Mbok Inah berdiri di atas tumpukan kayu, diikat ke tiang dengan tali jerami, dan ia sudah berhenti meronta.
Itulah yang paling menyayat Maya ketika ia tiba di tepi alun-alun—bukan teriakan, bukan air mata, melainkan keheningan janda tua itu. Mbok Inah telah menangis sepanjang malam sampai kering, telah memohon sampai suaranya habis, dan kini ia hanya berdiri, tubuh tua membungkuk, menatap ke tanah dengan mata yang sudah menyerah. Di sekelilingnya, desa berkerumun—wajah-wajah yang Maya kenal seumur hidupnya, kini diubah oleh ketakutan menjadi sesuatu yang asing dan keras.
Bau minyak tanah menusuk hidung Maya bahkan dari tepi alun-alun. Mereka telah menyiram kayu bakar dengan minyak agar api cepat menyala, dan tetesannya berkilau di batang-batang kering itu seperti embun beracun. Seseorang telah menumpuk jerami di kaki tiang. Seseorang telah mengasah parang. Desa telah mempersiapkan kematian Mbok Inah dengan ketelitian yang sama seperti mereka mempersiapkan panen, dan ketelitian itulah yang paling membuat Maya merinding—bahwa orang bisa membunuh dengan begitu rapi, begitu yakin bahwa mereka benar.
Pak Lurah Sembada berdiri di atas tugu, parang di tangan, obor di tangan yang lain. Kumis tebalnya berkilau oleh embun pagi. "Ketika api ini menyala," serunya pada kerumunan, "kabut akan tahu kita tidak takut! Ilmu hitam akan dibersihkan dari tanah kita, dan anak-anak kita akan—"
"Anak-anak kalian tidak akan kembali kalau kalian membakarnya!"
Suara itu keluar dari mulut Maya sebelum ia sempat memikirkan akibatnya. Kerumunan berputar. Ratusan mata menemukannya, gadis kurus yang berdiri di tepi alun-alun dengan pakaian robek dan kotor oleh tanah hutan, dengan seorang pemuda penjaga tepi di belakangnya. Untuk sesaat, keheningan total.
"Maya?" Sembada menyipitkan mata. "Bukankah kau menghilang malam itu? Bersama perempuan tua yang membela penyihir?" Pandangannya menyusur tubuh Maya—pakaian basah kabut, tanah hutan di lutut dan tangan. Dan kecurigaan menggeliat di wajahnya. "Dari mana kau datang, Nak? Pakaianmu basah oleh kabut. Kau... kau melewati garis merah?"
Maya merasakan jebakan menutup. Setiap mata di alun-alun kini melihat apa yang dilihat Sembada: tanah hutan, kabut, gadis yang menghilang dan kembali dari arah terlarang. Di benaknya, suara Kaba semalam menggema—mereka tidak akan membakar satu Mbok Inah, mereka akan membakar kita semua.
"Aku melewatinya," kata Maya, dan ia membuat suaranya setenang mungkin meski jantungnya berlari. "Untuk mencari anak-anak yang hilang. Dan aku menemukan kebenaran yang kalian semua takut dengar. Anak-anak itu tidak diambil oleh ilmu hitam. Tidak oleh boneka jerami. Tidak oleh Mbok Inah, yang seumur hidupnya hanya merawat orang sakit di desa ini—termasuk Kaba, ketika ia demam dan ibunya tak ada." Ia melangkah maju, ke dalam alun-alun, ke dalam jangkauan obor. "Mereka diambil oleh sesuatu yang tidur di jantung hutan. Sesuatu yang jauh lebih tua dari hukum leluhur kalian. Dan kalau kalian membakar Mbok Inah, kalian tidak akan menyelamatkan siapa pun. Kalian hanya akan menambah satu nama lagi ke tugu itu—nama orang tak bersalah."
Wajah Sembada memerah. "Ucapanmu sama dengan perempuan tua itu. Persis sama." Ia mengangkat parang, menunjuk Maya. "Tangkap dia juga. Penyihir mengenal penyihir—"
"Tangkap dia, dan kalian tidak akan pernah tahu di mana anak-anak kalian."
Suara baru. Tua, retak, tetapi mengandung sesuatu yang membelah kerumunan seperti tongkat membelah air. Dari gubuk tahanan di tepi alun-alun—gubuk tempat para tertuduh dikurung sebelum hukuman—Nenek Larasati berbicara melalui jeruji bambu. Ia tidak bebas. Tangannya masih terikat, wajahnya pucat oleh malam-malam tanpa tidur. Tetapi mata kelabunya menyala, dan ketika ia bicara, desa mendengarkan, meski mereka membencinya karena mendengarkan.
"Sembada," kata Nenek Larasati. "Kau ingat ayahmu? Lurah sebelum kau? Ia membakar tiga orang di tugu itu. Tiga. Dan kabut tidak pernah berhenti datang. Tujuh nama di batu itu—tujuh—dan tiap kali kalian membakar satu, anak-anak tetap hilang. Sudah berapa generasi kalian membakar, dan sudah berapa kali kabut peduli? Bertanyalah pada diri sendiri, sekali saja, sebelum kau menyalakan obor itu: bagaimana kalau selama ini kalian membakar orang yang salah?"
Keheningan menggantung di alun-alun, berat dan rapuh. Maya melihatnya—keraguan, melintas di wajah-wajah seperti angin di permukaan air. Seorang ibu yang anaknya hilang menatap kayu bakar dengan ekspresi yang retak. Seorang lelaki tua menundukkan kepala. Di atas tiang, Mbok Inah mengangkat wajahnya untuk pertama kalinya, dan matanya yang sembap menemukan Maya di antara kerumunan—dan dalam tatapan itu bukan ada permohonan, melainkan sesuatu yang lebih menyayat: keterkejutan bahwa ada orang yang datang untuknya sama sekali.
Dan Maya menyadari apa yang dilakukan neneknya. Ia mengulur waktu. Tiap kata adalah simpul yang ditarik perlahan, menahan tangan Sembada agar tidak menyalakan api, memberi Maya celah—celah yang Maya sendiri belum tahu cara mengisinya. Asap belum naik. Benang belum putus. Neneknya masih hidup, masih berjuang, dan kini ia menyerahkan waktu yang ia beli dengan suaranya sendiri ke tangan Maya.
Sembada menurunkan obor sedikit—hanya sedikit, ragu untuk pertama kalinya. Maya melihat perang kecil di wajah lurah itu: keyakinan yang ia warisi dari ayahnya, dari ayah ayahnya, bertabrakan dengan pertanyaan sederhana yang baru saja dilemparkan Nenek Larasati. Bagaimana kalau selama ini kalian membakar orang yang salah? Itu pertanyaan yang menggerogoti, sebab kalau jawabannya iya, maka Sembada bukan pelindung desa, melainkan algojo dari orang-orang tak bersalah. Tak ada manusia yang sanggup menatap kebenaran seberat itu tanpa berkedip.
"Lalu di mana mereka, perempuan tua?" tantang Sembada, tetapi suaranya kehilangan sebagian gemuruhnya. "Kalau kau tahu begitu banyak. Di mana anak-anak kami? Kalau bukan ilmu hitam yang mengambil mereka, tunjukkan padaku apa. Tunjukkan, atau diam selamanya."
Dan semua mata berpaling kembali pada Maya, menunggu jawaban yang akan menyelamatkan atau menghukum mereka semua.