Arman Prasetyo bukan musuh di papan yang sama dengan Wijaya. Ia teman perang. Itu lebih berbahaya. Teman perang punya akses ke ragu yang tidak boleh dilihat dewan, punya log, punya sopir, punya cara tersenyum saat menaruh pisau di meja.
Keesokan harinya, di ruang rapat kecil tanpa jendela yang bagus, Arman menutup pintu. Hanya mereka berdua. Kopi. Tablet. Senyap yang disengaja. AC terlalu dingin. Di luar, asisten tidak diizinkan masuk; itu sendiri sudah peringatan. Bara mengenali pola ini: Arman hanya menutup pintu rapat-rapat kalau yang hendak dibicarakan adalah cacat di tubuh CEO, bukan cacat di tubuh musuh.
'Aku akan bicara sebagai orang yang sudah sepuluh tahun membersihkan darah di lantai ini bersamamu,' katanya, tanpa basa-basi. 'Jangan lemah karena istri.'
Bara menatapnya. 'Aku tidak lemah. Tahap tiga jalan.'
'Kau menahan tahap tiga satu jam karena melihat perempuan berlutut di SD. Sopirmu bukan bisu. Satpam kafe bukan buta. Aku bayar orang untuk tahu di mana CEO-ku berhenti terlalu lama, karena CEO yang berhenti terlalu lama biasanya sedang jatuh cinta, takut, atau berkhianat pada angka. Tiga-tiganya mahal.' Arman menyilangkan kaki. 'Sinta Wijaya. Guru. Cantik. Baik. Itu kombinasi yang merusak laki-laki yang belum selesai berkabung. Kau sudah selesai? Kelihatan belum. Semalam kau hampir naik tangga, kata orang rumah. Jangan kaget. Rumah juga punya telinga kalau dibayar cukup.'
Bara merasakan dingin di tengkuk, bukan dari AC. 'Hati-hati.'
'Aku hati-hati pada perusahaan ini. Pada sumpah yang kau jual ke aku sebagai visi, sebagai bonus, sebagai alasan kita lebih rapi dari orang-orang kotor yang kita gilas.' Arman mengetuk meja. 'Aku tidak menikahi dendammu; aku mengeksekusinya. Kalau kau mulai menukar eksekusi dengan perasaan, aku yang akan kelihatan bodoh di depan orang yang sudah kita janji angka. Istri itu pintu. Kau sendiri yang tulis di file. Pintu yang mulai bicara, mulai mengunci kamar, mulai curi file—jangan bilang aku tidak tahu laptop sempat dibuka; log tidak bohong, Bara, bahkan setelah kau hapus recent documents seperti amatir—adalah pintu yang harus ditutup, bukan didekorasi.'
Bara merasakan marah naik, lalu ia kunci, karena marah pada Arman berarti Arman benar. 'Kau mengawasi aku.'
'Aku mengawasi risiko. Kau risiko sekarang, Bara. Bukan karena bodoh. Karena manusia. Manusia di puncak itu cacat produksi. Aku suka cacat yang bisa dikontrol. Cacat yang berlutut di kepala karena melihat guru SD… itu tidak bisa dikontrol.' Arman merendahkan suara. 'Dengarkan baik-baik. Kalau kau batalin satu tahap lagi tanpa alasan legal yang bisa kucopy-paste ke dewan, aku tidak akan diam. Aku akan bilang CEO terdistraksi urusan rumah. Saham tidak suka cerita itu. Lawanmu di luar Wijaya juga tidak. Ada orang yang senang kalau Mahesa goyah karena laki-laki jatuh cinta pada alatnya sendiri.'
'Jangan sebut dia alat di depan ku.'
Arman tersenyum tipis, puas seperti orang yang baru dapat konfirmasi. 'Lihat. Sudah. Kalimat itu saja cukup. Dulu kau yang mengajariku: jangan kasih nama pada target. Nama membuat orang ragu. Jangan kasih wajah. Wajah membuat orang ragu. Sekarang kau marah karena aku pakai kamusmu. Itu lucu. Atau menyedihkan. Pilih nanti, di rumah, waktu istri mu tidak seduh kopi.'
Bara berdiri, ke jendela yang buruk itu, melihat beton dan AC luar yang bergetar. 'Aku lanjutkan perang. Tahap tiga sudah jalan. Tidak ada yang batal. Jangan ancam aku dengan dewan. Dewan masih makan dari tanganku.'
'Bagus. Pertahankan. Dan lakukan satu hal lagi: sempitkan istrimu lebih rapi. Isolasi kartu itu anak-anak. Orang seperti dia punya teman guru, punya ibu, punya kepala. Kepala yang gali arsip dan buka laptop. Kalau kau tidak mau aku yang urus, urus sendiri. Tapi jangan satu jam lagi. Satu jam itu undangan untuk orang seperti aku mulai ragu pada mu, bukan pada Wijaya. Ragu itu menular, ingat?'
Setelah Arman pergi, Bara duduk lama, kopi tidak tersentuh. Kalimat 'jangan lemah karena istri' menempel seperti stempel di dahi yang hanya ia yang lihat. Sebagian dirinya setuju—bagian yang tumbuh di atas kuburan, bagian yang menulis spreadsheet. Sebagian lain, yang melihat Sinta di semen, ingin meninju Arman sampai gigi itu tidak bisa tersenyum. Ia tidak meninju. Ia membuka file H.D. yang statusnya 'ditahan—utilitas ganda', menatap inisial itu sampai layar buram, lalu menutup lagi. Bukan sekarang. Arman sedang mengawasi ragu. Ragu pada pihak ketiga akan kelihatan seperti pelarian. Pelarian akan kelihatan seperti lemah. Lemah akan dikirim ke dewan sebagai cerita.
Malam itu Bara pulang dan tidak menyapa. Sinta di dapur makan nasi bungkus sendirian, lampu neon, tidak ada piring kedua. Mereka berbagi rumah seperti dua penyewa yang salah kontrak. Di kepala Bara, suara Arman dan suara ayah yang berlutut bertarung tanpa wasit, tanpa bel, tanpa orang yang angkat yang jatuh.
Ia memilih, lagi, yang lebih mudah: jangan lemah.
Tapi mudah, malam itu, terasa seperti baju yang mulai sesak di bahu—masih bisa dipakai, masih rapi di rapat, sudah mulai merobek di jahitan yang tidak kelihatan kamera. Ia buka folder H.D. sekali lagi sebelum tidur, menatap inisial itu seperti orang menatap gigi yang tidak mau dicabut, lalu matikan laptop. Wijaya dulu. Istri jangan lemah. Arman jangan diberi satu jam. Tiga perintah itu ia ulang sampai terdengar seperti doa. Doa orang yang sudah tidak percaya Tuhan, hanya percaya urutan.