Acara wajib: cocktail klien properti, bukan pesta. Damar harus hadir. Anisa ikut karena undangan berpasangan — board “mitigasi wajah keluarga” yang Naufal benci dan terpaksa patuhi. 'Lo jangan lempar istri ke media. Lo juga jangan sembunyikan seperti mayat,' kata Naufal. 'Satu jam. Senyum tipis. Pulang.'
Anisa pakai dress sederhana hitam, cincin status, rambut rapi. Bukan glamor. Di venue, orang menatap — bisik. Damar di sisinya tanpa pegangan tangan: jarak publik. Klien senior, Pak Helmi, mendekat, hormat ke Anisa lebih dulu. 'Bu Damar, maaf spekulasi buruk di luar. Saya hormati Anda datang. Keberanian diam kadang lebih keras dari press release.'
Anisa angguk. 'Terima kasih. Saya di sini sebagai istri yang diundang, bukan sebagai konten.'
Helmi tersenyum hangat — terlalu hangat di mata Damar. 'Kalau butuh teman bicara di luar sirkus… saya bisa dengarkan. Tanpa mikrofon.'
Damar memotong, dingin. 'Dia tidak butuh. Fokus properti, Helmi.'
Helmi angkat tangan. 'Sinyal diterima.' Ia undur ke angka. Anisa menatap Damar. 'Itu hormat. Bukan rayu. Anda memotong seperti posesif.'
'Aku memotong seperti orang yang tidak mau klien jadi jalur bocor,' kata Damar. 'Bukan cinta. Kendali.'
'Kendali yang kedengarannya cemburu,' kata Anisa pelan. 'Saya catat sebagai cemburu aneh — dendam yang takut kehilangan terduga. Lucu dan menyebalkan.'
Damar tidak menjawab. Sepanjang acara ia berdiri terlalu dekat tanpa menyentuh, memelototi siapa pun yang terlalu lama di dekat Anisa. Naufal di pojok gumam ke gelas, 'Classic. Lo bukan suami manis. Lo anjing penjaga hukuman.' Damar dengar — tidak membantah.
Di mobil pulang Anisa bilang, 'Helmi tidak berbahaya. Om Adinata berbahaya. Simpan energi.'
'Dalam mobil ini aku yang tentukan bahaya,' kata Damar. Lalu, lebih pelan: 'Orang itu memandangmu seperti kau perlu diselamatkan. Aku tidak suka orang lain merasa berhak menyelamatkan apa yang… di ujian saya.'
'Apa,' ulang Anisa. 'Bukan siapa. Hafal: saya bukan barang ujian. Saya orang. Cemburu aneh Anda — saya tidak rayakan sebagai cinta. Saya pakai sebagai tanda Anda tidak sepenuhnya ingin saya dilenyapkan publik malam ini.'
Damar menatap jendela. 'Jangan baca berlebihan.'
Di mansion Anisa ganti baju, cuci wajah. Damar di ambang kamar — jarang. 'Kau tidak flirt.'
'Saya tidak flirt,' kata Anisa. 'Saya hidup. Selamat malam, penjaga hukuman.'
Damar hampir masuk — berhenti. 'Tidur.' Pintu. Sticky: *HELMİ. JANGAN. ADINATA. JANGAN CEMBURU BODOH.* Naufal chat: *Helmi harmless. Lo kelihatan bodoh. Guest list besok.* Damar: *Fokus.* Anisa ke Salsa: `Cemburu aneh. Bukan romansa. Aku capek muka publik.` Salsa: `Capek valid. Helmi? Tolak. Suami? Catat. Tidur.` Anisa tidur. Di kepala Damar, hormat Helmi menempel lebih menjengkelkan dari bisik board — karena menyinggung sesuatu yang belum ia izinkan bernama.
Pagi Damar di meja: 'Acara berikutnya — opsional untukmu. Saya tolak undangan berpasangan.'
'Saya terima tolakan itu sebagai napas,' kata Anisa. 'Bukan sebagai cage. Kalau Anda tolak supaya saya tidak ketemu manusia yang hormat — bilang jujur.'
'Dalam alasan resmi: mitigasi,' kata Damar. 'Dalam alasan pribadi: aku tidak tidur nyenyak dengan mata orang lain di kau. Itu bukan cinta. Itu… gangguan.'
'Gangguan diterima sebagai data,' kata Anisa. Roti. Dingin. Cemburu aneh tersimpan di map bukan sebagai bukti lab — sebagai cuaca rumah.
Naufal hadir pagi dengan ringkas sinis. 'Helmi telepon kantor: minta maaf kalau menyinggung. Lo bikin orang baik merasa bersalah. Talent.' Damar: 'Bloker. Jangan kasih nomor Anisa ke siapa pun.' Naufal: 'Sudah SOP. Lo cemburu — catat di jurnal rahasia, jangan di muka klien. Adinata tidak kalah perang karena lo melotot pria tua.' Damar hampir melempar pulpen — tidak. 'Guest list.' Naufal: 'Malam. Jangan rusak siang dengan Helmi.'
Anisa di rumah menulis cuaca: *cemburu aneh = takut kehilangan terduga / takut diselamatkan orang lain. bukan cinta. berguna: dia tidak ingin saya dilenyapkan publik semalam.* Ia chat Salsa cuplikan tanpa drama. Salsa: `CEO anjing penjaga. Romantic? No. Useful? Maybe.` Anisa hampir tertawa — sekali, kecil, di dapur kosong.
Sore Damar pulang awal. 'Undangan berpasangan bulan ini saya tolak semua. Alasan mitigasi. Kalau kau butuh keluar — bukan circus. Taman. Kopi. Salsa. Harto lewat Naufal.'
'Saya terima napas,' kata Anisa. 'Helmi tidak saya chat. Anda tidak perlu menginterogasi HP.' Damar menatap, ragu, lalu tidak minta HP — progress dari sita. Sticky di kepala: *jangan sita. jangan melotot. gali Faris. cemburu = gangguan.* Di foto Dita ia bilang pelan, 'Aku cemburu pada orang yang hormat ke terduga. Aneh. Maaf.' Foto diam. Damar tidak ulang maaf itu ke Anisa. Cukup aneh sudah masuk rumah; memeliharanya jadi roman lebih berbahaya dari Helmi.
Malam Anisa berpapasan dengan Damar di tangga. 'Helmi tidak telepon saya,' katanya duluan. Damar kaku, lalu: 'Baik. Aku tidak cek HP. Progress.' Anisa: 'Progress dicatat. Cemburu aneh — jangan dibawa ke Harto atau Faris. Simpan untuk jurnal yang tidak Anda punya.' Damar hampir tersenyum — mati. 'Tidur.' Di ruang kerja ia tetap menulis jurnal satu baris di sticky: *gangguan ≠ cinta. fokus Adinata.* Lalu padamkan lampu.
Helmi mengirim bunga ke kantor — Naufal tolak di lobi, balikkan dengan kartu: *tidak diterima.* Damar dengar laporan itu, rahang longgar satu milimeter. 'Bagus.' Anisa di rumah tidak pernah tahu bunga. Lebih baik. Cemburu aneh tidak perlu pupuk. Yang perlu pupuk: gali Faris, jaga Harto, tahan Ibu dari koran. Damar tulis itu di sticky berurutan, seperti orang memperbaiki prioritas setelah malu di cocktail.