Rapat board jam dua. Slide ekspansi digeser. Chandra ketuk meja. 'Isu istri. Foto. Mitra Adinata. Saham. Usul: jarak publik total — pisah rumah atau… langkah hukum yang menenangkan. Buang sirkus.'
Damar berdiri, dingin. 'Foto palsu sudah dibongkar legal. Metadata. Saksi security. Siapa di meja ini masih usul buang orang yang sedang jadi sasaran fitnah terorganisir — sebut nama. Saya tidak buang dia demi saham. Saya buang dusta. Kontrol narasi: takedown, privasi Dita, perang ke arah yang jual dossier palsu. Adinata gelisah karena kotor, bukan karena saya “lemah cinta”. Hafal bedanya. Closing lanjut tanpa Om kalau perlu. Siapa keluar dari ekspansi karena itu — silakan.'
Diam. Satu anggota batuk. Chandra: 'Damar, nada itu…'
'Nada perang,' kata Damar. 'Notulen: usul buang istri — ditolak. Alasan: kontrol & bukti fitnah, bukan romansa. Naufal — masukkan bukti ringkas ke folder board terbatas. Bocor ke media — saya pecat jalur itu.'
Naufal dari kursi belakang angguk. Rapat kembali ke angka dengan suhu es. Setelah pintu, Naufal: 'Lo tolak buang. Alasan kontrol — perfect. Anisa akan terima tanpa sujud. Jangan pulang minta hadiah pelukan.'
Damar: 'Tidak minta. Pulang laporkan.'
Di mansion Anisa sudah siap. Damar: 'Board usul buang. Saya tolak. Kontrol narasi. Fitnah. Bukan karena cinta. Kau… tetap di rumah ini sebagai sekutu perang, bukan sebagai istri tebus yang diselamatkan pangeran.'
Anisa angguk dalam. 'Diterima. Kalimat kontrol lebih aman dari kalimat cinta di mulut Anda hari ini. Lembar dua puluh tujuh: board retak. tidak dibuang. nama bersih tetap tagihan. Faris — tulis di meja.'
Damar hampir tersenyum pahit. 'Besok. Nama di meja. Malam ini tidur. Saham bisa goyang. Saya tahan.'
Ibu chat: *Board?* Damar: *Tidak buang dia. Faris berikutnya.* Ibu: *Baik.* Salsa: `Board gagal buang kamu. Skor.` Anisa: `Skor kontrol. Bukan soft boy.` Malam Damar di sticky besar di ruang kerja rumah — spidol hitam, huruf kapital: menunggu pagi untuk menempel nama. Anisa di sisi jauh: 'Terima kasih tidak membuang saya ke saham — sebagai perang.' Damar: 'Jangan biasa. Tidur.' Board retak tidak meruntuhkan Mahesa; ia meruntuhkan ilusi bahwa Anisa bisa dikorbankan diam-diam lagi. Faris, Om, Bimo, Rudi — antrean terbuka. Nama yang akan ditulis di sticky sudah ada di lidah Damar sejak guest list. Besok ia menaruhnya di meja sebagai perang terbuka, bukan bisik. Pagi Chandra kirim email damai: *kita ikut kontrol.* Damar tidak balas panjang. Naufal: 'Menyerah sebagian. Bagus. Siapkan sticky. Anisa boleh lihat saat lo tulis — sekutu.' Anisa di ruang tamu menyiapkan meja kosong. Perang kebenaran antre di spidol.
Sore setelah board Anisa memasak telur untuk diri — bukan tebus. Damar ambil roti sendiri. 'Mereka mau buang kau seperti angka merah. Aku tolak. Aku masih bisa jelek di rumah. Jangan harapkan lembut total.' Anisa: 'Saya tidak harapkan. Saya harapkan konsisten tidak buta. Hari ini konsisten. Skor.' Naufal angkat gelas air jauh: 'Toast perang. Tanpa alkohol tipu.' Mereka hampir tertawa — kecil. Board retak tercatat di map dan di notulen. Saham mungkin goyang; dusta Om lebih mahal. Damar tulis draft sticky di kertas dulu: FARIS. Coret. Tulis lagi lebih besar. Anisa: 'Besok di kayu. Malam ini tidur. Tangan spidol perlu tenang.' Damar: 'Tenang. Tidur.' Nama sudah di lidah; kayu menunggu pagi.
Naufal antar print notulen ke rumah. 'Usul buang — ditolak. Tercatat. Om akan baca dari mata-mata board. Siap ribut.' Anisa baca notulen, angguk. 'Tercatat lebih berharga dari janji mulut.' Damar: 'Tercatat. Sticky besok. Faris undangan menyusul.' Mereka cek meja kosong. Spidol baru. Anisa: 'Tulis besar. Saya ingin bisa baca dari pintu.' Damar: 'Besar.' Malam terakhir sebelum nama di kayu — sekutu paksa tidur dengan keputusan tidak menjual perempuan ke saham. Board retak. Mahesa belum runtuh. Altar kambing sudah tidak mendapat izin resmi dari direksi untuk dikorbankan lagi. Itu perang. Itu cukup untuk sticky kapital.
Setelah email Chandra, Damar rapat singkat internal: 'Siapa bocor usul buang ke luar — pecat.' Tak ada yang angkat tangan. Naufal: 'Efek takut sehat.' Anisa dapat ringkas. 'Takut board lebih baik daripada buang saya.' Damar: 'Takut ke dusta. Bukan ke kau.' Malam mereka cek spidol tinta. Anisa: 'Tulis FARIS. Saya saksi sekutu. Bukan saksi romansa.' Damar: 'Sekutu. Pagi.' Board retak tercatat; saham belum jadi alasan altar. Nama di lidah sudah panas. Kayu meja ruang tamu kosong menunggu huruf kapital yang mengubah bisik jadi perang terbuka — resmi, tertulis, tidak bisa dihapus dengan senyum belasungkawa.
Pagi Damar latihan spidol di kertas koran bekas — huruf FARIS besar. Anisa: 'Lebih besar.' Damar tulis lagi. Naufal: 'Cukup. Kayu. Jangan teater berjam-jam.' Mereka ke ruang tamu. Board kemarin sudah retak; hari ini nama harus duduk di meja sebagai konsekuensi. Anisa siap sekutu. Damar siap spidol. Tanpa maaf murah di upacara kecil itu — hanya huruf yang mengakhiri era “Anisa satu-satunya setan” di kepala rumah ini.
Sebelum spidol menyentuh kayu, Damar telepon Ibu singkat. 'Ma, board tidak buang dia. Saya tulis nama Faris di meja.' Ibu: 'Tulis. Jangan goyah.' Tutup. Anisa dengar nada, tidak isi. Naufal: 'Lo siap. Tangan tenang.' Damar napas. Board retak kemarin memberi izin moral yang aneh: tidak menjual perempuan ke saham. Hari ini izin itu diubah jadi huruf kapital. Anisa berdiri di sisi meja sebagai sekutu, bukan hiasan. 'Tulis,' katanya pelan. 'Saya saksi.' Damar menulis. Perang terbuka lahir dari tinta, bukan dari pukulan di foyer. Cukup untuk menutup retakan board dengan nama yang benar di pusat.