Bocoran itu kecil dulu — akun gosip, caption pendek, foto Anisa di cocktail yang blur: *Istri CEO Mahesa = pengemudi mabuk yang menikah diam-diam?* Tidak ada bukti baru; hanya mengaduk yang lama. Netizen lapar. Komentar datang seperti hujan kemarin: kasar, cepat, tanpa empat menit CCTV.
Anisa tahu dari Salsa yang menelepon pagi, suara tegang. 'Jangan buka komentar. Aku yang pantau. Sekolah lama sudah bisik. Kamu di rumah?'
'Di rumah,' kata Anisa. Tangan dingin. 'Saya tidak balas. Naufal?'
Naufal sudah di lobi mansion sebelum Damar selesai sikat gigi. 'Bocoran. Bukan portal besar — cukup untuk api. Lo tidak boleh panik-post. Bos — legal jalan. Alasan yang kita pakai: privasi keluarga Dita, bukan “bela istri”. Efek samping: api ke Anisa redup. Terima efek samping tanpa pidato cinta.'
Damar baca caption sampai rahang sakit. 'Siapa bocor?'
'Pola akun bakar. Bisa Faris. Bisa orang board yang kesal. Bisa Ibu — saya cek dulu sebelum menuduh ibu lo,' kata Naufal. 'Anisa — HP ke saya mode “jangan scroll”. Scroll membunuh lebih cepat dari BAC palsu.'
Anisa serahkan HP tanpa drama. 'Saya takut. Saya tidak mengaku. Saya takut.'
'Dalam takut — tinggal di rumah hari ini,' kata Damar kaku. 'Bukan cage. Mitigasi. Wartawan di pagar — putar ke Naufal. Salsa boleh masuk lewat belakang.'
Salsa masuk lewat belakang dengan teh manis dan muka perang. 'Aku bawa telinga tebal. Kamu tidak sendirian di komentar — aku yang baca, kamu yang napas.' Anisa angguk, duduk di tangga, napas empat-empat. Damar berdiri jauh, tidak pegang. 'Aku ke legal. Jangan buka Twitter.'
Siang api melebar ke dua forum. Nama Dita ikut terseret — tepat yang Damar benci. Ia menelepon Naufal dari mobil, suara rendah berbahaya. 'Mereka seret Dita. Matikan.'
'Sedang,' kata Naufal. 'Cease letter. Takedown. Jangan lo yang ketik status emosional. Status emosional = minyak.'
Anisa di rumah mendengar bisik staf. Satu pembantu menatapnya terlalu lama. Anisa bilang datar, 'Saya tidak mabuk malam itu. Anda boleh tidak percaya. Anda tidak boleh memotret saya untuk jual.' Pembantu undur, pucat. Salsa: 'Bagus. Guru mode on.'
Malam Damar pulang dengan mata merah bukan karena menangis — karena layar. 'Bocoran belum mati. Legal jalan. Kau… masih di sini.'
'Saya di sini,' kata Anisa. 'Saya dibakar orang yang tidak kenal empat menit kosong. Anda lihat? Ini bukan “bisa dilatih” dari Harto. Ini lapar konten.'
Damar mengusap wajah. 'Aku tahu. Aku marah. Aku marah ke mereka — dan marah ke diri karena berkas kotor saya kasih makan lapar itu dulu.' Kalimat itu retak lagi. Anisa tidak memeluk. 'Simpan marah ke arah yang benar. Faris. Om. Bukan ke saya di tangga.'
Damar angguk sekali. Sticky: *MEDIA. JANGAN STATUS. LEGAL. DITA JANGAN JADI KLIK.* Naufal kirim: *Ibu tidak terlihat sebagai sumber. Pola lebih ke akun yang pernah nempel lingkar Adinata. Belum vonis.* Damar: *Gali. Blokir.* Anisa dapat HP kembali tanpa aplikasi gosip. Chat Salsa di rumah: `Aku masih napas.` Salsa: `Napas = menang hari ini.` Di luar pagar, satu motor berhenti terlalu lama — Naufal’s people geser. Media awal sudah menggigit. Perang bukti keluar dari brankas ke timeline yang tidak peduli materai.
Anisa mencoba makan siang — gagal di suap kedua. Salsa sodor pudding cup. 'Gula. Perintah guru.' Anisa makan pudding. Damar telepon singkat: 'Pagar aman. Kau tidak sendiri. Saya tidak bisa pulang tiap jam. Naufal ada.' Anisa: 'Saya tidak minta Anda pulang sebagai pahlawan. Saya minta legal yang sudah dijanjikan.' Damar: 'Jalan.' Tutup.
Di grup alumni guru, nama Anisa muncul. Salsa keluar grup dengan alasan “toxic”, bukan bela publik yang memperparah. Ia chat Anisa: `Aku keluar grup. Bukan kabur dari kamu — kabur dari massal.` Anisa: `Terima kasih. Jangan perang di WA.`
Naufal tangkap satu akun yang menyebar foto cocktail: metadata mengarah ke undangan yang sama dengan staf vendor. Bukan Faris langsung. Jalur kotor. Damar: *Pecat vendor jika perlu. Jangan drama.* Ia berdiri di jendela lantai 30, kota di bawah, merasa berkas kotor yang dulu ia terima setelah makam sekarang digemakan orang asing. Hutang karma yang tidak ia percaya — tetap terasa. Malam ia bilang ke Anisa, 'Saya yang dulu memberi makan narasi itu dengan menghancurkan hidupmu diam-diam. Hari ini orang lain makan sisa. Saya… muak.' Anisa: 'Muak = data. Putar ke legal dan Faris. Jangan ke saya sebagai tempat hukuman tambahan.' Damar angguk. Muak disimpan. Api masih menyala kecil di sudut gelap — cukup untuk bab berikutnya: blokir.
Sebelum tidur Anisa menulis tangan di kertas, bukan HP: *Saya bukan mabuk. Saya dibakar ulang.* Lipat, masuk map. Damar di ambang: 'Jangan kirim itu ke portal.' Anisa: 'Saya tidak kirim. Saya arsip supaya kepala saya tidak penuh komentar orang asing.' Damar berdiri lama, lalu: 'Arsip. Legal malam ini bekerja. Tidur tanpa scroll — perintah perang, bukan cage.' Anisa: 'Hafal.' Ia tidur dengan Salsa online di kursi tamu sampai jam dua — telinga tebal bergiliran — lalu Salsa pulang lewat belakang. Rumah kembali dua orang dan api yang belum padam total.