Ibu datang siang tanpa masak. Tas kecil. Muka kaku. Hitam tidak penuh duka teater — biasa kaku. Damar di kantor; Naufal kirim peringatan: *Ibu. Lo pulang sekarang. Jangan peluk. Anisa — pojok boleh, jangan majukan diri. Jangan euforia.* Anisa baca kulkas, lalu foyer. Tidak peluk. Tidak teh dipaksa. Pembantu minggir.
'Masuk,' kata Ibu. 'Duduk. Saya bicara. Bukan peluk. Bukan menantu manis. Bukan ayam hari ini.'
Mereka di ruang keluarga — dinding kosong tempat foto Dita sempat digantung memorial. Ibu tidak menoleh lama ke dinding. Duduk. Tas di pangkuan. 'Saya ke makam tadi. Saya bilang ke batu: kakakmu salah orang. Faris. Om. Perempuan di rumah ini — saya belum suka. Saya tidak lagi percaya kau membunuh Dita. Dua kalimat. Hafal. Restu penuh tidak ada. Peluk tidak ada. Ini cukup untuk sekarang. Kalau kau jual nama Dita, saya usir. Kalau Damar balik jadi hakim ke kau, telepon saya. Saya marah ke dia, bukan ke kau sebagai setan. Setan sudah berganti nama. Faris. Om. Damar dulu ikut salah. Dia sedang berbenah. Naufal ancam resign — saya dengar. Bagus ada gigi. Kau — jangan jadi tebus berbenahnya. Jangan jadi alasan dia pesta. Dengar?'
Anisa duduk tegak. Mata basah, tidak jatuh sebagai teater. Tangan di lutut. Di kepala, ayam kaku dulu dan pojok memorial — urutan oksigen yang tidak diminta jadi restu penuh. 'Dengar. Terima kasih kalimat kedua. Saya tidak minta disukai. Saya minta tidak dituduh membunuh. Kalimat Ibu — oksigen. Lembar di kulkas: saya tidak hina di depan Ibu. Ibu tidak hina saya di depan orang. Hormat. Saya belum panggil Ibu kalau Ibu belum mau. Restu setengah — saya catat sebagai fakta, bukan sebagai tiket pindah ranjang, bukan tiket guru instan, bukan tiket hapus daftar maaf. Nama bersih. Pintu. Makna. Faris sisa. Saya masih kamar tamu. Sah. Saya tidak euforia di muka Ibu.'
Ibu hampir — hampir — angguk hormat lebih dalam. Diganti pendek. 'Pintu. Kamar tamu. Baik. Lebih jujur dari peluk dusta. Euforia jelek. Diam kau bagus. Damar —' Damar baru masuk, jas, napas sedikit cepat karena pulang buru. Jarak. Ibu: 'Kau dengar. Saya belum suka dia. Saya tidak percaya dia pembunuh. Kau jangan pakai saya sebagai alasan cage atau alasan buang. Kau angguk ke Naufal soal resign — bagus. Jangan dusta ke makam. Kejar sisa. Jangan peluk di depan saya. Jangan undang saya tiap minggu untuk pamer berbenah. Sekali cukup.'
Damar: 'Tidak peluk. Dengar. Tidak pamer. Ma… terima kasih setengah. Aku tidak tagih penuh. Aku kejar Faris. Rumah makna. Tidak hukuman.'
Ibu: 'Penuh tidak dijual. Saya pulang. Makam sudah. Rumah ini — jangan jadi altar baru dengan label restu. Setengah. Hafal. Perempuan itu — kalau perlu telepon saya soal hakim, nomor saya sudah di HP-nya dari Damar. Pakai. Jangan malu.' Anisa: 'Tidak malu. Terima kasih nomor. Hormat.' Ibu angguk. Pintu. Mobil. Habis. Bau parfum Ibu sebentar di foyer, lalu hilang.
Anisa di foyer, napas. Damar jauh. 'Dia… setengah. Kau skor. Aku tidak euforia.' Anisa: 'Oksigen. Bukan restu iklan. Saya chat Salsa. Saya tidak jadi anak baik. Saya catat: belum suka, tidak pembunuh. Dua. Hidup bersama. Seperti ayam dulu — kaku, jujur. Naufal gigi. Anda angguk. Saya pintu. Faris luar. Nomor Ibu di HP — cadangan rem, bukan tiket peluk.'
Salsa: `IBU SETENGAH. Aku hampir teriak di kantor. Jangan jadi anak baik. Jangan pindah ranjang karena dua kalimat. Nomor Ibu = gigi tambahan. Bagus.` Anisa: `Tidak pindah karena itu. Kulkas. Banding Faris. Oksigen saja.` Naufal: *Ibu setengah tercatat. Bagus. Jangan lo pesta ke board. Faris gerak kecil malam — pantau. Setengah di rumah ≠ perang selesai. Nomor Ma ke Anisa — skor.* Damar: *Tidak pesta. Kerja. Pantau.*
Malam Anisa ritual kulkas. Tidak ganti lembar jadi *restu*. Lembar syarat tetap. Sticky *PILIH*. Sticky *REM NAUFAL*. Ia simpan kontak Ibu dengan nama *Ibu Wijaya — rem*, bukan *mertua*. Tulis di map: *Ibu: belum suka. tidak pembunuh. cukup sekarang. bukan tiket. nomor cadangan.* Damar ke foto Dita: 'Ma bilang dia tidak membunuhmu. Ma belum suka dia. Aku tidak pakai Ma sebagai senjata. Aku kejar Faris. Rumah setengah. Hormat. Kau adik. Dia orang di pojok yang diizinkan napas.' Foto diam.
Pagi kopi jauh. 'Masih setengah?' Anisa: 'Ibu setengah. Kita setengah. Saya masih kamar tamu. Masih belum maaf utuh. Masih pilih. Anda masih tidak hukuman?' Damar: 'Tidak hukuman. Makna. Sisa Faris. Terima kasih tidak euforia. Terima kasih tidak panggil Ibu paksa.' Naufal lewat singkat: 'Setengah tercatat. Jangan lo undang Ibu lagi minggu ini. Dia bilang sekali. Faris gerak — saya update. Lo berdua jangan rusak oksigen dengan euforia atau cage.' Anisa: 'Sekali. Oksigen. Kerja. Tidak euforia. Tidak cage. Nomor rem disimpan. Ayam dulu. Pojok. Setengah sekarang. Urutan oksigen yang jujur. Bukan atap.' Damar: 'Tidak undang. Kejar sisa. Oksigen. Hafal.' Mereka tidak bersentuhan wajib. Hormat. Restu setengah bukan atap. Lantai tambahan. Cukup untuk duka yang bilang dua kalimat jujur — dan untuk orang di pojok yang tidak memaksa peluk.