Pengumuman itu datang lewat pengeras suara balai desa, disusul lewat WhatsApp grup RT, disusul lagi lewat spanduk yang dipasang dua orang pemuda di pertigaan Ngepoh sebelum matahari benar-benar naik. Wening baru turun dari mobil dinas ketika suara serak Pak Kaur mengalun dari corong tua di atas menara balai, memantul-mantul di antara atap seng dan pohon-pohon petai:
"Diberitahukan kepada seluruh warga Kecamatan Mraggen, dalam rangka mensyukuri hasil panen dan menyambut Hari Jadi Kecamatan, akan diselenggarakan Pekan Raya dan Sedekah Bumi selama tujuh hari, dimulai dari alun-alun hingga… pasar hewan Mraggen dibuka penuh selama acara berlangsung…"
Ia berdiri di bawah spanduk yang masih basah lemnya, membaca ulang kalimat itu tiga kali seolah hurufnya bisa berubah kalau ditatap cukup lama. Tujuh hari. Alun-alun sampai pasar hewan. Ribuan orang, kalau tahun-tahun sebelumnya jadi patokan—dan tahun ini, kabarnya, akan lebih besar, karena Kecamatan Mraggen genap lima puluh tahun dan Pak Broto sendiri yang menjanjikan akan hadir membuka acara.
"Bu Wening." Hendra muncul dari arah balai, wajahnya sudah lebih pucat dari spanduk yang mereka berdua tatap. "Sudah dengar?"
"Baru dengar. Belum percaya."
"Sudah dipasang baliho di depan kantor Camat. Ada foto Pak Broto, foto Pak Camat, sama—" Hendra ragu sebentar, "—foto Haji Suparlan juga. Katanya beliau jadi salah satu penyandang dana."
Wening menutup mata sebentar, mencoba menahan sesuatu yang mengerat di dadanya sebelum berubah jadi kata-kata yang tidak akan berguna diucapkan di tengah jalan. Ia menghitung dalam kepala, seperti kebiasaan lamanya menghitung apa saja yang bisa dihitung ketika dunia terasa lepas kendali: kurva masih menanjak, klaster kenduri belum sepenuhnya terpetakan, kasus indeks jalur legen belum juga ketemu, dan sekarang—tujuh hari, ribuan orang, satu pasar yang jadi titik silang segala rantai penularan yang mereka duga.
"Pasar hewan dibuka penuh itu apa artinya, menurutmu?" tanyanya, meski ia sudah tahu jawabannya sendiri.
"Artinya bukan cuma orang Mraggen yang datang. Pedagang dari kecamatan tetangga juga diundang. Ternak juga didatangkan dari luar buat lomba." Hendra menggeleng pelan. "Ini bukan pasar hari Kliwon biasa, Bu. Ini pasar besar."
Mereka berjalan ke arah kantor Camat, melewati barisan pedagang kaki lima yang sudah mulai memasang tenda di sepanjang trotoar, seolah acara sudah dimulai padahal baru pengumuman. Seorang ibu menggelar tikar untuk berjualan pisang goreng, tersenyum riang pada siapa pun yang lewat, sama sekali tidak tahu bahwa di balik senyum itu ada dokter epidemiologi yang sedang membayangkan berapa ratus tangan akan bersentuhan dengan gorengan yang sama dalam tujuh hari ke depan.
Di depan kantor Camat, baliho besar sudah berdiri, warnanya masih segar, tintanya belum kering benar. PEKAN RAYA & SEDEKAH BUMI KECAMATAN MRAGGEN — 50 TAHUN MRAGGEN BERSATU. Ada foto Camat Sudrajat tersenyum lebar, tangan terlipat di dada, dan di sampingnya foto seorang pejabat berjas yang belum pernah Wening temui langsung tapi sudah cukup sering ia dengar namanya diucapkan dengan nada waswas oleh orang-orang di Puskesmas: Pak Broto.
Camat Sudrajat sendiri sedang berdiri di teras, mengawasi para pekerja memasang panggung, ketika Wening dan Hendra menghampiri.
"Pak Camat," Wening menyapa, berusaha menjaga suaranya tetap datar. "Boleh saya tahu, ini keputusan siapa, dan apakah sudah dipertimbangkan soal situasi kesehatan kita sekarang?"
Camat Sudrajat menoleh, senyumnya tak luntur sedikit pun, seperti sudah menyiapkan jawaban ini jauh-jauh hari. "Dokter Wening. Justru ini yang ditunggu warga. Sudah dua bulan mereka ketakutan, saling curiga, jualan sepi, ternak tak laku. Pekan Raya ini yang akan mengembalikan kepercayaan. Menunjukkan Mraggen baik-baik saja."
"Tapi kita belum tahu Mraggen baik-baik saja, Pak. Kurva masih naik."
"Justru karena itu," suara Camat merendah, seolah membagi rahasia yang sebenarnya bukan rahasia, "kita perlu ini. Kalau kecamatan terus-terusan disebut kena wabah, investor lari, program provinsi batal turun, dan yang rugi bukan cuma saya—warga juga. Pak Broto sendiri yang bilang begitu."
Wening ingin membalas, tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya justru pertanyaan yang lebih tajam dari yang ia rencanakan. "Kalau ada seribu orang berkumpul, makan bersama, bersentuhan di satu pasar, selama tujuh hari—dan salah satu dari mereka membawa virus yang belum kita pahami penuh cara penularannya—Bapak sadar apa yang bisa terjadi?"
Untuk sesaat, senyum Camat Sudrajat goyah, tapi cuma sesaat, seperti nyala lilin yang diterpa angin lalu tegak lagi. "Itu tugas Dokter untuk mengamankan kesehatan. Tugas saya mengamankan kesejahteraan. Kita jalan bareng, bukan saling menjegal."
Ia meninggalkan Wening berdiri di teras itu, berjalan menghampiri para pekerja panggung sambil bertepuk tangan riang, seolah percakapan barusan hanyalah basa-basi pagi hari.
Sepulang dari sana, di dalam mobil Parmin, Wening tidak bicara sepatah pun sampai Puskesmas Mraggen tampak di kejauhan, papan peta kasus di dindingnya seolah menunggu untuk diperbarui dengan sesuatu yang jauh lebih genting daripada titik-titik merah dan biru yang sudah ada.
"Bu Wening baik-baik saja?" Parmin akhirnya bertanya, menatap dari kaca spion.
"Tujuh hari," gumam Wening, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Parmin. "Tujuh hari, ribuan orang, satu pasar, dan kita bahkan belum tahu pasti dari mana semua ini bermula."
Ia membuka buku catatannya, dan di halaman kosong berikutnya, di bawah tanggal hari itu, ia menulis satu kalimat yang akan terus menghantuinya sepanjang minggu-minggu mendatang: *Pekan Raya, tujuh hari lagi. Kalau rantai ini belum putus sebelum hari itu, kita tidak sedang bicara soal wabah desa lagi.*