Bara membalas dinding dengan cara yang ia kuasai: bukan tamparan, bukan teriakan, tapi penyempitan. Dunia Sinta dibuat lebih kecil tanpa perlu mengunci pintu dengan rantai.
Dalam tiga hari, kartu kredit rumah yang Sinta pakai untuk belanja dapur, bensin, dan taksi dadakan ke rumah ibu 'terblokir sementara karena audit internal keluarga'. Notifikasi bank masuk saat ia antri di kasir minimarket; wajah kasir menunggu, antrean di belakang batuk-batuk, Sinta mengembalikan susu dan roti, telinga panas, bilang 'maaf, kartu error' dengan senyum yang retak. Di parkiran ia duduk di mobil sampai AC otomatis mati, lalu sadar bensin juga menipis dan isi ulang butuh kartu yang sama. Sopir yang biasa siap dipanggil lewat satu pesan tiba-tiba 'jadwal penuh sampai akhir bulan'. Undangan makan siang dari istri rekan bisnis yang sempat ramah pada Sinta di ballroom dibatalkan lewat asisten: 'tuan Aditya meminta istri istirahat dari agenda sosial'. Di grup komplek, ada yang bilang 'semoga cepat beres ya', lalu sepi; Sinta merasa dibaca sebagai orang yang sedang 'ada masalah', lalu dijauhi halus agar sial tidak menular ke karpet mereka.
'Kau mengisolasiku,' kata Sinta di tangga suatu pagi, menahan marah agar tidak memberi tontonan pada pembantu yang sedang menyapu. 'Ini bukan audit. Ini hukuman.'
'Aku menyesuaikan fasilitas dengan status,' sahut Bara dari bawah, memakai sepatu, tenang. 'Lawan aktif tidak perlu kartu yang sama dengan istri kooperatif. Kau masih punya gaji guru. Hiduplah dari itu. Cukup untuk angkutan umum, nasi bungkus, dan pulsa. Romantis, bahkan—kembali ke akar sebelum taman, sebelum altar, sebelum kau jadi Nyonya. Isolasi ini pendidikan.'
'Saja melarang aku ke rumah ibu? Ke dokter?'
'Tidak. Aku hanya tidak memfasilitasi. Kalau kau ingin ke rumah sakit lagi, naik taksi dari gaji mu. Atau minta ayahmu—yang sedang hemat dan panik—menjemput. Sosial juga aku longgarkan: jangan malu. Orang akan bilang Nyonya Mahesa sedang belajar mandiri. Bagus untuk narasi. Lebih bagus dari narasi “istri histeris di IGD”.' Bara menoleh, mata dingin. 'Kau bangun dinding. Aku geser koridor. Fair.'
Sinta merasa dada sesak. Isolasi bukan tembok bata; isolasi adalah pintu yang masih terbuka tapi jalan di belakangnya dibuat berlumpur, gelap, mahal. Di cermin lift basemen kantor Bara—suatu sore ia terpaksa ikut karena tidak ada mode lain ke acara singkat yang tidak bisa ditolak—ia melihat dirinya kecil di samping logo Mahesa. Seseorang menyapa 'Nyonya' dengan kasihan yang menusuk. Sinta membalas anggukan, lalu menelepon Bu Laila di jam istirahat berikutnya, suara pelan di toilet guru: 'Antarku pulang hari ini? Kartu ku dimatikan. Aku malu di kasir. Aku hampir menangis di depan orang yang beli rokok.'
Bu Laila datang tanpa banyak tanya, membawa Sinta ke warung sederhana dekat sekolah, memaksa makan tahu goreng dan es teh. 'Ini perang. Dia mau kau capek, malu, lalu kembali jadi istri baik yang seduh kopi. Jangan. Minta ayahmu transfer kecil untuk transport—bukan sebagai anak manja, sebagai logistik perang. Dan tidur di rumah ku kalau perlu. Sofa ku jelek, berbunyi, tapi tidak punya daftar target dan tidak mematikan kartu.'
Sinta hampir menangis karena ditawari sofa, karena ada manusia yang menawarkan jalan tanpa klausul. 'Belum. Ibu masih butuh aku bolak-balik. Kalau aku hilang dari rumah Bara total, dia bisa putar narasi: istri kabur, istri tidak stabil, istri tinggalkan mertua sakit. Aku kenal cara kerjanya.'
'Maka datang dan pergi,' kata Bu Laila, menekan tangan Sinta. 'Tapi jangan sendirian di kepala. Kirim pesan tiap malam: “masih napas”. Kalau tidak ada kabar, aku datangi rumah singa itu dengan helm dan mulut.'
Malam itu di rumah, internet 'bermasalah' di kamar Sinta—hanya di kamarnya; ruang tamu lancar, kamar kerja lancar. Bara bilang teknisi besok. Sinta tahu itu bukan teknisi. Ia menulis di kertas, cara kuno, di bawah lampu senter ponsel: siapa yang bisa ditelepon, berapa ongkos angkot ke rumah ibu, ke mana flashdisk, bagaimana menjenguk tanpa meminta mobil Mahesa, berapa sisa gaji setelah bayar utang kecil ke Bu Laila untuk makan siang.
Bara lewat pintu yang terbuka, melihat kertas, tidak merebut—hanya tersenyum tipis. 'Bagus. Mencatat. Kau makin seperti aku. Rapi. Dingin. Siap.'
'Saya mencatat agar tidak jadi kau,' sahut Sinta, menutup kertas. 'Agar tidak lupa aku manusia.'
Bara mengetuk kusen. 'Kita lihat siapa yang lebih tahan tanpa fasilitas. Aku tumbuh tanpa banyak hal, Sinta. Kau tumbuh dengan teh di ruang tamu dan sopir. Isolasi ini pendidikan. Belajarlah cepat, atau dindingmu rubuh dari dalam.'
Setelah ia pergi, Sinta merobek kertas yang sudah ia hafal, membuang ke toilet, menguncinya, menyiram. Pendidikan itu terasa seperti hukuman. Dan hukuman, malam itu, berhasil membuatnya lebih sendirian dari yang ia duga—bahkan dinding yang ia bangun terasa digeser masuk oleh tangan yang lebih biasa menyempitkan dunia orang lain. Di luar jendela, lampu komplek mengilap. Anjing tetangga menggonggong pada bayangan. Di dalam, Sinta belajar bahwa perang modern bisa membuat orang lapar tanpa pernah mengunci dapur, bisa membuat orang sunyi tanpa pernah mengusir resmi, bisa membuat Nyonya Mahesa menghitung koin di dompet guru seperti mahasiswa tingkat akhir. Ia kirim pesan ke ayah: 'Tolong transfer transport. Bukan untuk gaya. Untuk ibu.' Ayah membalas cepat, pahit: 'Baik. Jangan bilang itu ke dia.' Sinta tinggal menatap layar, merasa bahkan bantuan ayah adalah jalur yang harus disembunyikan di rumah sendiri.