Ruang rapat kecamatan Mraggen berbau kopi tubruk dan cat tembok yang belum sepenuhnya kering. Wening Pradipta datang lima menit lebih awal, membawa map plastik berisi salinan peta tiga warna, kurva epidemik yang menanjak, dan tiga lembar rekomendasi yang telah ia tulis ulang empat kali semalam agar tidak ada satu kata pun yang bisa disalahartikan sebagai menakut-nakuti. Ia meletakkannya rapi di sisi meja, lalu menunggu. Kipas angin di sudut berputar malas, mengaduk udara panas tanpa mengusirnya.
Camat Sudrajat masuk bersama Pak Broto. Mereka tertawa pelan tentang sesuatu yang tak sempat Wening dengar, dan tawa itu berhenti terlalu cepat begitu keduanya melihatnya. Sudrajat menepuk punggung kursi di ujung meja panjang, tempat yang jauh dari proyektor, jauh dari papan tulis.
"Dokter Wening, silakan duduk di situ dulu ya," katanya. "Kita bahas yang lain dulu. Anggaran panggung, izin pedagang. Nanti kalau ada waktu, giliran Bu Dokter."
Wening menahan diri untuk tidak menyanggah. Ia duduk. Ia mengeluarkan pena, membuka buku catatan, dan mendengarkan agenda yang mengalir tanpa dirinya: sewa tenda, urutan hiburan, sambutan pejabat, retribusi pasar hewan yang katanya bisa naik dua kali lipat selama Pekan Raya. Setiap angka disebut dengan nada yang hangat, seolah masing-masing adalah kabar baik. Tak ada satu pun angka yang menyebut orang.
Ketika akhirnya Pak Broto menoleh padanya, sudah pukul sebelas lewat dan setengah kursi telah kosong.
"Nah, Dokter," kata Broto. Ia menyilangkan tangan di atas perut. "Katanya ada rekomendasi. Ringkas saja. Kami sudah dengar kabarnya dari Pak Camat."
Wening berdiri. Ia tak menunggu dipersilakan ke depan; ia tahu izin itu tak akan datang. Dari tempatnya ia mengangkat peta, membalik agar tiga warna itu menghadap mereka—merah di sepanjang jalur legen, biru di aliran air-guano, kuning di titik pasar dan kontak.
"Kasus masih menanjak," katanya, suaranya tenang, terlatih. "Kurva belum menekuk. Artinya penularan masih aktif. Kalau Pekan Raya digelar dengan pasar dibuka penuh dan ribuan orang berkumpul, kita menaruh sumbu di dekat api. Rekomendasi saya empat: tunda Pekan Raya, tutup sementara gua, atur ulang pasar hewan, amankan pot legen dan sumber air."
Sunyi sejenak. Kipas berderit di sudut.
Sudrajat tersenyum, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Dokter, saya hargai kerja keras Ibu. Tapi coba pikir. Pekan Raya ini sudah diumumkan sejak dua bulan lalu. Pedagang sudah bayar lapak. Peziarah sudah pesan penginapan. Kalau kita batalkan sekarang, apa kata orang tentang Mraggen? Bahwa di sini ada penyakit? Habis nama kecamatan ini."
"Nama kecamatan bisa dipulihkan," kata Wening. "Nyawa tidak."
Broto tertawa kecil, seolah mendengar anak muda yang terlalu bersemangat. "Bu Dokter suka sekali kata-kata dramatis. Penyakit itu di mana-mana ada. Musim pancaroba. Demam biasa. Ibu punya bukti sekuat apa sampai berani menyuruh satu kecamatan berhenti napas?"
Wening membalik lembar berikutnya. "Lab provinsi mengonfirmasi virus baru. Ini bukan demam pancaroba. dr. Larasati sudah—"
"Provinsi," potong Broto, dan nada hangatnya menguap, "adalah saya juga, Dokter. Dan yang saya lihat di meja saya bukan panik. Yang saya lihat adalah satu petugas surveilans yang datang dari luar, tidak tahu Mraggen, tiba-tiba mau membongkar hajat besar seluruh warga." Ia mencondongkan badan. "Angka Ibu itu—berapa yang sudah dikonfirmasi lab, betul-betul, bukan dugaan?"
"Konfirmasi laboratorium butuh waktu. Tapi pola kasusnya—"
"Pola." Broto mengucapkannya seolah kata itu berlendir. "Pola bisa dikarang siapa saja dengan spidol warna-warni."
Wening merasa panas menjalar ke tengkuknya. Ia menahannya. Ia meletakkan peta di meja, mendorongnya perlahan ke arah Sudrajat. "Kalau saya salah, Pak, saya kehilangan muka. Kalau Bapak salah, kita kehilangan orang. Silakan hitung mana yang lebih mahal."
Sudrajat tidak menyentuh peta itu. Ia memandanginya seperti memandang piring yang tak ingin ia makan, lalu mengangkat wajah.
"Begini saja, Dokter. Rapat ini memutuskan Pekan Raya jalan terus. Pasar tetap buka. Soal gua, itu urusan Haji Suparlan, bukan urusan kita." Ia merapikan tumpukan kertasnya sendiri, isyarat yang sudah jelas. "Rekomendasi Ibu kami terima sebagai catatan. Kami arsipkan."
"Arsipkan," ulang Wening pelan.
"Untuk hal-hal teknis lapangan," Sudrajat menambahkan tanpa menatapnya, "mulai sekarang cukup Puskesmas yang menangani lewat jalur biasa. Ibu tidak perlu hadir di rapat koordinasi berikutnya. Fokus saja ke tugas klinis. Biar tidak ada tumpang-tindih."
Kata-kata itu turun perlahan, seperti pintu yang ditutup pelan-pelan supaya tak berbunyi. Wening menegakkan punggung. Ia ingin membantah, ingin membentangkan kurva itu di depan wajah mereka dan memaksa mereka membaca garis yang naik seperti tebing. Tapi ia tahu ruangan ini. Ia tahu bahwa suara yang meninggi hanya akan menjadi bukti bagi mereka bahwa perempuan dari luar itu memang terlalu emosional.
Ia mengumpulkan lembarannya satu per satu. Tangannya tenang, dan justru ketenangan itu yang terasa paling berat. Ia menutup map plastiknya. Bunyi kancingnya, kecil dan tegas, adalah satu-satunya keputusan yang benar-benar miliknya di ruangan itu.
"Terima kasih atas waktunya," katanya, dan ia tidak menambahkan apa-apa yang manis.
Di luar, matahari memukul halaman kantor kecamatan. Hendra dan Parmin sudah menunggu di bawah pohon asam, wajah keduanya bertanya sebelum mulut mereka sempat. Wening tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke mobil, membuka pintu, dan berdiri sejenak dengan tangan di gagangnya, menatap ke arah lapangan tempat rangka panggung Pekan Raya sudah mulai didirikan. Batang-batang bambu diikat menyilang ke langit, dan orang-orang menaikinya sambil bersiul.
"Ditolak," katanya akhirnya. Suaranya rata. "Dan aku dikeluarkan dari rapat koordinasi."
Parmin mengumpat pelan. Hendra diam, rahangnya mengeras.
Wening masuk ke mobil dan menutup pintu. Dari balik kaca ia memandangi panggung yang tumbuh itu, memandangi orang-orang yang sebentar lagi akan berkumpul di bawahnya, tak tahu bahwa peta yang bisa menyelamatkan mereka baru saja diarsipkan di sebuah laci. Kurva di kepalanya masih menanjak, tak peduli siapa yang menolak membacanya. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Mraggen, ia merasa benar-benar sendirian—dan justru di titik itu, di dasar yang paling gelap, ia mulai menghitung apa lagi yang tersisa untuk diperbuat.