Sena tak bisa makan malam itu. Kata-kata petugas tua berputar di kepalanya seperti rantai yang menyeret. Mereka memilihkan anak-anak untuknya. Kalau itu benar, maka pucatnya Bayu bukan kebetulan. Bukan kurang tidur. Bayu dipilih. Dan kalau Bayu sudah hampir habis—
Siapa berikutnya?
Sena memperhatikan Reza dan Dani malam itu dengan mata baru. Reza yang ceria, yang ternyata selalu cemas di balik tawanya, yang sering terbangun dengan keringat dingin. Dani yang pendiam, yang nilai-nilainya selalu didorong gurunya untuk "lebih, lebih, kamu bisa lebih." Dan dirinya sendiri—Sena, si anak beasiswa, yang membawa beban harapan seluruh keluarganya di pundaknya, yang tidur dengan dada sesak oleh kalimat ayahnya: jangan bikin malu. Mereka semua tertekan. Mereka semua rapuh dengan cara masing-masing. Mereka semua, sadar Sena dengan ngeri, adalah calon yang sempurna.
Ia harus tahu pasti. Ia harus melihat dengan matanya sendiri bahwa ada daftar, bahwa ada pilihan, bahwa ini disengaja.
Kantor Bu Marni ada di lantai dasar, dekat pintu masuk asrama putra. Sena tahu pengasuh berkumpul di ruang makan staf setiap pukul delapan untuk rapat singkat—ia telah memperhatikannya selama beberapa hari. Itu memberinya, mungkin, sepuluh menit.
Ia menyelinap saat lampu koridor sudah diredupkan. Pintu kantor tidak terkunci—kenapa harus, di tempat di mana tak ada yang berani melangkah keluar batas? Di dalam, rapi dan dingin, ada meja, lemari arsip, dan di atas meja, sebuah buku catatan tebal bersampul kulit. Tangan Sena gemetar saat membukanya.
Halaman demi halaman berisi nama murid, tanggal, dan catatan. Tapi di bagian belakang, dipisahkan dengan pembatas, ada daftar yang berbeda. Judulnya ditulis dengan tinta yang sudah pudar oleh tahun, tulisan tangan dari banyak pengasuh yang berganti-ganti sepanjang dua dekade. Daftar itu tak punya judul resmi. Hanya satu kata di atasnya: PERSEMBAHAN.
Di bawahnya, nama-nama. Puluhan, ratusan, membentang ke belakang bertahun-tahun. Sebagian besar dicoret dengan satu garis dan diberi catatan kecil di sampingnya: selesai. Sena membaca dengan jantung berdebar, dan menemukan nama Bayu Pratama, beberapa baris dari bawah. Tanggalnya dua minggu lalu. Belum dicoret. Di sampingnya, dengan tinta segar, tertulis: tahap akhir.
Dan di bawah nama Bayu, ada tiga nama lagi. Calon berikutnya. Yang teratas: Reza Mahendra. Lalu: Dani Saputra.
Dan di baris paling bawah, dengan tinta yang paling baru, paling segar, ditulis hari ini—Sena merasa lantai bergeser di bawah kakinya—tertera namanya sendiri. Sena Aditama. Di sampingnya, satu kata yang membuat darahnya membeku: cadangan, jika diperlukan lebih cepat.
"Sudah kuduga kamu yang akan menemukan ini."
Sena membalik badan secepat kilat. Bu Marni berdiri di ambang pintu, menutupnya pelan di belakangnya. Ia tidak marah. Itu yang paling menakutkan. Ia tampak sedih, hampir berbelas kasih, seperti dokter yang akan menyampaikan kabar buruk. "Anak-anak yang penasaran," katanya lembut, "selalu yang pertama matang. Rasa ingin tahu itu, Sena, sama saja dengan luka yang terbuka. Dia paling suka anak-anak yang punya luka terbuka. Lebih mudah masuk."