Mereka tak bisa pergi sendirian, dan Ratri tahu itu. Maka malam itu, di pendapa rumah joglo, ia mengumpulkan ibunya dan Pakdhe Hartono, menjauh dari kamar Bara, bicara dengan suara serendah mungkin.
Ibunya menggenggam tangan Ratri sepanjang cerita, jari-jarinya makin erat di setiap kata. Pakdhe Hartono, yang sejak kematian Danu lebih banyak diam, mendengarkan dengan rahang terkatup keras.
"Jadi makam itu," kata Pakdhe akhirnya, suaranya serak, "tempat dia paling kuat. Dan kau mau kita pergi ke sana. Atas dasar dongeng juru kunci tua."
"Bukan dongeng, Pakdhe." Ratri meletakkan buku catatannya di tengah, terbuka pada halaman yang ia tulis seharian. "Kakek mencari hal yang sama. Kakek tahu nama itu kuncinya. Cuma dia tak pernah cukup berani sampai ke sana. Kita—" ia menelan ludah, "—kita tidak punya kemewahan untuk tidak berani. Setiap malam Mas Bara makin jauh dari dirinya sendiri. Kalian sudah lihat sendiri di selamatan empat puluh hari. Suara itu bukan suaranya."
Ibunya menggigil mendengar pengingat itu. Pakdhe Hartono menutup mata sejenak, dan ketika ia membukanya, ada sesuatu yang patah di sana—sisa-sisa seorang ayah yang sudah kehilangan anaknya, dan kini diminta mempercayai bahwa anak itu bisa saja masih bisa diselamatkan jika ia tak terlalu pengecut.
"Demi Danu," katanya akhirnya, parau. "Bukan demi Bara. Demi anakku, yang ditelan hutan itu. Kalau ada kesempatan menutup lubang yang menelannya, aku ikut."
Mereka berangkat besok paginya, saat matahari sudah cukup tinggi—Mbah Joyo dulu mengajarkan bahwa entitas itu paling lemah di tengah cahaya. Mbah Kasiman, juru kunci itu, ikut, membawa parang untuk membabat semak dan sekantong garam serta menyan, sekadar berjaga. Mereka menyusuri tepi hutan dari arah selatan, menghindari jalan setapak ke joglo lama yang masih membekas mengerikan dalam ingatan Ratri.
Makam itu, ketika mereka temukan, hampir terlewat. Bukan kuburan dalam arti biasa—hanya gundukan tanah yang sedikit meninggi di tepi hutan, di bawah sebatang pohon beringin tua yang akarnya menjalar seperti urat-urat raksasa, mencengkeram tanah. Tak ada nisan. Tapi di hadapannya, udara terasa berbeda: lebih kental, lebih dingin, dan ada dengung halus di telinga seperti suara yang nyaris terdengar tapi tak pernah jelas.
"Di sini," bisik Mbah Kasiman, dan suaranya bergetar. Ia menebar garam di sekeliling kakinya sebelum berani mendekat. "Bapakku menunjukkan tempat ini sekali, dari jauh, lalu menyeretku pergi. Dia bilang, di malam Selasa Kliwon, tanah di sini menghangat. Seakan ada yang masih bernapas di bawahnya."
Ratri berlutut di depan gundukan itu, hati-hati, dan menyentuh tanahnya. Dingin. Tapi tepat di tengah, di mana seharusnya nisan berdiri, jari-jarinya merasakan sesuatu yang keras terkubur dangkal—sebuah batu pipih. Dengan bantuan Pakdhe Hartono, mereka menggali pelan, dan mengangkatnya: sebuah lempeng batu hitam, separuh remuk, dengan ukiran aksara Jawa kuno yang sudah aus dimakan zaman.
"Nisannya," kata Ratri, napasnya tertahan. "Tidak hilang. Cuma dipendam. Supaya tak ada yang membaca namanya."
Mbah Kasiman menatap aksara itu lama, bibirnya bergerak tanpa suara, lalu wajahnya memucat dan ia mundur selangkah. "Aku tak bisa membaca seluruhnya. Sudah terlalu aus. Tapi yang tersisa—" ia menunjuk dengan jari gemetar, "—ini bukan nama biasa. Ini nama yang sudah dikutuk. Dibawa pulang ke desa pun, bisa membawa celaka."
Tapi Ratri sudah memotret lempeng itu dengan ponselnya, dari segala sudut, dengan tangan yang dingin oleh sesuatu yang lebih dari udara hutan. Saat ia menegakkan tubuh, ia melihat sesuatu di antara akar-akar beringin—seekor gagak, hitam pekat, bertengger diam, menatapnya dengan satu mata yang memantulkan cahaya seperti kaca.
Lalu gagak itu membuka paruhnya, dan alih-alih bersuara gagak, dari kerongkongannya keluar sepotong senandung—tembang Jawa kuno yang naik turun seperti tangisan. Tembang yang sama yang dinyanyikan Bara dalam tidurnya.
Ratri membeku. Di sekelilingnya, ibunya, Pakdhe, dan Mbah Kasiman juga membatu, semua mendengarnya.
"Dia tahu kita di sini," bisik Ratri. "Lewat Mas Bara, dia tahu. Kita harus pulang. Sekarang."