Halaman baru itu dibuka Bara dengan sebuah pengumuman di meja makan: di sekolahnya akan ada tugas akhir semester — presentasi bebas, tema 'Pahlawanku'.
Pengumuman itu disampaikan dengan formalitas yang berlebihan: Bara berdiri di kursinya, memukul gelas dengan sendok — meniru apa yang pernah dilihatnya di televisi — dan menunggu sampai Bi Inah berhenti mengangkat piring, yang memakan waktu lebih lama dari pidatonya.
'Aku mau presentasi tentang Mama Laras dan Om Sekar,' katanya, dengan ketetapan yang tidak membuka ruang tawar. 'Boleh?'
Reza dan Nayaka bertukar pandang di atas meja. Pertanyaan itu sederhana dan tidak sederhana: mempresentasikan dua pahlawan berarti mempresentasikan dua kematian, dan mempresentasikan dua kematian berarti membawa seluruh kelas delapan tahun itu ke tepi sesuatu yang bahkan orang dewasa sulit berdiri di sana.
'Boleh,' kata Nayaka akhirnya. 'Dengan aturan: ceritakan hidupnya, bukan matinya. Pahlawan tidak diukur dari bagaimana mereka pergi. Diukur dari apa yang mereka tinggalkan.'
Maka proyek itu dimulai, dan menjadi proyek seluruh rumah. Hendra datang dengan foto-foto Sekar dari lemari kaca — foto yang empat tahun menghadap dinding, sekarang dipindai satu per satu untuk slide presentasi seorang anak delapan tahun. Reza membuka kotak yang sudah lama tidak ia buka: foto-foto Laras, buku catatannya, dan surat-surat yang sudah ia hafal. Nayaka menyusun narasinya, karena dari semua orang di rumah itu, dialah yang paling tahu cara bercerita tanpa membocorkan luka.
Ada satu sesi yang tidak direncanakan dan menjadi favorit semua orang: Bara mewawancarai Hendra. Dengan buku catatan dan pensil yang dijepit di kuping seperti wartawan sungguhan, ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sudah ia siapkan semalam — dan satu yang tidak: 'Kakek bangga sama Tante Sekar?'
Hendra diam cukup lama sampai Bara mengira kakeknya tidak mendengar. Lalu lelaki tua itu menjawab dengan suara yang ia jaga tetap datar: 'Kakek bangga dua kali, Nak. Sekarang, dan dulu — cuma dulu Kakek terlalu bodoh untuk bilang. Jadi Kakek bilang sekarang dua kali, untuk menutup yang dulu.' Bara mencatat itu dengan huruf-huruf besar, dan di pinggirnya menulis: *'pertanyaan bonus berhasil.'*
'Mulai dari mana?' tanya Bara, pensil di tangan, poster board di meja.
'Mulai dari hal yang paling kamu suka dari mereka,' kata Nayaka.
'Aku tidak pernah ketemu mereka.'
'Kamu ketemu setiap hari,' jawab ibu tirinya itu. 'Mama Laras ada di lampu taman yang membuatmu tidak takut hujan. Om Sekar ada di beasiswa yang membuat dua belas kakak bisa kuliah. Pahlawan itu bukan yang kamu ketemu, Bar. Pahlawan itu yang terus bekerja setelah kamu lupa mereka pernah ada.'
Bara menulis kalimat itu — disederhanakan, dieja dengan kampungan yang menggemaskan — dan menjadikannya kalimat pembuka presentasinya.
Sementara proyek itu tumbuh, kabar lain datang dari arah yang berbeda: dari lapas, lewat Aditya, datang surat untuk Reza. Bukan dari Danu — Danu tidak pernah menulis lagi sejak ruang besuk itu, dan tidak ada yang mengharapkannya menulis; beberapa pintu memang ditutup untuk selamanya, dan kedua belah pihak sudah sepakat tentang itu tanpa pernah membicarakannya. Surat itu dari Arga Mahesa.
Isinya pendek dan tidak meminta apa-apa. Ia menulis bahwa ibunya sehat, bahwa ia mulai mengajar kelas membaca untuk napi yang tidak bisa membaca, dan bahwa buku kecilnya yang baru sudah berisi seratus halaman — 'kali ini tidak ada yang perlu ditakuti di dalamnya, hanya pelajaran membaca dan daftar hutang saya kepada dua keluarga yang tidak akan pernah bisa saya bayar'. Ia menulis tentang kelasnya dengan detail yang tidak perlu: lima belas murid, satu papan tulis sumbangan, dan seorang narapidana enam puluh tahun yang minggu lalu berhasil menulis namanya sendiri untuk pertama kalinya — dan menangis. 'Saya tidak menangis,' tulis Arga, 'karena saya sedang mengajar. Tapi saya mengerti dia. Menulis nama sendiri itu rasanya seperti akhirnya punya kaki.'
Di akhir surat ia menulis satu kalimat yang membuat Reza membaca surat itu sampai selesai dua kali sebelum menyerahkannya kepada Nayaka:
*'Saya tidak minta dimaafkan. Saya cuma ingin Bapak tahu bahwa lima belas tahun ini akan saya pakai untuk menjadi orang yang seharusnya — orang yang bertanya, sebelum bertindak. Empat tahun saya bertahan dengan tidak bertanya. Lihat hasilnya. Sekarang saya mau coba cara sebaliknya.'*
'Kau akan membalasnya?' tanya Nayaka.
'Akan,' kata Reza. 'Bukan karena dia pantas dibalas. Karena orang yang sedang belajar jadi benar tidak boleh dikirimi keheningan. Keheningan itu bahasa lama. Dia sedang belajar bahasa baru.'
Nayaka membaca ulang surat Arga itu sekali lagi, di bawah lampu meja, dan jari-jarinya berhenti di baris tentang murid enam puluh tahun yang menangis. 'Aku tidak akan pernah memaafkannya untuk dua tikungan itu,' katanya pelan. 'Tapi aku tidak mau jadi orang yang menolak melihat orang lain belajar menulis namanya sendiri. Dua-duanya bisa benar bersamaan, Za. Itu hal paling sulit yang kupelajari dari perkara ini: dua hal yang bertolak belakang bisa benar bersamaan, dan kamu harus memegang keduanya tanpa menjatuhkan satu pun.'
Ia membalas surat itu malam itu juga — pendek, jujur, tanpa ampunan palsu dan tanpa kekerasan yang sudah tidak berguna. *'Bertanyalah,'* tulisnya di akhir. *'Dan kalau jawabannya menakutkan, bertanyalah lagi. Itu satu-satunya cara yang kami tahu.'*
Ia membaca ulang surat balasannya sebelum disegel, lalu menambahkan satu baris lagi di pinggir bawah, dengan tulisan yang lebih pelan: *'Salam untuk murid enam puluh tahunmu. Bilang padanya: dari seseorang yang juga pernah lama tidak punya kaki.'*
Dan di kebun kecil, tomat-tomat kedua memerah bertepatan dengan selesainya poster Bara — poster dua halaman yang berdiri di ruang tengah, menunggu harinya, dengan dua foto di bagian atas yang dipilih lewat pemungutan suara keluarga: seorang perempuan dengan senyum yang membaca angka seperti cerita, dan seorang perempuan muda dengan mata yang tidak pernah takut.