Satu jam itu Bara pakai untuk berpura-pura jadi orang yang masih bisa memilih.
Di ruang CEO, tirai tertutup. Jakarta di luar jadi kabur. Ia membuka file tahap tiga: pemutusan rantai pasok terakhir yang masih menahan napas Wijaya—sisa gudang, sisa kredit yang belum 'dirapikan', sisa mitra yang masih ragu antara takut dan setia. Legal sudah rapi. Partner sudah siap. Arman sudah menunggu di ruang sebelah seperti pisau yang tidak perlu diasah.
Bara menatap angka. Angka tidak berlutut di halaman sekolah. Angka tidak demam. Angka tidak bilang 'Bu Guru bau sedih'. Angka tidak punya ibu di IGD. Angka adalah bahasa yang ia pilih supaya tidak harus jadi anak di lantai lagi.
Ia mengingat ayahnya—bukan mayat, yang hidup: 'Jangan pukul orang yang sudah di tanah, Nak. Itu bukan menang. Itu jahat.' Kalimat itu tidak masuk ke rencana dua puluh tahun. Rencana dua puluh tahun ditulis anak yang melihat tanah, bukan nasihat. Nasihat kalah oleh tali. Nasihat kalah oleh laporan polisi yang rapi. Nasihat kalah oleh nama Wijaya di pinggir koran.
Ponsel Sinta tidak ia miliki kuncinya lagi—isolasi dua arah, ironis. Ia hampir menelepon istrinya. Hampir bertanya Raka bagaimana. Hampir bilang 'aku lihat kau tadi. Kau mirip orang yang kukenal sebelum aku jadi ini'. Kalimat itu akan jadi celah. Celah adalah dosa dalam agama dendam. Arman sudah mengawasi dosa jenis itu, Bara curiga, meski belum punya bukti.
Satu jam berjalan. Kopi dingin. Ia berdiri, duduk, berdiri. Di laci meja kantor, foto ayah tersenyum di pabrik. Bara tidak membukanya. Membuka berarti kalah.
Arman masuk tanpa ketuk terlalu lama. 'Satu jam habis. Pasar tidak menunggu perasaan. Dewan juga tidak. Aku sudah menahan dua orang yang mulai bertanya kenapa tombol belum ditekan.'
'Aku tahu pasar,' sahut Bara.
'Kau tidak kelihatan seperti orang yang tahu pasar pagi ini. Kau kelihatan seperti orang yang melihat sesuatu di luar kantor lalu membawa pulang ke kursi ini.' Arman meletakkan tablet di meja, layar menyala pada peta merah. 'Tahap tiga. Ya atau tidak. Kalau tidak, aku perlu alasan yang bisa kujual ke dewan, bukan alasan yang berbau halaman sekolah dan perempuan berlutut. Sopir bukan bisu, Bara. Jangan kira jeda tidak kelihatan.'
Bara menatap peta serangan. Satu titik merah: sisa napas Wijaya. Kalau ditahan seminggu, ibu Sinta dapat tidur. Ayah Sinta dapat bernapas. Sinta dapat… apa? Tetap jadi lawan aktif? Tetap mengunci kamar? Tetap menyimpan salinan file di suatu tempat yang Bara belum temukan? Menahan tidak membeli damai. Menahan hanya membeli keraguan. Keraguan, dalam perang, adalah kekalahan yang belum diumumkan.
Ia hampir bilang 'tahan seminggu'. Kata itu sudah di lidah, hangat, berbahaya. Lalu wajah ayah di lantai menimpa wajah Sinta di semen, dan agama yang lebih tua menang.
'Lanjut,' kata Bara.
Satu kata. Rapuh di lidah, keras di udara.
Arman mengangguk, puas, tidak kaget. 'Bagus. Aku khawatir sempat…' ia mencari kata yang sopan, '…lembek. Lembek menular. Aku tidak mau terinfeksi.'
'Aku tidak lembek. Aku cek ulang. Itu profesional.'
'Profesional tidak butuh satu jam untuk file yang sudah dikunci seminggu lalu,' sahut Arman pelan, lalu tersenyum agar tidak terdengar seperti tuduhan. 'Tapi hasilnya sama. Itu yang penting. Sisanya biar jadi cerita yang tidak kita tulis.'
Setelah Arman keluar, Bara duduk menekan pelipis. Ia membuka draf pesan ke Sinta: 'Aku hampir batalin sesuatu. Lalu tidak. Jangan harap.' Ia menghapus. Menghapus adalah kebiasaan baru yang memalukan, seperti doa yang tidak jadi dipanjatkan.
Sore itu tahap tiga jalan. Telepon ayah Sinta meledak di rumah Wijaya sebelum maghrib. Sinta dapat kabar di sela jam pelajaran, di toilet guru yang berbau kaporit, ibu jari putih di layar. Ia tidak menangis. Titik terendah kemarin sudah menghabiskan jatah air mata yang mudah. Yang tersisa adalah dingin, dan dingin itu ia bawa masuk kelas, menulis soal, tersenyum pada anak yang tidak bersalah.
Ia pulang naik angkot, bukan karena romantis, karena kartu masih mati. Orang di sebelahnya makan seblak. Hidup orang lain terus. Di rumah, Bara sudah ada di ruang tamu, jas masih, seolah rapat belum selesai. Mereka saling tatap seperti dua orang yang sama-sama tahu sesuatu telah diputuskan tanpa undangan.
'Kau sempat menahan,' kata Sinta. Bukan tebakan buta. Ayahnya bilang 'sempat ada jeda aneh, lalu tetap jatuh, seperti orang menarik napas sebelum menandatangani'. Jeda itu cukup untuk dikenali orang yang sudah belajar membaca papan.
Bara tidak membantah. 'Lalu aku lanjut. Jangan buat jeda itu jadi harapan. Jeda adalah kesalahan. Kesalahan sudah dikoreksi. Tahap tiga bukan tentang kau. Jangan personalisasi angka.'
Sinta meletakkan tas guru di lantai. 'Aku rawat anak demam pagi ini. Kau lihat, kan? Mobilmu tidak terlalu samar. Kafe seberang tidak cukup jauh. Aku tidak butuh sopirmu untuk tahu.'
Bara terdiam. Ketahuan lebih menyakitkan dari tuduhan. Ia melepas jam, meletakkannya terlalu rapi.
'Aku lihat,' katanya akhirnya. 'Itu tidak mengubah angka. Anak itu bukan papan. Ayahmu yang papan.'
'Saya tidak minta angka berubah karena Raka demam.' Sinta menatapnya, mata capek, suara datar. 'Aku minta kau sadar: orang yang kau gilas punya anak, punya ibu, punya orang yang berlutut di semen. Kau dulu punya ayah yang berlutut. Kau pilih jadi orang yang tidak pernah turun ke tanah. Itu bukan kekuatan. Itu takut yang menyamar jadi konsisten.'
Bara berdiri. 'Jangan bawa ayahku ke halaman sekolahmu.'
'Kau yang bawa dia ke pernikahan ini,' sahut Sinta. 'Aku hanya mengembalikan. Satu jam itu milikmu. Kau buang. Ingat: aku lihat kau buang. Itu juga catatan. Bersama IGD. Bersama “tidak menyesal”. Bersama kartu yang mati di kasir. Aku sedang kaya catatan, Bara. Miskin fasilitas. Kaya catatan.'
Ia naik, mengunci kamar. Bunyi gembok kecil itu, bagi Bara, sekarang terdengar seperti bel yang tidak ia angkat semalam. Di bawah, ia tidak menuang wiski. Ia berdiri di tempat Sinta baru saja berdiri, dan untuk malam itu, kemenangan tahap tiga terasa seperti kopi yang tumpah di kafe: panas, pahit, dan tidak bisa diminum ulang—hanya bisa dihapus dari jas, meninggalkan bekas yang ia tahu masih ada.