"Mereka hidup," kata Maya. "Di jantung hutan. Dan satu-satunya cara membawa mereka pulang bukan dengan api. Melainkan dengan—"
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Sebab pada saat itu, ketika seluruh alun-alun menahan napas menunggu, Maya merasakan sesuatu yang mengerikan: tanah memanggilnya.
Ia tidak berniat menjawab. Ia tahu, dengan setiap serat akalnya, bahwa ia tidak boleh menjawab. Tetapi tubuhnya telah berubah di hutan. Ia telah membuka pintu di dalam dirinya yang tak bisa lagi sepenuhnya ditutup. Dan ketika ia berdiri di sana, kewalahan, ketakutan, dengan jantung berdebar dan tangan gemetar dan kerumunan menekan dari segala sisi, kehangatan di dalam dirinya bocor. Bocor ke telapak kakinya yang telanjang, ke dalam tanah alun-alun yang kering oleh kemarau.
Dan tanah menjawab.
Di antara batu-batu di kaki Maya, sebuah sulur hijau menyembul. Lalu satu lagi. Kecil—tak lebih besar dari jari kelingking anak kecil—tetapi hijau menyala, hidup, ganjil di tengah tanah kemarau yang retak dan cokelat. Daun-daun mungil membuka, dan untuk sekejap yang gemilang dan mengerikan, di sekeliling kaki Maya tumbuh sepetak kecil kehidupan di tengah desa yang mati.
Kerumunan melihatnya.
Suara yang lahir dari ratusan tenggorokan sekaligus bukanlah teriakan. Itu adalah desah—desah ngeri serempak, suara yang menyedot udara dari alun-alun. Lalu desah itu pecah menjadi jeritan.
"PENYIHIR!"
"Lihat! Lihat tanahnya!"
"Ia menumbuhkannya dari tanah! Ilmu setan!"
Maya mundur, menarik kakinya dari sulur seakan ia bisa menariknya kembali masuk ke dalam dirinya, tetapi sudah terlambat. Sepetak hijau itu ada di sana, di hadapan seluruh desa, di bawah cahaya pagi yang tak bisa berbohong. Tak ada boneka jerami yang bisa menyangkalnya. Tak ada keraguan yang tersisa. Mereka telah mencari penyihir nyata sepanjang waktu, dan kini mereka menemukannya—dan penyihir itu adalah Maya, gadis yang dulu mereka kasihani sebagai yatim piatu, gadis yang tumbuh di antara mereka.
Dan harganya datang, seperti selalu. Maya merasakannya menjalar naik—dingin yang menggigit di telapak kakinya, tempat sulur itu tumbuh. Ia tidak berani menunduk untuk melihat, tetapi ia tahu, dengan kepastian yang membuat perutnya melilit, bahwa kulit di sana telah menipis, telah mulai berkelip jadi uap, sama seperti jari-jarinya. Bahkan keajaiban sekecil ini, keajaiban yang tak ia minta, telah mengambil sepotong darinya. Hutan tidak peduli apakah ia menumbuhkan dengan sengaja atau tidak. Hutan hanya menagih.
"Tangkap dia!" Sembada berteriak, suaranya tinggi oleh kemenangan dan kengerian. "Itulah penyihir kita! Itulah yang memanggil kabut! Bukan Mbok Inah—dia! Tangkap dia hidup-hidup!"
Tangan-tangan terulur. Tetapi dalam kekacauan itu—dalam detik ketika seluruh alun-alun berpaling dari kayu bakar untuk menerkam Maya—ada satu hal yang tak diperhitungkan siapa pun.
Kayu bakar itu kini tak terjaga.
Kaba bergerak. Ia telah menunggu, telah membaca kerumunan dengan mata penjaga tepi yang terlatih menunggu celah, dan saat itu datang ia berlari—bukan ke arah Maya, melainkan ke arah tiang. Pisaunya, sisa tombak bambu yang patah dan tajam, memotong tali jerami yang mengikat Mbok Inah dalam tiga sabetan cepat.
"Mbok, lari!" desisnya, menangkap janda tua itu saat ia terhuyung turun dari tumpukan kayu. "Ke ladang! Sekarang!"
Mbok Inah, yang telah pasrah pada kematian beberapa saat lalu, kini menemukan kakinya bergerak. Ia berlari—lebih cepat dari yang seharusnya bisa dilakukan tubuh setua itu, didorong oleh hidup yang baru saja dikembalikan padanya—menuju celah di antara gubuk-gubuk, menuju ladang jagung yang tinggi tempat seorang janda tua bisa lenyap.
Sebagian kerumunan berteriak, berpaling untuk mengejarnya. Sebagian lain terus menerkam Maya. Alun-alun pecah menjadi kekacauan total—obor terjatuh, percikan apinya menyambar jerami kering di kaki tiang dan menyalakan kobaran kecil yang tak jadi membakar siapa-siapa, hanya menambah asap dan kepanikan. Orang bertabrakan. Seorang ibu jatuh dan terinjak. Anjing-anjing menggonggong liar. Sembada berdiri di atas tugu berteriak perintah yang tak ada yang dengar, parangnya berkilau sia-sia di tangannya, dan untuk sesaat ia tampak bukan seperti pemimpin, melainkan seperti orang yang baru sadar bahwa ia telah melepaskan sesuatu yang tak lagi bisa ia kendalikan.
"Maya!" Kaba sudah di sisinya, menarik lengannya. "Ladang! Ikuti Mbok Inah! Lari!"
Maya berlari. Di belakangnya, sepetak sulur hijau yang ia tumbuhkan terinjak-injak oleh kaki-kaki yang panik, tetapi tidak mati—daun-daun mungilnya tetap menyembul di sela-sela jejak, hijau dan keras kepala, satu-satunya hal hidup di tanah yang retak. Bukti. Bukti yang tak terbantahkan bahwa penyihir itu nyata, dan ia ada di antara mereka selama ini.
Mereka mencapai ladang jagung. Batang-batang tinggi menelan mereka, dan suara kerumunan tertinggal di belakang—berubah dari teriakan menjadi gemuruh, gemuruh yang Maya kenali dari malam-malam ketika desa berubah jadi binatang berkepala banyak. Daun-daun jagung yang kering menggores pipinya, dan bau debu serta tanah panas memenuhi paru-parunya. Ia berlari dengan satu kaki yang terasa setengah bukan kaki, dan tiap langkah mengingatkannya pada apa yang baru saja ia bayar untuk keajaiban yang bahkan tak ia kehendaki.
Tetapi Maya tahu, sambil berlari napas tersengal di antara daun-daun jagung yang kering, bahwa tidak ada yang sama lagi. Selama ini ia bisa berpura-pura. Selama ini desa hanya mencurigai. Kini mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri tanah mati menjadi hijau di bawah kaki seorang gadis. Desa kini tahu. Dan desa yang tahu adalah desa yang akan memburu—bukan lagi mencari kambing hitam untuk dibakar agar tenang, melainkan memburu ancaman yang nyata, dengan parang dan obor dan keyakinan bahwa mereka benar.