Mbah Kasiman membawanya ke sebuah gubuk kecil di tepi makam, tempat ia menyimpan barang-barang lama: lembaran-lembaran kuno yang dibungkus kain, kendi, dan sebuah peti kayu yang sudah dimakan rayap. Dari dalam peti itu ia mengeluarkan gulungan kertas yang begitu rapuh sampai Ratri takut bernapas terlalu keras.
"Ini silsilah para demang Gandasuli," kata juru kunci itu, membentangkannya hati-hati di atas tikar. "Bapakku menyalinnya dari catatan yang lebih tua. Aku tak pernah berani membacanya keras-keras. Tapi kamu sudah terlanjur basah, Nduk. Biar kuceritakan apa yang kutahu."
Ia menunjuk satu baris di pangkal silsilah, tulisan yang sudah nyaris pudar. "Zaman dulu, ketika tanah ini masih hutan dan rawa, kumpeni mengangkat seorang demang untuk membuka lahan dan memungut pajak. Demang itu perempuan. Itu sendiri sudah aneh untuk zamannya—perempuan yang memegang kuasa. Konon dia istri priayi yang cerdas dan keras, yang memerintah di balik suaminya yang lemah, dan menjalankan tanah itu dengan tangan besi."
Ratri menyalin setiap kata dengan cepat. "Perempuan," ulangnya pelan, dan tiba-tiba ia teringat penampakan di pendapa: sosok berkebaya, rambut tergerai, yang berubah dari nenek tua ke gadis muda. Selalu perempuan. "Apa yang terjadi padanya, Mbah?"
Wajah Mbah Kasiman menggelap. "Masa panen gagal bertahun-tahun. Wabah datang. Rakyat mati kelaparan, tapi pajak kumpeni tak boleh kurang. Demang perempuan itu terjepit—antara tuannya yang menuntut dan rakyatnya yang sekarat. Maka, kata cerita, dia pergi ke tengah hutan tergelap di tanah kekuasaannya. Ke tempat yang sekarang berdiri joglo lama itu. Dan di sana dia membuat perjanjian dengan sesuatu yang sudah ada di situ jauh sebelum manusia mana pun datang."
Bulu kuduk Ratri berdiri. "Perjanjian yang sama."
"Perjanjian yang pertama," koreksi juru kunci itu. "Dia menukar kemakmuran tanahnya—dan kuasanya sendiri—dengan tumbal. Mula-mula dia mengira ia bisa membayar dengan rakyat yang sudah hampir mati. Tapi yang ditunggu di hutan itu tidak menerima orang sembarangan. Ia menuntut darah daging sang demang sendiri. Garis keturunannya." Mbah Kasiman menatap Ratri dengan iba yang dalam. "Satu per satu anak-anaknya hilang ditelan hutan. Demang itu jadi gila oleh penyesalan. Tapi terlambat. Ia sudah terikat. Dan ketika ia mati—konon tak benar-benar mati. Yang menunggu di hutan itu memakannya, dan memakai wajahnya, dan suaranya, dan kuasanya, dan sejak itu mengenakannya seperti orang mengenakan kebaya. Sang penunggu yang lama lenyap di balik wajah perempuan itu. Yang tersisa cuma topengnya. Yang orang sebut—"
"Mbah Demang," bisik Ratri.
Juru kunci itu mengangguk, dan seakan menyebut nama itu saja sudah membuat udara di gubuk terasa lebih dingin. "Pangkatnya jadi namanya. Wajahnya jadi topeng bagi sesuatu yang jauh lebih tua. Tapi—dan inilah yang kakekmu cari—di balik topeng itu, ada manusia. Perempuan yang dulu hidup, yang dulu juga menukar keluarganya demi kuasa, persis seperti kakekmu. Dia korban, Nduk. Tapi dia juga pemangsa. Dan dia tak pernah bisa mati."
Ratri menatap silsilah rapuh itu. Di ujung baris sang demang, di tempat seharusnya tertulis namanya, kertas sudah robek dan hilang, seakan ada yang sengaja menyobeknya.
"Namanya hilang dari sini," katanya, suaranya tercekat. "Persis seperti nama tumbal pertama yang dihapus dari silsilah kami."
"Karena nama adalah pengikat," kata Mbah Kasiman pelan. "Selama tak ada yang menyebutnya, dia bebas berpindah dari wajah ke wajah, dari rumah ke rumah. Tapi jika kau temukan namanya yang asli—nama manusianya, bukan pangkatnya—kau bisa mengikatnya kembali ke dirinya yang dulu. Memenjarakannya di dalam manusia yang sudah lama mati." Ia menggulung kertas itu dengan tangan gemetar. "Tapi nama itu sudah disobek dari sini, entah oleh siapa, entah berapa lama lalu. Dan satu-satunya tempat ia mungkin masih tertulis utuh adalah di pusaranya sendiri. Makam tanpa nisan, di tepi Gandasuli. Tempat yang tak seorang pun di desa ini berani menjamahnya."
Ratri menutup buku catatannya. Di luar, kamboja terus menjatuhkan bunga putih ke atas pusara-pusara tua, dan untuk sesaat Ratri merasa seperti melihat seluruh garis korban—dari demang perempuan itu sampai Danu—berbaris dalam diam, menunggu seseorang akhirnya membayar utang yang dimulai ratusan tahun sebelum mereka lahir.