Mereka benar-benar datang — sebulan kemudian, di akhir pekan yang cerah, dengan Bara di kursi belakang dan oleh-oleh kue dari Bi Inah di pangkuan Nayaka.
Perjalanan tiga ratus kilometer itu sendiri sudah menjadi bagian dari hadiahnya. Mereka melewati kota-kota kecil yang tidak pernah mereka singgahi, berhenti di warung sate yang dipilih Bara karena namanya lucu, dan melintasi jalan-jalan yang dulu hanya mereka kenal dari berkas-berkas sidang. Tidak ada yang mengecek spion. Tidak ada yang menengok ke belakang. Di satu titik, ketika mereka melewati sebuah tikungan pegunungan yang sepi, Nayaka menyadari sesuatu dan mengatakannya pelan: 'Ini tikungan pertama yang kulewati tanpa menahan napas.' Reza tidak menjawab, tapi tangannya mencari tangan istrinya di atas konsol, dan tikungan itu lewat seperti tikungan-tikungan lainnya — sebuah jalan yang menikung, dan tidak lebih.
Bengkel Yanto Sularso berdiri di jalan kecil di kota itu, dengan papan nama baru yang dicat sendiri: huruf-hurufnya tidak rata, dan justru karena itu terlihat jujur. Di dalamnya ada tiga karyawan muda, satu radio tua yang bersiul, dan bau oli yang oleh Bara diumumkan sebagai 'bau bengkel yang sebenarnya'.
Yanto menyambut di pintu. Tiga tahun sebagai bayangan dan satu tahun sebagai saksi kunci tidak menghapus caranya menyambut tamu: membungkuk, mengelap tangan ke celana, tersenyum seperti orang yang masih belum percaya boleh tersenyum.
'Mobilnya sehat?' tanyanya kepada Reza, dan pertanyaan itu adalah pertanyaan pertama yang normal di antara mereka sejak bertahun-tahun.
'Sehat. Tapi sengaja kami bawa ke sini untuk dicek orang yang benar.'
'Mobil sehat tetap perlu dicek,' jawab Yanto sambil membuka kap mesin dengan gerakan yang tidak pernah dilupakan tangan mana pun. 'Kayak orang. Yang sehat justru yang rutin diperiksa. Yang mogok mendadak biasanya yang merasa tidak perlu.' Ia mengangguk ke dalam, puas dengan filsafatnya sendiri, lalu mulai bekerja.
Lelaki tua itu tertawa — tawa yang keluar dengan hati-hati, seperti mesin lama yang dipanaskan. Ia memeriksa mobil itu sambil bercerita: tentang kota yang berubah, tentang anaknya yang sekarang bercita-cita jadi polisi 'karena waktu itu ada polisi yang menjaga kami', tentang pelanggan-pelanggan lama yang kembali satu per satu seperti burung pulang musim.
Anak itu — yang dulu diikuti motor tanpa plat pulang sekolah — sore itu pulang membawa tas dan langsung diperkenalkan kepada Bara. Dua anak itu mengukur satu sama lain selama tiga menit penuh, lalu menemukan titik temu di tempat yang tidak terduga: sama-sama pernah menjadi anak yang dijaga. Mereka tidak membicarakannya, tentu saja; anak-anak tidak pernah membicarakan hal-hal besar. Mereka membicarakan robot, dan bengkel, dan apakah dinosaurus bisa berenang — perdebatan lama yang oleh Bara dibawa dengan bangga seperti warisan keluarga.
Kue Bi Inah dibuka dan habis dalam sepuluh menit, dengan tiga karyawan muda yang makan berdiri dan seorang ayah pemilik bengkel yang memuji dengan cara orang Jawa memuji: tidak berlebihan, tapi minta resepnya untuk istrinya.
'Tidak ada yang bertanya tentang dulu,' katanya. 'Atau ada, dan saya jawab: sudah selesai, sudah di pengadilan, sudah di berita. Lalu kami bicara soal rem. Enak sekali, Pak Reza, bicara soal rem sebagai rem.'
Sementara mobil diperiksa, Bara berkeliling bengkel dengan izin dan dengan buku catatannya — bukan Catatan Keamanan, melainkan Catatan Keluarga, yang kini berisi hal-hal yang ingin ia ingat. Ia menulis: *'Bengkel Om Yanto berisik dan bau oli dan bagus.'* Lalu, setelah berpikir: *'Orang-orang yang dipaksa tutup sekarang buka lagi. Itu namanya menang, kata Mama.'*
Di sudut bengkel, di dinding yang baru dicat, ada satu bingkai kecil yang sengaja dipasang Yanto: bukan foto keluarga, bukan poster mobil — melainkan potongan berita surat kabar tentang vonis. Ia memandang bingkai itu ketika Nayaka menanyakannya.
'Orang bilang tidak baik memajang masa lalu yang jelek,' katanya. 'Tapi bagi saya itu bukan masa lalu yang jelek. Itu surat keterangan. Bahwa saya pernah benar, dan negara mengakuinya, dan siapa pun yang masuk ke bengkel ini dan ragu boleh membaca bahwa pemiliknya pernah memilih benar ketika salah lebih enak.' Ia mengelap tangannya lagi, kebiasaan yang tidak akan pernah hilang. 'Tiga tahun saya tutup karena takut. Sekarang setiap pagi saya buka karena tidak. Itu satu-satunya perbedaan, dan perbedaan itu isinya satu bengkel penuh.'
Ia menambahkan satu hal sebelum mereka pulang, sambil menyerahkan kunci mobil yang sudah selesai diperiksa — dengan wajah orang yang sudah lama menyimpan kalimatnya: 'Dulu saya kira tutup itu cara bertahan. Ternyata tutup cuma cara menunggu. Yang namanya bertahan itu buka, Bu Nayaka. Setiap pagi, meskipun tangan masih gemetar. Lama-lama gemetarnya kalah sama kebiasaan.'
Nayaka menyimpan kalimat itu di tempat ia menyimpan kalimat-kalimat penting: bukan di catatan, melainkan di tempat yang akan memunculkannya kembali tepat ketika dibutuhkan.
Dalam perjalanan pulang, Bara tertidur dengan buku catatannya di dada. Nayaka memandang kota kecil yang mundur di jendela.
'Kita berutang ke banyak orang,' katanya pelan. 'Yanto. Fahmi. Ibu Lastri. Penjaga warung yang namanya saja aku tidak ingat. Perkara besar itu rupanya tidak dimenangkan orang besar, Za. Dimenangkan tukang bengkel, calo surat, ibu kos, dan penjaga kopi.'
'Dan satu anak yang tahu tiang listrik tidak layak difoto.'
'Dan satu anak itu,' Nayaka tersenyum, menoleh ke kursi belakang. 'Keluarga ini utangnya banyak sekali. Bayarnya seumur hidup.'
'Bayarnya dengan apa?'
'Dengan tidak pernah lupa,' kata Nayaka. 'Itu satu-satunya cicilan yang mereka minta.'
Malam itu, di buku Catatan Keluarga, Bara menulis satu halaman penuh sebelum tidur — tentang bengkel, tentang bau oli, tentang papan nama yang hurufnya tidak rata. Di kalimat terakhirnya, dengan huruf yang lebih kecil dan lebih hati-hati, ia menulis sesuatu yang akan dibaca Nayaka keesokan paginya dengan mata yang panas:
*'Om Yanto bilang menang itu bukan yang lain kalah. Menang itu buka lagi. Besok aku mau buka lagi juga — buka halaman baru.'*