Om Adinata tidak datang ke ruang tertutup. Ia datang lewat kertas dan ancaman bisnis. Pagi setelah pengakuan: surat ke board Mahesa — putus rantai pasok, gugat perdata, “perang narasi merusak holding”. Chandra panik di grup. Damar rapat darurat. Anisa tidak diundang board; Naufal kirim ringkas ke rumah: *Om serang kontrak. Bos potong duluan. Lo map. Jangan portal.*
Damar di meja CEO, dingin yang sekarang punya arah. 'Putus semua kontrak dengan entitas Adinata dan afiliasi yang Naufal daftar. Hari ini. Alasan: risiko hukum dan reputasi berkas tercemar. Bukan dendam di notulen — risiko. Siapa ikut Om, keluar ekspansi. Sama seperti usul buang istri. Kali ini usul buang tameng Om.'
Chandra: 'Loss besar.'
'Loss lebih besar kalau kita pegang tangan orang yang beli lab,' kata Damar. 'Kerja. Legal: bocoran invoice ke jalur yang sudah ada, tidak ke gossip. Bank — biarkan mereka baca risiko sendiri. Kita tidak eksekusi orang. Kita cabut tameng.'
Siang portal bisnis, bukan portal fitnah: *Mahesa distanced from Adinata holding amid contaminated accident file.* Mitra lain mundur pelan. Saham holding Om turun. Bukan darah di halaman. Bukan pukulan. Tameng lepas.
Om telepon Damar langsung — jarang. Damar angkat di speaker, Naufal catat. Anisa tidak di kantor; Damar nanti sampaikan.
Om: 'Anakmu kacau. Perempuan itu kacau. Kau hancurkan bisnis keluarga karena dendam salah.'
'Dalam bisnis keluarga Anda beli laporan dan lab,' kata Damar. 'Anak Anda mengaku mabuk, setir, kabur. Framing ke guru. Saya cabut tameng. Bukan eksekusi. Pengacara Anda tahu pintu. Jangan usik Harto. Jangan usik Raka. Jangan usik Salsa. Jangan foyer. Kalau Anda gerak gelap, kami naikkan yang masih di brankas.'
Om umpat. Tutup. Naufal: 'Tameng lepas. Dia masih uang, masih marah, masih banding nanti. Hari ini jatuh. Lo pulang. Anisa dengar dari lo, bukan dari portal.'
Sebelum pulang, satu mitra lama Adinata telepon Damar — suara takut, bukan setia. 'Kami review. Invoice lab… kami tidak tahu.' Damar: 'Review. Jangan telepon saya untuk absolusi. Telepon pengacara Anda.' Bimo kirim pesan pendek ke Naufal: *Om panik. Saya tidak ke mansion. Jangan jemput saya ke media.* Naufal: *Diam. Kartu.* Rudi lama tidak angkat; Naufal catat sebagai gigi yang sudah tidak mau gigit. Satpam mansion dapat briefing: tamu Adinata ditolak. Sore ada mobil gelap putar di ujung jalan — tidak masuk. Naufal foto plat, arsip, tidak kejar di jalan. 'Bukan eksekusi. Arsip.'
Sore Damar pulang. Anisa di ruang tamu dengan map, sudah baca judul bisnis dari Salsa — filter, satu tautan. 'Om jatuh di kertas. Saya tidak menari. Saya tagih: nama saya di klarifikasi, bukan hanya saham dia turun. Gugatan Faris?'
'Dalam proses cabut,' kata Damar, jauh di kursi. 'Om kehilangan tameng kontrak Mahesa. Mitra lain ikut takut. Bukan mayat. Bukan saya yang memukul. Kau — napas. Lembar. Ini oksigen perang, bukan tiket maaf.'
Anisa angguk. 'Oksigen. Terima. Saya tidak minta Om diinjak di halaman rumah. Saya minta dia tidak beli mulut lagi. Kalau dia banding — kita kertas. Kulkas tidak copot karena saham turun.'
Ibu chat: *Om?* Damar: *Tameng lepas. Ma, jangan koran. Makam boleh. Media jangan.* Ibu: *Baik. Perempuan itu — dengar. Saya tidak hina.* Damar sampaikan. Anisa: 'Dengar. Hormat. Tidak peluk.'
Salsa datang sore, tidak masuk jauh — foyer, jarak satpam. 'Aku cuma mau lihat muka kamu tidak pesta.' Anisa: 'Tidak pesta. Om jatuh. Aku masih kamar tamu. Masih syarat. Masih takut portal.' Salsa: 'Bagus. Guru yang menang diam dulu. Sekolah nanti. Jangan putuskan karier karena euforia saham orang jahat.' Anisa: 'Tidak putuskan. Nama bersih dulu.'
Malam Naufal di dapur, kopi sisa. 'Om masih bisa doxxing, banding, sisa gigi. Jangan kira tameng lepas = perang selesai. Tapi hari ini dia tidak punya Mahesa sebagai payung. Rare. Lo berdua jangan rusak kulkas karena “menang”.' Damar: 'Tidak menang. Cabut tameng. Kerja sisa.' Anisa: 'Sisa. Saya tulis di map: Om jatuh bisnis. bukan vonis akhir. nama bersih antre resmi.'
Damar ke foto Dita. 'Om jatuh. Bukan balas darah. Kau tidak dibayar dengan saham. Aku cabut tameng orang yang beli dusta. Anisa dengar. Aku belum maaf ke dia. Urutan.' Foto diam. Anisa ritual kulkas. Tujuh syarat. Kamar tamu. Tidak masak tebus. Tidak ranjang tebus. Faris sudah mulut. Om sudah tameng. Rumah masih salah bentuk. Lebih sedikit dusta di udara. Cukup untuk jatuh yang tidak berdarah di halaman — dan untuk menahan pesta yang ingin lahir di portal.
Pagi legal: gugatan Faris cabut tercatat. Anisa paraf terima cabut, bukan paraf damai roman. Damar paraf instruksi. Board kaget tenang. Chandra tidak puji. Damar tidak butuh puji. Anisa di rumah: 'Cabut. Oksigen. Saya masih Anisa yang pernah diusir. Kertas belum menghapus itu. Kerja klarifikasi.' Damar: 'Klarifikasi menyusul. Hari ini Om jatuh. Kau tidak wajib senyum.' Anisa tidak senyum. Ia makan nasi sendiri di dapur, jauh. Manusia. Bukan menantu juara. Salsa kirim: `Saham orang jahat bukan pesta kamu.` Anisa: `Hafal. Tameng lepas. Mulut saya belum sekolah.` Damar ke kantor lagi, potong satu kontrak sisa yang Naufal temukan di anak perusahaan. Rapi. Dingin. Bukan darah. Anisa di taman 15 menit, laporkan. Mobil gelap tidak kembali. Rumah. Kulkas. Sisa perang. Cukup.