Sidang banding Danu Wijaya berlangsung singkat, dan kesingkatannya sendiri adalah pesan.
Pengadilan tinggi menolak seluruh permohonan banding dan menguatkan vonis: penjara seumur hidup. Pertimbangannya dibacakan dalam empat puluh menit — Kalimaya, dua kematian, kesaksian Arga dan Yanto, buku kecil yang setiap tanggalnya cocok dengan dokumen negara. Pledoi yang dulu mengguncang ruang sidang itu kini dibaca ulang oleh para hakim tinggi dan dinilai seperti dinilai kertas: tidak ada fakta baru, hanya gaya.
Aditya membaca salinan putusan itu di kantornya dengan kepuasan seorang profesional yang sudah melihat segalanya. 'Bandng itu bukan untuk menang,' katanya kemudian kepada Reza. 'Bandng itu untuk membuktikan kepada sejarah bahwa vonisnya diuji dua kali dan dua kali menang. Sekarang tidak ada lagi yang bisa digoyang. Pidana seumur hidup itu sudah berhenti menjadi kalimat — dia sudah menjadi alamat.'
Di lapasnya, Danu menerima kabar itu dengan mengangguk kepada petugas, lalu kembali ke buku bacaannya — satu-satunya kemewahan yang masih ia miliki. Ia tidak terlihat hancur. Ia terlihat seperti orang yang sudah menghitung kerugian ini sejak lama dan tinggal menunggu konfirmasinya, dan entah bagaimana, itu lebih mengerikan daripada hancur.
Danu mendengarkan lewat sambungan video dari lapas. Ketika palu diketuk, ia mengangguk kecil — gerakan yang sudah dikenal semua orang — lalu meminta izin bicara satu hal.
'Saya dengar,' katanya kepada kamera, kepada ruangan, kepada siapa pun yang masih mendengarkannya, 'teman lama saya sudah bergabung di gedung ini. Gilang Pramudya. Benar?'
Tidak ada yang menjawab. Tidak ada yang wajib menjawab.
'Bagus,' kata Danu, dan ia tersenyum — senyum yang membuat jaksa penuntut mencatatnya secara resmi dalam berita acara. 'Kalian menangkap orang yang tidak pernah menyentuh apa-apa, atas perbuatan orang yang menyentuh segalanya. Sekarang ada dua orang di dua sel yang tidak saling percaya. Itu cara dia menang, kalian tahu. Dia tidak perlu bebas untuk menang. Dia hanya perlu kalian terus membaca satu sama lain.'
Pengawal mengakhiri sesi itu. Tapi sebelum layar dimatikan, Danu berkata satu hal lagi — ke arah kamera, tapi semua yang hadir tahu untuk siapa kalimat itu sebenarnya:
'Periksa tanggal yang dia lingkari terlalu keras. Itu bukan tanggal dia bergerak. Itu tanggal dia *selesai*.'
Reza mendengar laporan sidang itu dari Aditya sore harinya, di teras, dengan Nayaka di sampingnya dan suara Bara serta Bimo berkejaran di kebun kecil.
Ratna datang menyusul kemudian, tidak dengan wajah rapat, melainkan dengan wajah orang yang mengantar kabar baik ke rumah yang pantas menerimanya. Ia bahkan menerima tawaran Bi Inah untuk minum teh — kemajuan sosial yang oleh Dafa dicatat dengan takjub, karena atasannya itu tidak pernah menerima teh dari siapa pun selama perkara berjalan.
Anak-anak itu sedang memainkan permainan baru: mencari 'jejak' di antara tanaman, meniru polisi-polisi yang selama berbulan-bulan datang dan pergi dari rumah mereka. Bimo menemukan jejak kucing dan mengumumkannya seperti temuan forensik. Bara memeriksanya dengan buku dinosaurusnya, menulis sesuatu dengan serius, dan menyimpulkan: 'Bukan tersangka. Cuma tetangga.' Dua orang dewasa di teras tertawa — tawa yang akhir-akhir ini datang lebih mudah, seperti otot yang kembali setelah lama cedera.
'Tanggal dia selesai,' ulang Reza, kembali ke pokok pembicaraan. 'Empat tahun kematian Laras. Apa yang selesai pada hari peringatan?'
'Sesuatu yang dia rayakan sendiri, atau sesuatu yang dia tutup sendiri,' kata Nayaka. 'Orang yang dua puluh tahun mengarsipkan hidup orang lain pasti punya satu lemari yang tidak pernah dia buka ke siapa pun. Tanggal itu bukan untuk kita. Tanggal itu untuk dia.'
Dua jam kemudian Ratna membuka berkas baru di meja teras itu — hasil pembongkaran keuangan Gilang yang selama ini tampak membosankan: tabungan bersih, tanpa utang, tanpa kemewahan. Tapi Dafa, yang sekarang membaca buku hitam itu seperti membaca kitab, menemukan satu garis kecil yang berulang setiap bulan selama tiga tahun, nominalnya kecil dan konsisten.
Penemuan itu sendiri terjadi dengan cara yang tidak heroik: Dafa, kelelahan dan kehabisan kopi, membaca mutasi rekening mundur sambil menguap, dan berhenti menguap tepat di baris keempat puluh. Nominalnya terlalu kecil untuk dicurigai dan terlalu konsisten untuk diabaikan. Ia membandingkannya dengan buku hitam itu, tanggal demi tanggal, dan ketika polanya menyambung, ia tidak bersorak — ia mengirim pesan ke Ratna dengan tiga kata saja: *Bu. Gudang. Ketemu.*
'Transfer ke sebuah perusahaan penyimpanan,' kata Ratna, meletakkan lembar itu di meja teras. 'Gudang sewaan. Per bulan, tidak pernah telat, tidak pernah naik. Kita semua melewatkannya karena terlalu... biasa.'
'Isinya?'
'Belum tahu. Surat penggeledahan baru keluar besok pagi.' Ratna menatap keluarga itu satu per satu. 'Tapi ada satu hal yang Bapak dan Ibu perlu dengar sekarang, supaya tidak jadi kejutan: masa sewa gudang itu berakhir tiga minggu lagi. Tepat di tanggal ketiga. Kalau tidak diperpanjang, isinya dibuang.'
Hening turun ke teras itu. Di kejauhan Bara tertawa tentang sesuatu, dan suara itu terdengar seperti datang dari dunia lain.
'Dia tidak sedang menandai hari peringatan Laras,' kata Nayaka akhirnya, perlahan, dengan kejelasan yang dingin. 'Dia sedang menandai hari arsipnya musnah. Itu satu-satunya kematian yang pernah dia rencanakan untuk dirinya sendiri: kematian lemarinya. Empat tahun bertepatan dengan kematian Laras — karena bagi orang itu, Laras adalah awal koleksinya yang sesungguhnya.'
'Maka besok pagi,' kata Ratna, berdiri, 'kita buka lemarinya. Dan saya akan jujur kepada kalian berdua, karena kalian sudah berhak atas kejujuran yang tidak enak: apa pun yang ada di dalam gudang itu, sebagian besar isinya adalah hidup kalian. Dua puluh tahun hidup kalian, dilihat oleh orang yang salah. Kalian boleh memilih tidak ikut.'
Reza dan Nayaka bertukar pandang. Jawaban datang dari Nayaka, dan nadanya adalah nada perempuan yang sudah empat tahun membaca map biru di ruang arsip:
'Orang itu menonton kami dua puluh tahun tanpa izin,' katanya. 'Besok, untuk pertama kalinya, kami yang menontonnya. Dengan izin pengadilan. Kami ikut.'