejak Wening mengenalnya, Pak Broto tidak punya kalimat lanjutan. Ia hanya berdiri, telepon genggamnya kini diam di saku, dan senyum yang biasa ia pakai sebagai perisai tampak seperti kain yang terlalu tipis untuk menutupi apa pun.
Dr. Marwan membuka tasnya, mengeluarkan map, lalu berbalik ke tim di belakangnya—dua orang mulai memasang alat pengukur suhu ruang penyimpanan sampel, satu orang lain membuka laptop di meja Bagas tanpa banyak bicara, seolah semua ini sudah rutin bagi mereka meski baru pertama kali menginjak Mraggen.
"Kita akan mulai dari data mentah," katanya kepada Wening, bukan kepada Camat atau Broto. "Kuesioner rumah ke rumah, catatan posyandu, hasil lab provinsi, dan riwayat kontak kenduri. Semua yang Anda punya, tanpa terkecuali. Ini bisa memakan waktu beberapa hari. Kami tidak akan merekomendasikan apa pun ke pusat sebelum kami sendiri yakin."
"Beberapa hari," ulang Camat Sudrajat, seperti menghitung berapa lama Pekan Raya masih bisa diselamatkan.
"Beberapa hari," dr. Marwan mengonfirmasi, tanpa berpaling padanya. "Dan sejak sekarang, semua akses ke lokasi—gua, sumber air, catatan dinas—melalui tim kami. Bukan melalui kecamatan."
Kalimat itu jatuh pelan di ruangan, tapi Wening merasakan bobotnya seperti batu yang akhirnya diletakkan di sisi timbangan yang selama ini kosong. Ia belum menang. Belum ada satu pun keputusan diambil, belum ada gua yang ditutup atau pasar yang dibatasi. Tapi untuk pertama kalinya sejak laporannya dikirim, orang yang berdiri di depan peta itu bukan orang yang harus ia yakinkan dengan cara memohon.
Di luar, dua mobil dinas kecamatan yang biasa mengantar Pak Broto berkeliling sudah diparkir mepet ke pagar, seolah menyingkir tanpa diminta. Wening menatap peta di dinding sekali lagi, garis merah-biru-kuning yang sudah ia susun berbulan-bulan, dan untuk sesaat membiarkan dirinya percaya bahwa peta itu, akhirnya, akan dibaca oleh mata yang tidak punya kepentingan untuk menyangkalnya.