Resepsi pernikahan berlangsung hangat, jauh lebih meriah daripada yang Quin bayangkan.
Penduduk Desa Nunuk memenuhi halaman gereja yang telah dihias sederhana. Tawa, obrolan, dan bunyi sendok beradu dengan piring berpadu menjadi satu suasana yang jarang tercipta.
Beberapa wajah tampak benar-benar bahagia, seolah pernikahan ini bukan sekadar penyatuan dua insan.
Quin berdiri sedikit ke samping, bersama Prim dan Jenna. “Gila sih,” gumam Jenna sambil menyenggol lengan Quin.
“Semalam masih single, hari ini udah sah punya suami. Hidupmu kayak sinetron jam tujuh.”
Prim terkekeh, ikut menimpali, “Dan suaminya bukan orang sembarangan pula. Dokter, tinggi, rapi, ramah tapi kelihatan mahal.”
Quin langsung menoleh, pipinya memanas. “Kalian berlebihan tau,” bantahnya pelan.
“Berlebihan dari ma