Malam itu Puskesmas Mraggen sudah sepi ketika Wening kembali duduk di depan peta di dinding. Rapat tadi sore telah usai, dan ia tak lagi diundang duduk di meja; kursinya diganti map tebal berisi rekomendasinya sendiri, yang ditutup begitu saja oleh Camat Sudrajat sebelum sempat dibacakan penuh. Ia pulang membawa kekalahan yang tidak berbunyi—tidak ada yang membentaknya, hanya pintu yang ditutup pelan-pelan di depan mukanya.
Ia menyalakan lampu meja, membuka kembali catatan pemodelan yang dikirim dr. Larasati dua hari lalu. Angka-angka itu sudah ia hafal luar kepala, tapi malam ini ia menghitung ulang, seolah dengan mengulang ia bisa menemukan celah yang membuatnya salah. Kalau Pekan Raya tetap digelar, dan kurva tumbuh sesuai laju sepuluh hari terakhir, jumlah kasus baru dalam tiga minggu bisa berlipat delapan sampai dua belas kali. Ia menulis angka itu di kertas kosong, lalu berhenti, pena masih menempel di kertas.
Bila aku diam, berapa yang mati.
Pertanyaan itu bukan retoris. Ia sudah terbiasa menahan diri dari kalimat besar, karena kalimat besar gampang salah dan susah dipertanggungjawabkan. Tapi malam ini ia membiarkan pertanyaan itu berdiri telanjang di depannya, tanpa dibungkus istilah teknis, tanpa kurva, tanpa confidence interval. Kalau ia menerima tawaran Pak Broto—diam, lalu dipindahkan baik-baik ke provinsi dengan jabatan yang terdengar naik—paling cepat dalam sebulan ia akan duduk di kantor lain, jauh dari Mraggen, dan orang-orang di sini akan tetap datang ke Pekan Raya karena tak ada yang bilang jangan.
Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. Dokter Bagas masuk tanpa menunggu jawaban, membawa dua gelas teh yang mengepul.
"Kupikir kau belum makan," katanya, meletakkan gelas di meja, di samping tumpukan kertas. Matanya jatuh sebentar ke angka yang baru saja ditulis Wening. "Itu proyeksi Bu Larasati?"
"Delapan sampai dua belas kali lipat. Dalam tiga minggu." Wening tidak menoleh. "Dan tadi mereka menutup map itu sebelum aku selesai bicara."
Bagas menarik kursi, duduk di seberangnya. Selama bertahun-tahun ia dibesarkan oleh cara berpikir yang berbeda dari Wening—satu pasien di depan mata, satu diagnosis, satu terapi. Tapi sejak malam ia berjaga di samping adik Hendra yang tak tertolong, sesuatu di dalam dirinya telah bergeser, dan ia tak lagi bisa memandang angka di papan itu sebagai sekadar angka.
"Aku tahu bagaimana rasanya kalah di ruang rapat," katanya. "Tapi aku tidak akan biarkan kau menghadapi Pekan Raya ini sendirian, Wening. Apa pun yang kau putuskan langkah berikutnya, aku ikut."
Sebelum Wening sempat menjawab, pintu terbuka lagi. Hendra berdiri di ambangnya, masih memakai rompi surveilans yang belum dilepas sejak sore. Wajahnya lelah, tapi matanya jernih—jernih dengan cara orang yang sudah kehilangan sesuatu dan tak punya apa-apa lagi untuk ditakuti kehilangan.
"Aku dengar rapat tadi ditutup begitu saja," katanya, berdiri di dekat peta, menatap titik-titik merah dan biru yang sudah memenuhi separuh dinding. Salah satu titik itu, di dusun Karangsari, adalah rumahnya sendiri. "Bu Wening, saya sudah kehilangan adik saya karena kita semua terlambat memercayai data ini. Saya tidak mau kehilangan seribu orang lagi karena kita terlalu sopan menunggu izin."
Kalimat itu jatuh sederhana, tanpa nada dramatis, seperti orang membaca hasil laboratorium. Justru karena itu ia terasa lebih berat.
"Aku tidak memintamu ikut sampai sejauh ini, Hendra," kata Wening pelan. "Ini bisa berarti kau kehilangan pekerjaan."
"Saya sudah kehilangan yang lebih penting dari pekerjaan." Hendra menggeleng. "Kalau Ibu jalan, saya jalan."
Dari luar terdengar suara motor berhenti, lalu langkah kaki tergesa. Yuni masuk sambil membawa map plastik bening berisi salinan buku catatan Ningsih yang sudah ia fotokopi diam-diam beberapa minggu lalu, jaga-jaga andai yang asli hilang.
"Saya dengar dari Bu Kader tadi, katanya laporan Ibu ditutup di rapat," katanya, agak terengah. "Saya bawa ini—siapa tahu perlu lagi. Saya juga sudah mulai catat nama-nama yang selama ini takut lapor. Ada dua belas keluarga baru minggu ini yang mau bicara, asal saya yang datang, bukan orang kecamatan."
Wening menatap map plastik itu, lalu menatap wajah muda di depannya—wajah yang mewarisi ketelitian Ningsih tanpa pernah diminta.
Parmin muncul terakhir, berdiri di pintu dengan kunci mobil masih di tangan, seolah baru saja memarkir dan langsung masuk tanpa berpikir dua kali. Ia tidak banyak bicara, seperti biasa. Ia hanya berkata, "Besok mau ke mana, Bu? Gua lagi? Atau ibu kota provinsi? Mobil saya isi bensin penuh."
Telepon di meja berdering sebelum Wening sempat menjawab. Dr. Larasati, dari seberang line yang agak berderak.
"Aku dengar dari orang provinsi, rapat tadi ditutup rapat-rapat," suara dr. Larasati terdengar tenang, tapi tegas. "Wening, aku sudah bicara dengan dua kolega di kementerian. Mereka mau lihat datamu—bukan versi yang dipangkas Camat, versi aslimu. Kalau kau kirim, aku yang antar sampai ke meja yang benar."
Wening menutup mata sebentar. Ruangan kecil itu, dengan lampu yang agak redup dan uap teh yang mendingin, tiba-tiba terasa penuh—empat orang berdiri atau duduk di sekelilingnya, dan satu suara lagi di ujung telepon, semuanya menunggu satu kata darinya.
Ia menatap peta di dinding, tiga warna yang belum lengkap namun sudah cukup jelas menunjukkan arah rantai penularan: legen, air-guano, pasar. Lalu ia menatap kertas berisi angka delapan sampai dua belas kali lipat.
"Kalau begitu," katanya, suaranya lebih mantap dari yang ia kira sendiri, "kita siapkan semuanya. Bukti, kesaksian, kurva—semua yang tak bisa dibantah. Kalau mereka menutup pintu rapat, kita cari pintu lain."
Tak ada yang bertepuk tangan, tak ada kalimat gagah. Hanya Bagas yang mengangguk, Hendra yang mulai membuka buku catatannya, Yuni yang meletakkan map plastiknya di meja, dan Parmin yang menggantung kunci mobil di sabuknya, siap kapan saja diminta berangkat. Di ujung telepon, dr. Larasati menunggu jawaban lebih rinci, dan Wening mulai bicara, pelan-pelan menyusun langkah demi langkah, seolah mereka sedang menggambar peta baru—bukan lagi peta wabah, melainkan peta jalan yang akan mereka tempuh bersama.