Inara memasuki ruang makan lebih dahulu. Ratih mengangkat wajah dan menanyakan apakah ia merasa lebih baik. Inara mengangguk sambil menarik kursinya. Abi menyusul beberapa langkah kemudian dan duduk di tempat semula, tidak membawa pembicaraan dari taman ke tengah meja.
'Anginnya lumayan,' kata Inara. 'Tadi minum air juga.'
Ratih mempersilakannya mencoba buah yang baru disajikan. Tidak lama kemudian Radit kembali. Lelaki itu berhenti di dekat kursi sebelum duduk, seolah hendak mengatakan sesuatu. Namun Alvan sedang menanyakan jenis kain yang tersedia di toko Kiai, sehingga Radit hanya mengambil gelasnya.
Abi masih merasakan tegang pada tengkuknya. Ia ingin bertanya apa yang dikatakan Radit dan mengapa Inara sempat mundur ketika berada di taman. Ia juga mengingat jawaban istrinya di lorong. Ia sudah menawarkan diri menunggu. Memaksanya berbicara sekarang justru akan mengingkari ruang yang baru saja diberikannya.
Di seberangnya, Alvan mengeluarkan ponsel untuk menunjukkan contoh pakaian kerja yang sedang dipertimbangkan bagi keperluan usahanya. Kiai mendekatkan kursi agar dapat melihat tanpa meminta orang lain memindahkan seluruh hidangan.
'Ini baru contoh bentuk,' kata Alvan. 'Saya perlu tahu bahan yang cocok, baru menghitung jumlah yang bisa dipesan.'
'Lebih baik lihat langsung di toko. Foto kadang membuat warna dan tebalnya berbeda,' jawab Kiai.
Abi menggeser mangkuk buah yang berada terlalu dekat dengan tangan Alvan. Lalu ia menunjukkan bagian lengan pada gambar ketika Kiai meminta pendapat tentang pemakaian kainnya. Ia hanya menjelaskan pengalaman bekerja dengan bahan serupa, tidak menjanjikan hasil produksi yang belum diperiksa.
Alvan mencatat dua pertanyaan sebelum menutup gambar. 'Pekan depan saya datang. Bapak ada di toko hari apa?'
Kiai menyebutkan waktu ketika beliau biasanya memeriksa kiriman. Mereka membicarakan hari yang memungkinkan, lalu memilih satu pagi pada pekan berikutnya. Abi diminta menyiapkan beberapa contoh kain agar pembicaraan tidak berhenti pada gambar di layar.
'Saya catat, Bah,' katanya.
Ia menulis hari dan keperluannya di ponsel, kemudian menunjukkan kepada Kiai untuk memastikan tidak salah memahami. Alvan mengirim nomor kontaknya kepada Kiai. Beliau membalas pesan pendek saat itu juga, sehingga keduanya mengetahui nomor yang disimpan memang dapat dihubungi.
Ratih tertawa pelan melihat percakapan mereka kembali dipenuhi kain dan pekerjaan. 'Kalau sudah begini, makanannya bisa lupa.'
Alvan mengambil sepotong buah. 'Makanya perlu diingatkan.'
'Saya di rumah juga begitu,' kata Kiai. 'Untung sekarang ada menantu yang membantu. Anak-anak saya perempuan, tetapi bukan berarti mereka harus mendengar urusan toko setiap malam.'
'Alvan justru punya satu anak laki-laki,' sela Ratih sambil memandang putranya. 'Yang satu ini masih lebih banyak waktunya untuk belajar.'
Radit memberi senyum singkat. Ia menjawab pertanyaan Kiai tentang kegiatan studinya, tetapi tidak membuka pembicaraan panjang. Inara memperhatikan tangannya yang memutar gelas, lalu kembali mengambil buah. Ia tidak hendak menyelamatkan suasana dengan berbicara menggantikan Radit.
Beberapa saat kemudian lelaki itu meminta diri lebih awal. Ia mengatakan ada keperluan yang perlu diselesaikan di apartemen. Ratih menanyakan apakah ia sudah cukup makan. Radit mengiyakan, lalu berpamitan kepada semua yang hadir.
Ketika sampai pada Abi, tangannya tertahan sepersekian detik sebelum berjabat. Abi menerima salam itu tanpa menariknya mendekat atau menyisipkan peringatan yang dapat didengar orang lain. Ia tidak ingin meja makan berubah menjadi tempat untuk menyelesaikan sesuatu yang belum dapat dibicarakannya sendiri dengan tenang.
Radit meninggalkan ruangan. Sesudah pintu tertutup, Ratih merapikan serbet di pangkuannya. Ia mengira putranya sedang lelah dan mengatakan hal itu kepada Alvan. Inara tidak menambahkan penjelasan. Ia juga tidak diminta membenarkan dugaan tersebut.
Percakapan selanjutnya lebih ringan. Ratih menanyakan kegiatan Umi Hanik dan mengingat undangan yang tidak dapat dihadirinya. Kiai bercerita mengenai kesibukan menjelang pesanan masuk, sedangkan Abi membantu memanggil pelayan ketika air minum mereka habis.
Sekitar satu jam sesudah Radit pergi, Kiai melihat waktu. Beliau mengingatkan bahwa sopirnya sudah menunggu dan esok toko masih harus dibuka. Alvan menyimpan ponsel setelah memastikan janji pekan depan sudah tercatat pada mereka berdua.
Sebelum berdiri, Inara memeriksa bawah kursi karena tali tasnya tersangkut. Abi hendak membantu, tetapi ia sudah dapat melepaskannya sendiri. Ia lalu menyadari biskuit dari Umi masih ada di dalam tas. Benda kecil itu membuatnya teringat kecemasannya sebelum berangkat, ketika ia bahkan belum yakin dapat bertahan sampai jamuan selesai.
Ratih menunggu di samping meja, tidak mendesaknya segera keluar. Inara dapat menarik napas dan menyusul tanpa perlu mengatakan bahwa percakapan di taman telah menghabiskan sebagian keberaniannya. Ia memilih berjalan di samping Ratih sementara Abi berbicara sebentar dengan Kiai mengenai contoh kain yang harus disiapkan. Malam ini akhirnya bergerak menuju pulang, bukan menuju penjelasan yang terpaksa diberikan di depan semua orang.
Di luar ruangan, Inara mengucapkan terima kasih kepada Ratih. Perempuan itu bertanya apakah makanan tadi cukup cocok dan meminta Inara memberi tahu kalau lain kali memerlukan pilihan berbeda.
'Yang tadi dipindahkan sudah membantu, Tante. Terima kasih.'
Abi menunggu di dekat pintu keluar sampai percakapan selesai. Setelah itu ia mengambil Alphard dari tempat parkir. Kiai menuju kendaraan abu-abu bersama sopirnya, sementara Alvan dan Ratih mempunyai perjalanan pulang mereka sendiri.
Inara berdiri di sisi Alphard, memandangi lampu kendaraan ayahnya yang keluar lebih dahulu. Abi membukakan pintu, lalu menunggu sampai ia duduk dan merapikan tas. Kertas kecil dari Radit masih berada di dalam tas tersebut. Tidak ada orang yang mengambilnya atau menjadikannya penjelasan bagi seluruh wajah muram pada malam ini.
Abi masuk ke tempat pengemudi. Ia memeriksa kaca dan menanyakan apakah Inara siap berangkat. Jawabannya singkat, tetapi jelas. Mobil pun bergerak keluar dari area restoran.
Untuk beberapa menit pertama, hanya suara kendaraan di jalan yang terdengar. Abi menahan pertanyaan yang sejak tadi mendesaknya. Inara menoleh ketika mereka berhenti di lampu merah, melihat kedua tangan suaminya mencengkeram kemudi sedikit lebih erat daripada saat datang.
'Ada yang ingin kamu katakan?' tanyanya.
Abi memandang jalan yang sebentar lagi mendapat giliran bergerak. 'Ada. Tapi kita cari tempat berhenti dulu.'