Abi melanjutkan perjalanan sesudah lampu berubah hijau. Ia mencari tempat yang cukup lapang di sisi jalan, kemudian memasukkan mobil ke area berhenti yang tidak menghalangi kendaraan lain. Sesudah rem terpasang dan mesin dimatikan, barulah ia melepaskan tangan dari kemudi.
Inara menunggu. Di luar kaca, seorang pengendara berjalan sambil menuntun motornya menuju warung yang masih buka. Suaranya segera hilang di antara kendaraan yang berlalu.
'Apa yang membuatmu marah?' tanya Inara.
Abi mengusap wajah. Ia sempat memejamkan mata, tetapi kini kendaraan sudah tidak bergerak. Ketika kembali memandang istrinya, ia berusaha memilih kalimat yang tidak terdengar seperti tuduhan.
'Saya melihat Radit menyelipkan kertas. Lalu Non keluar sesudah dia.'
'Kamu sudah menanyakan itu tadi.'
'Iya. Saya belum selesai merasa khawatir.'
Inara memalingkan wajah. 'Kalau yang kamu inginkan laporan setiap aku bicara dengan orang, aku tidak mau.'
'Saya tidak meminta itu.'
'Tapi caramu menatap membuatku merasa sedang diperiksa.'
Abi terdiam. Ia ingin mengatakan bahwa Radit bukan sekadar orang lain, bahwa ada janji yang diabaikan dan seorang anak yang akan lahir. Namun Inara mengetahui semua itu lebih dahulu daripada dirinya. Menyebutkannya tidak membuat ia berhak mengambil keputusan perempuan itu.
Inara membuka tas, mengeluarkan kertas terlipat, lalu menaruhnya di pangkuan sendiri.
'Ini meminta lima menit di taman. Aku pergi karena ingin mendengar apa yang akan dia katakan. Aku tidak berjanji kembali padanya.'
'Saya tidak mengira Non sudah berjanji.'
'Lalu kenapa wajahmu seperti itu?'
Pertanyaan tersebut membuat Abi menunduk pada jemarinya. Ia dapat menyebut keamanan, keadaan kandungan, atau nama keluarga. Semua itu benar-benar ia khawatirkan, tetapi bukan seluruh jawabannya.
'Saya takut ditinggalkan tanpa tahu apa yang sedang terjadi,' ucapnya akhirnya.
Inara memandangnya. Jawaban itu tidak menyelesaikan keberatannya, tetapi setidaknya bukan lagi tuduhan tentang siapa yang boleh berbicara dengannya.
'Kalau takut, katakan seperti itu. Jangan membuatku merasa harus minta izin untuk mendengar sesuatu yang juga menyangkut hidupku.'
Abi mengangguk perlahan. 'Tadi saya melihat Non mundur. Saya tidak tahu apakah Non ingin dibantu.'
'Aku tidak ingin dia mendekat. Aku sudah mengatakan itu sebelum kamu datang.'
'Saya mengerti.'
'Aku juga bisa meminta bantuan kalau perlu. Tadi kamu bertanya mau kembali, itu tidak masalah. Tapi setelah aku jawab, percaya padaku.'
Abi menarik napas. 'Iya. Saya minta maaf kalau sikap saya membuat Non merasa diawasi.'
Inara melipat kembali kertas itu. Ia belum ingin membuangnya di dalam mobil atau menyerahkannya kepada Abi sebagai syarat untuk dipercaya. Ia memasukkannya ke tas, kemudian menatap jalan di depan mereka.
'Radit bilang tidak tahu bagaimana memperbaiki semuanya. Aku tidak memberi jawaban. Itu saja yang ingin kuceritakan sekarang.'
'Terima kasih sudah memberi tahu.'
Beberapa saat berlalu tanpa percakapan. Abi menunggu sampai Inara mengatakan ia ingin pulang. Ia baru menyalakan mesin setelah memastikan istrinya sudah siap dan jalan di samping mereka memungkinkan mobil bergerak kembali.
Sepanjang sisa perjalanan, Abi tidak mencoba membuat lelucon untuk menghapus suasana. Inara pun tidak berpura-pura masalahnya hilang. Ketika akhirnya halaman rumah terlihat, mereka sama-sama tampak lelah.
Mobil abu-abu yang digunakan Kiai sudah terparkir. Abi menurunkan Inara di dekat pintu, lalu mengembalikan Alphard ke tempatnya. Sesudah memeriksa pintu dan menyerahkan kunci pada tempat yang biasa dipakai keluarga, ia masuk rumah. Inara telah menyapa ayahnya dan berjalan ke kamar.
Abi mengambil air minum di dapur. Ia hendak membawanya naik ketika melihat Inara kembali dengan sebuah gelas kosong.
'Kamu mau minum teh?'
Abi mengira pertanyaan itu ditujukan kepada orang lain sampai Inara mengulanginya sambil mengambil wadah teh.
'Mau, Non. Biar saya buat.'
'Aku yang buat. Kamu bawa gelasmu saja.'
Abi tidak merebut pekerjaan itu dari tangannya. Ia mengambil nampan kecil dan meletakkannya di meja dapur. Inara menakar gula, berhenti sesaat, lalu menambahkan sedikit lagi. Ia tidak menanyakan kesukaan Abi sebelumnya, sehingga ketika hendak mengaduk ia baru merasa ragu apakah takarannya berlebihan.
'Sudah terlanjur,' gumamnya.
'Apa?'
'Tidak. Ini dibawa pelan-pelan. Masih panas.'
Mereka menunggu sebentar sebelum naik. Abi membawa nampan, sedangkan Inara membawa ponsel dan tasnya. Di kamar, ia menunjukkan sisi meja yang telah dikosongkan agar gelas dapat diletakkan di permukaan rata, jauh dari alas tidur.
Abi menunggu teh cukup hangat, lalu menyesapnya. Inara yang sedang merapikan buku langsung mengetahui ada sesuatu dari jeda pada gerak tangannya.
'Terlalu manis?'
Abi tersenyum kecil. 'Agak.'
'Agak itu berapa?'
'Mungkin bisa ditambah air.'
Inara menutup wajah sebentar dengan telapak tangan. Ia ingin melakukan sesuatu yang baik tanpa membuatnya menjadi peristiwa besar, tetapi bahkan segelas teh pun ternyata membutuhkan pertanyaan sederhana yang lupa ia ajukan.
'Kenapa tidak bilang dari tadi?'
'Baru saya minum, Non.'
Jawaban itu membuatnya tertawa pendek sebelum dapat ditahan. Abi ikut tersenyum, lalu mengambil air dari botol yang ada di meja untuk mengencerkan tehnya sedikit. Ia mengaduk kembali dan mencicipi, kali ini dapat meminumnya tanpa jeda yang sama.
Inara merobek selembar kecil kertas dari buku catatannya. Ia menulis permintaan maaf karena tadi membentak, kemudian mendorong kertas itu ke dekat nampan. Ia tidak meminta maaf karena memilih berbicara atau menetapkan batas. Abi membaca, mengangguk, dan meletakkannya kembali tanpa menyebutnya sebagai janji bahwa semua pertengkaran mereka selesai.
Inara merapikan tas dan menemukan kertas dari taman. Ia menyimpannya di bagian yang tertutup, terpisah dari catatan permintaan maaf di meja. Dua kertas itu berasal dari percakapan berbeda, dan ia belum ingin mencampurnya menjadi satu kesimpulan tentang siapa yang seharusnya ia pilih. Abi melihatnya menutup tas, tetapi tidak mengulurkan tangan untuk memeriksa. Ia mengangkat nampan sedikit agar buku Inara tidak terkena bekas air.
Malam itu teh tidak langsung habis. Mereka membiarkannya di meja sampai cukup dingin, sambil bergantian bersiap tidur. Sebelum mematikan lampu, Inara bertanya satu hal lagi.
'Besok kalau mau dibuatkan, gulanya berapa?'
Abi menjawab kali ini dengan takaran yang jelas. Inara mengingatnya, meskipun ia sendiri belum berani menjanjikan akan membuat teh lagi keesokan malam.