Ruangannya sama dengan ruangan undangan pertama: meja panjang, kursi yang terlalu banyak, AC yang terlalu dingin, dan satu kamera yang merekam dengan izin tertulis dari semua pihak.
Naufal duduk di sudut, bukan di kepala meja. Pengacara Faris datang lebih awal dan wajahnya lebih pucat dari pertemuan sebelumnya. Faris sendiri tidak tersenyum sekali pun sejak masuk, dan itu saja sudah merupakan perubahan besar.
Di atas meja, berkas-berkas disusun berjajar supaya bisa dilihat sekaligus: transkrip keterangan Raka, salinan pernyataan Pak Harto, invoice laboratorium, metadata foto, dan tangkapan CCTV foyer.
Raka sendiri tidak ada di ruangan. Itu keputusan Naufal, dan alasannya sederhana — saksi yang baru menandatangani keterangan tidak perlu duduk berhadapan dengan orang yang keterangannya menjatuhkan dia.
Anisa duduk di kursi yang sama seperti dulu, satu kursi jaraknya dari Damar, dengan map kuning tertutup di depannya. Damar meletakkan kedua tangannya di kayu meja dan membiarkannya di situ.
Empat puluh delapan jam yang diberikan sudah habis.
'Ini klarifikasi lanjutan,' kata Naufal. 'Saksi dari pesta itu sudah menandatangani keterangannya. Pertanyaannya masih yang lama: siapa yang menyetir. Jawab, atau diam — dan diamnya dicatat. Hari ini diam jauh lebih mahal daripada minggu lalu.'
'Klien saya—' pengacara itu mulai.
'Raka bilang kuncinya ada di tangan saya.'
Faris memotong pengacaranya sendiri. Suaranya pecah di tengah kalimat, bukan di ujungnya, dan ia menatap kayu meja — bukan Anisa, bukan Damar.
'Saya minum malam itu. Banyak. Dita ada di mobil.' Ia menelan. 'Saya yang minta menyetir. Saya kira saya masih bisa. Saya tidak bisa. Lalu ada tabrakan, dan saya keluar dari mobil, dan saya lari.'
Tidak ada yang menyela.
'Ada guru yang berhenti,' lanjutnya. 'Lampu. Orang berkumpul. Saya sudah jauh waktu itu. Om menelepon saya malam itu juga. Dia yang bilang arahkan semuanya ke guru itu. Laporan, hasil lab, semuanya. Yang penting nama saya tidak disebut.'
Ia menyeka wajahnya sekali dengan punggung tangan.
'Saya takut penjara. Itu saja alasannya, tidak ada yang lebih pintar dari itu. Saya tidak merencanakan Dita mati — saya merencanakan kabur. Framingnya Om yang atur, tapi saya yang pakai, dan saya yang diam bertahun-tahun. Dan saya yang menggugat perempuan itu supaya dia mundur.' Ia menatap meja lebih lama. 'Cukup. Saya capek berbohong di meja ini.'
Ruangan itu diam. Yang terdengar hanya AC dan bunyi halus kamera yang merekam.
Damar bergerak maju satu sentimeter. Naufal mengangkat satu jari tanpa menoleh. Damar tidak berdiri. Ia menarik napas lewat hidung, menahannya, lalu menatap kayu meja — bukan wajah Faris. Tangannya tetap di kayu.
Anisa yang bicara lebih dulu, dan ia bicara pelan, dengan nada yang biasa ia pakai di depan kelas ketika seorang murid akhirnya mengaku. Tidak ada kemenangan di dalamnya.
'Saya minta Anda ulangi bagian yang perlu masuk kertas,' katanya. 'Pelan-pelan. Anda mabuk. Anda yang menyetir. Anda yang menabrak. Anda kabur dari lokasi. Om Anda yang mengarahkan tuduhan ke saya. Anda memakainya. Anda menggugat saya. Dita tidak dalam posisi mengemudi. Saya tidak mabuk, dan saya berhenti di lokasi. Benar semuanya?'
Faris mengangguk.
'Anggukan tidak terekam sebagai jawaban,' kata Anisa.
'Benar,' katanya, terpaksa. 'Dita tidak menyetir. Guru itu tidak menyetir. Saya yang menyetir.'
Damar akhirnya bicara, dan suaranya rata dengan cara yang justru membuat pengacara Faris menggeser kursinya sedikit.
'Kau memakai nama adikku,' katanya. 'Kau menghabiskan hidup orang yang berhenti untuk menolong. Kau menjual berkas ke dalam duka saya, lalu duduk di ruangan yang sama dengan saya berkali-kali. Saya hampir—'
Naufal batuk pendek.
Damar menutup mulutnya, lalu membukanya lagi.
'Tidak dipukul,' katanya. 'Kertas. Pengakuan dicatat. Gugatan dicabut hari ini juga. Tanggung jawab dijalani lewat jalur yang benar. Om Anda urusan terpisah, dan dia tidak akan bisa membeli diam siapa pun di meja ini lagi.'
Pengacara Faris meminta jeda untuk berkonsultasi.
'Tidak usah,' kata Faris. 'Saya tanda tangan. Gugatan saya cabut. Saya tidak sanggup menghadapi Raka, Pak Harto, dan invoice itu di satu tumpukan yang sama.'
Legal sudah menyiapkan berkas pengakuan terbatas — bukan pengganti sidang, hanya kertas yang mengunci supaya dusta yang sama tidak bisa diulang di tempat lain. Faris menandatanganinya dengan tangan gemetar. Tanda tangannya tidak mirip dengan yang di dokumen-dokumen lama.
Anisa tidak menontonnya seperti orang menonton kemenangan. Ia membuka map kuningnya dan menulis di pinggir halaman: mabuk, menyetir, kabur, framing diarahkan Om, gugatan dicabut.
Lalu ia menutup mapnya, dan menyadari tangannya sendiri dingin.
Naufal menutup sesi dengan cara yang sama seperti ia membukanya: menyebutkan jam, menyebutkan siapa saja yang hadir, dan mengingatkan bahwa rekamannya disimpan di dua tempat.
'Salinan pengakuan ke penasihat hukum Bu Anisa hari ini juga,' katanya. 'Pencabutan gugatan diurus siang. Untuk jalur pidananya, itu bukan urusan meja ini.'
Faris berdiri lebih dulu dan keluar tanpa menyalami siapa pun. Pengacaranya menyusul sambil membereskan kertas dengan gerakan orang yang baru saja kehilangan arah kasusnya.
Di koridor, Anisa berhenti sebentar di dekat jendela.
Ia sudah membayangkan momen ini entah berapa kali selama tiga tahun terakhir — momen ketika seseorang akhirnya mengucapkannya dengan suara keras, di ruangan yang ada saksinya, di depan kamera yang menyala. Dalam semua bayangan itu, ia merasa ringan.
Yang datang justru bukan ringan. Yang datang adalah lelah yang tiba-tiba turun ke kaki, dan kesadaran bahwa tiga tahun itu tidak akan dikembalikan oleh satu tanda tangan yang gemetar.
Damar berhenti dua langkah darinya, tidak lebih dekat.
'Mau saya panggilkan mobil?'
'Nanti,' katanya. 'Saya berdiri di sini dulu sebentar.'
Damar mengangguk, lalu berdiri di tempatnya — dua langkah itu, tidak berkurang satu pun — sampai Anisa sendiri yang bilang sudah.