Angin malam masuk lewat celah jendela Puskesmas Mraggen, membawa bau tanah basah dan asap obat nyamuk yang mulai menipis. Wening masih duduk di meja yang sama sejak sore, dikelilingi kertas grafik yang sudah penuh garis dan angka yang dicoret ulang tiga kali. Di depannya, telepon kabel berdenting pelan, lalu suara dr. Larasati datang patah-patah, tertahan sinyal yang timbul-tenggelam di antara Mraggen dan ibu kota provinsi.
"Ulangi angka kenduri itu," kata dr. Larasati. "Yang kemarin kau kirim lewat radio Puskesmas."
Wening membuka buku catatannya, menelusuri baris yang sudah ia garis bawahi merah. "Delapan puluh tiga orang hadir. Yang bisa dilacak dan diperiksa antibodinya, enam puluh satu. Enam belas di antaranya positif dalam dua minggu setelah acara."
"Itu artinya berapa persen?"
"Sekitar seperempat," jawab Wening, meski ia tahu Larasati sudah bisa menghitungnya sendiri. Menyebutkannya keras-keras terasa seperti menahan sesuatu agar tidak lolos dari genggaman.
Hendra berdiri di dekat peta dinding, memegang segelas kopi yang sudah dingin sejak tadi. Ia tidak ikut bicara, tapi matanya mengikuti tiap kata yang keluar dari mulut Wening seperti orang yang menghitung langkah menuju jurang.
"Sekarang," suara Larasati melanjutkan, "berapa lama kenduri itu berlangsung?"
"Setengah hari. Orang datang, makan bersama, lalu pulang."
"Dan Pekan Raya?"
Wening menatap surat edaran kecamatan yang tergeletak di sudut meja, kertas resmi berkop Kecamatan Mraggen yang menyebut tiga hari penuh, pasar dibuka dari pagi sampai malam, panggung hiburan, arak-arakan Sedekah Bumi yang akan menarik orang dari kecamatan tetangga.
"Tiga hari," katanya. "Bukan setengah hari. Dan bukan delapan puluh tiga orang. Camat bilang mereka menargetkan lebih dari tiga ribu pengunjung, belum termasuk pedagang dan pekerja pasar."
Di ujung telepon, hening sebentar—bukan karena sinyal putus, tapi karena Larasati sedang menulis.
"Kalau attack rate kita pukul rata turun jadi setengahnya saja, karena ruang terbuka dan tidak makan bersama dari piring yang sama," Larasati berkata pelan, "kita masih bicara sekitar sepuluh sampai lima belas persen dari yang datang."
Wening mengambil kalkulator kecil bertombol karet yang sudah pudar angkanya, memencetnya satu-satu dengan jari yang mulai gemetar bukan karena dingin. Tiga ribu, dikali sepuluh persen. Tiga ratus. Ia menatap angka itu lama, seolah menunggu layar kalkulator membantahnya sendiri.
"Itu baru generasi pertama," kata Larasati. "Ingat masa inkubasinya. Lima sampai tujuh hari sebelum gejala muncul. Orang-orang itu akan pulang ke desa masing-masing sebelum mereka sadar sudah membawa apa."
"Lalu mereka menulari keluarga di rumah," sambung Wening, suaranya nyaris berbisik. "Yang menulari tetangga. Yang menulari pasar di kecamatan lain."
Ia menggambar di kertas kosong, lingkaran kecil di tengah bertuliskan Pekan Raya, lalu garis-garis menjalar keluar seperti akar yang mencari air. Setiap garis berakhir di lingkaran baru, lebih kecil, tapi jumlahnya berlipat. Ia tidak perlu model matematika rumit untuk melihat bentuknya—bentuk itu sudah dikenalnya dari kurva epidemik yang selama ini menanjak pelan di papan Puskesmas. Ini hanya versi kurva itu yang dipompa sepuluh, dua puluh kali lipat, dalam waktu yang lebih singkat.
"Berapa lama sampai rumah sakit provinsi kewalahan?" tanya Bagas, yang baru masuk ruangan sambil membawa map berisi data rawat inap. Ia berdiri di ambang pintu, wajahnya belum sempat dicuci dari keringat jaga malam.
Wening menoleh, lalu menunjuk deretan angka di kertasnya. "Puskesmas ini hanya punya dua belas tempat tidur perawatan intensif sederhana. Kalau proyeksi paling rendah saja benar, dalam dua minggu setelah Pekan Raya kita bisa menghadapi seratus lima puluh sampai dua ratus kasus baru yang butuh perawatan serius. Bukan dua belas."
Bagas tidak menjawab. Ia hanya menyandarkan punggung ke kusen pintu, seperti orang yang baru saja diberi tahu berat badan sebuah batu yang harus ia pikul sendirian.
"Ini belum menghitung yang lewat jalur legen dan gua," kata Hendra akhirnya, suaranya serak. "Kalau reservoir kelelawar itu masih aktif, dan orang-orang dari luar kecamatan datang membeli legen sebagai oleh-oleh Pekan Raya—"
"—maka rantainya tidak berhenti di Mraggen," Wening menyelesaikan kalimat itu. "Ia ikut pulang bersama penumpang bus dan pikap yang membawa pot-pot legen ke pasar-pasar lain."
Telepon berdenging pelan, hampir hilang oleh gangguan sinyal, tapi suara Larasati masih bisa didengar. "Wening. Aku sudah membuat dua model. Yang satu asumsi konservatif, yang satu asumsi realistis berdasarkan pola pasar dan kenduri kemarin. Bahkan model konservatif menunjukkan angka kematian bisa naik tiga sampai empat kali lipat dari yang sudah kita catat sekarang. Ini bukan lagi firasat."
Wening menatap kertas di depannya—bukan lagi sekumpulan garis dan lingkaran, tapi sesuatu yang mendadak punya berat sendiri, seolah tinta itu bisa menetes dan membekas di lantai. Ia teringat wajah Bu Sari Darto, Mbak Surti, Pak Kasdi, Ningsih—empat nama pertama yang ia tulis di papan kuesioner berbulan-bulan lalu. Kalau proyeksi ini benar, jumlah nama yang harus ditulis setelah Pekan Raya bisa jadi puluhan kali lipat, dan ia tidak akan sanggup mengingat satu per satu wajah di baliknya.
"Aku akan susun ini jadi laporan resmi," katanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada orang-orang di ruangan itu. "Dengan angka, bukan dengan kata 'khawatir' atau 'menduga'."
"Camat tidak akan suka angka itu," kata Hendra.
"Camat," jawab Wening, meletakkan pensil di atas kertas dengan gerakan yang terlalu hati-hati untuk terlihat tenang, "tidak dibayar untuk suka. Tapi kalau dia melihat angka ini dan tetap membuka Pekan Raya, setidaknya nanti tidak ada yang bisa bilang tidak ada yang memperingatkan."
Di luar, suara jangkrik mengisi kesunyian yang ditinggalkan kata-katanya, dan peta di dinding, dengan segala titik merah yang sudah menandai rumah-rumah yang berduka, tampak seperti menunggu titik-titik baru yang belum sempat dicegah.