Sena mundur sampai punggungnya menyentuh lemari arsip. "Kalian membunuh mereka," katanya, suaranya pecah. "Anak-anak itu. Kalian serahkan ke—ke benda di atas itu."
"Membunuh?" Bu Marni menggeleng pelan, dan ada kelelahan dalam dua puluh tahun di matanya. "Tidak ada yang mati, Sena. Lihat Bayu. Dia masih makan, masih bernapas, masih lulus dan pulang ke orang tuanya. Mereka akan punya anak yang patuh, tenang, tidak banyak menuntut. Bukankah itu yang diinginkan semua orang? Anak yang tidak menyusahkan?" Ia mendekat selangkah. "Yang kami ambil hanya bagian yang... berisik. Bagian yang memberontak, yang penasaran, yang menyakitkan untuk dimiliki di dunia sekeras ini. Kami melakukan kebaikan, dengan cara kami sendiri."
"Itu bukan kebaikan. Itu mencuri."
"Kalau kami tidak memberinya, dia akan turun mengambil sendiri," kata Bu Marni, dan untuk pertama kalinya suaranya bergetar, ketakutan murni menyelinap masuk. "Kamu tidak tahu, Sena. Kamu belum melihatnya saat dia lapar dan tak ada yang diberikan. Dulu, sebelum sistem ini, dia turun ke lantai dua. Dia tidak mengambil isinya pelan-pelan seperti sekarang. Dia mengambil semuanya, sekaligus, dalam satu malam. Yang tersisa cuma..." Bu Marni menutup mata. "Kami menjaga keseimbangan. Kami memberinya cukup supaya dia tenang. Itu satu-satunya cara semua anak yang lain bisa tidur dengan aman. Termasuk kamu, sampai malam ini."
Sena memikirkannya dengan cepat, otaknya berpacu. "Asti," katanya. Bu Marni tersentak mendengar nama itu. "Namanya Asti Wulandari. Kalian semua memperlakukannya seperti monster. Tapi dia korban. Dia juga anak yang diforsir sampai retak, sama seperti yang kalian lakukan ke anak-anak ini sekarang. Kalian tidak menghentikan kelaparannya. Kalian memberinya makan dengan hal yang sama yang dulu menghancurkannya."
Bu Marni terdiam lama. Lampu koridor di luar berkedip. "Dari mana kamu—"
"Kalau dia diberi makan kesepian," potong Sena, "mungkin yang dia butuhkan bukan persembahan. Mungkin dia cuma butuh seseorang yang turun—naik—dan mengakui bahwa apa yang terjadi padanya salah. Bahwa dia ditinggalkan. Bahwa tidak ada yang datang menyelamatkannya dua puluh tiga tahun lalu."
"Jangan." Wajah Bu Marni pucat sekarang, sama pucatnya dengan Bayu. "Kamu tidak mengerti apa yang kamu usulkan. Pintu itu dikunci karena suatu alasan. Kalau kamu naik ke sana dan dia tidak menerimamu—kalau dia memutuskan kamu hanya makanan lain—maka tidak akan ada yang turun. Bukan tubuhmu yang kosong. Tidak ada apa-apa yang turun. Kamu hanya akan jadi langkah kaki itu. Selamanya."
Dari atas mereka, jauh di langit-langit lantai dasar, melewati lantai dua, dari ujung tertinggi gedung—samar, hampir tak terdengar, tapi Sena merasakannya di tulangnya lebih daripada mendengarnya—sebuah langkah berbunyi. Tuk. Lalu lagi. Tuk. Tuk. Lebih awal dari biasanya. Dan kali ini, terbawa entah bagaimana sampai ke bawah, sebuah suara memanggil. Pelan, sabar, dan untuk pertama kalinya—
"Senaaa..."
Bu Marni menatap langit-langit dengan ngeri. "Dia sudah tahu namamu," bisiknya. "Dia sudah memilihmu. Sekarang sudah terlambat untuk siapa pun memilih untukmu."