Berhenti menjadi istri baik tidak datang sebagai pidato di ruang tamu. Datang sebagai daftar kecil yang Sinta tulis di memo ponsel, lalu patuhi seperti RPP yang tidak boleh ditawar:
Tidak memasak untuk dua kecuali lapar sendiri.
Tidak menunggu di pintu.
Tidak tersenyum di depan pembantu seolah rumah bahagia.
Tidak menanyakan 'sudah makan?'.
Tidak mencuci kemeja yang digantung di gagang kamar mandi.
Tidak menjadi penerjemah panik ayah ke telinga Bara.
Tidak menjadi peredam berita buruk untuk ibu.
Tidak bilang 'tidur nyenyak' pada orang yang menulis namanya di spreadsheet.
Pembantu pagi itu menatap aneh saat Sinta bilang 'biarkan piring Tuan; biar dia yang bereskan kalau mau'. Perempuan itu mengangguk, takut salah pihak. Sinta tidak menjelaskan. Dinding juga berarti berhenti memakai orang lain sebagai perantara manis.
Pagi pertama setelah konfrontasi daftar, Bara turun dengan kemeja, mencari kopi seperti biasa. Ceret dingin. Kompor mati. Cangkir satu di meja—milik Sinta, sudah kosong, masih ada bekas lipstik tipis di tepi. Di luar jendela, tukang kebun menyiram tanaman yang tidak tahu soal spreadsheet.
'Tidak ada kopi?' tanyanya, bukan marah, lebih seperti mengecek sistem yang error.
'Saya buat untuk saya,' sahut Sinta tanpa menoleh dari ponsel, scroll berita yang tidak ia baca. 'Mesin di sana. Air di galon. Filter di laci. Kau CEO; kau bisa mengoperasikan seduhan. Atau suruh asisten. Jangan suruh istri yang sudah kau katalog.'
Bara terdiam, menatap mesin kopi seolah itu lawan baru, lalu—anehnya—mengangguk kecil. 'Baik. Dinding. Kusarankan jangan terlalu tinggi; angin perang tetap masuk. Dan dinding yang terlalu rapat membuat orang di dalamnya kehabisan oksigen lebih dulu.'
'Saran dicatat. Tidak dituruti,' kata Sinta. 'Oksigen ku lebih banyak saat tidak memasak untuk mu.'
Di sekolah, Bu Laila menyodorkan nasi bungkus dan teh manis. 'Kau kelihatan seperti orang yang baru putus dengan versi dirinya yang terlalu baik. Bagus. Versi itu hampir membunuhmu pelan-pelan. Aku lebih suka wajahmu yang sekarang—capek, tapi tajam.'
'Saya temukan daftar,' bisik Sinta di gudang alat olahraga, bau karet dan debu. 'Namaku di situ. Peran pintu. Dia tidak menyesal. Dia bilang menyesal hanya karena sticky note.'
Bu Laila mengutuk pelan, menendang bola sampai membentur dinding. 'Binatang berdasi. Simpan salinan di luar rumah. Jangan di HP yang dia bisa periksa. Jangan di laci kamar. Kalau perlu, titip padaku. Aku bukan pahlawan, tapi aku bisa jadi laci yang tidak dia punya kunci. Dan aku tidak masuk prenup mu.'
Sinta mengangguk, mata basah ditahan. Di ruang guru ia menulis catatan palsu soal 'persiapan UTS' agar tidak kelihatan seperti orang baru saja menyelundupkan bukti perang. Malam itu flashdisk pindah ke laci meja Bu Laila, di amplop coklat bertuliskan 'soal UTS cadangan—jangan digeser'. Bu Laila mengunci laci, memasukkan kunci ke tas, mengedip. 'Kalau rumahmu terbakar, bukti ini tidak ikut habis. Ingat itu baik-baik.'
Di perjalanan pulang—masih naik mobil Bara, masih sebelum kartu mati—Sinta menatap kota dan berlatih kalimat yang tidak akan ia ucapkan: terima kasih sudah tidak menyesal; itu membuat perlawananku lebih mudah. Marah yang jernih lebih berguna dari marah yang bingung. Itu yang ia ulang di setir sampai lampu merah berganti.
Di rumah, Bara mencoba satu kali jalur lama yang dulu mempan: memesan makanan favorit Sinta dari restoran taman dulu, meletakkannya di meja makan tanpa komentar, bahkan memasang sumpit rapi. Bau cabai mengisi ruang. Sinta membuka kotak, mengambil bagiannya ke piring kecil, makan berdiri di dapur, lalu menyimpan sisanya di kulkas tanpa menyajikan ke piring Bara, tanpa bilang terima kasih.
'Ini untuk dua,' kata Bara dari pintu dapur. 'Porsi biasa kita.'
'Saya lapar untuk satu,' sahut Sinta. 'Kau bisa pesan lagi. Kartu ku masih ada—untuk sekarang. Atau makan yang di kulkas. Aku tidak racuni. Aku hanya tidak melayani.'
Bara menatapnya seolah melihat variabel yang berubah rumus di tengah kuartal. 'Kau pikir dinding membuatku berhenti menekan ayahmu? Membuatku menyesal?'
'Tidak,' jawab Sinta jujur, mencuci piringnya sendiri. 'Dinding membuat aku berhenti mati pelan sambil menyeka mejamu. Membuat aku berhenti jadi stabilisasi citra gratis. Itu cukup untuk malam ini. Besok bisa lebih tinggi.'
Ia naik ke kamar, mengunci dari dalam—pertama kali sejak menikah. Bunyi gembok kecil di gagang terdengar seperti napas baru, seperti garis kapur di lantai kelas: ini wilayahku. Bara berdiri di luar sebentar; Sinta melihat bayangan kaki di celah pintu, menunggu ketukan kedua yang tidak datang. Di balik pintu, Sinta duduk di lantai, gemetar, memeluk lutut, tapi tidak memasak, tidak meminta maaf, tidak membuka. Ia menghitung napas sampai empat puluh. Dinding pertama berdiri: tipis, goyah, nyata—dan untuk pertama kali dalam minggu-minggu ini, Sinta tidur tanpa menunggu langkah kaki di koridor sebagai izin untuk bernapas. Ia masih takut. Takut tidak membuatnya membuka kunci. Di meja nakas, cincin kawin ia lepas sementara, dimasukkan ke laci, bukan dilempar—karena bahkan marahnya masih tertib, masih guru, masih belum selesai belajar jadi lawan. Besok, pikirnya sebelum mata terpejam, aku tetap tidak akan seduh kopinya. Aku akan seduh untuk diri sendiri saja, minum di kamar terkunci, dan belajar bahwa istri baik yang mati pelan bukan satu-satunya peran yang tersedia di rumah ini.