Kamar 207 lebih luas dari yang Sena bayangkan. Empat ranjang susun, dua di kiri dua di kanan, meja belajar masing-masing, lemari kayu tinggi. Jendela besar menghadap ke barisan cemara dan, di kejauhan, lampu-lampu kota yang berkelip kecil seperti dunia lain yang tak bisa ia jangkau lagi.
Tiga anak sudah ada di sana. Yang pertama menyambutnya dengan paling hangat: Reza, tinggi, kurus, dengan rambut berantakan dan senyum lebar. "Akhirnya ada yang baru! Bosan kita bertiga terus. Ranjang atas yang itu kosong, ambil aja. Pemandangannya paling bagus, kalau kamu nggak takut ketinggian."
Yang kedua, Dani, lebih pendiam, sedang menempel poster band di dinding atas ranjangnya. Ia melambai singkat. "Selamat datang di penjara mewah," katanya, lalu nyengir. "Bercanda. Tempatnya oke kok. Makanannya enak, asal kamu nggak nanya itu daging apa."
Yang ketiga duduk di tepi ranjang bawah, memunggungi mereka, menatap jendela. Reza menunjuknya dengan dagu, suaranya merendah. "Itu Bayu. Jangan tersinggung kalau dia nggak nyahut. Dia... lagi nggak enak badan, beberapa hari ini."
Sena menatap punggung Bayu. Anak itu sangat diam. Bahunya turun, kepalanya sedikit miring, seperti boneka yang ditinggalkan dalam posisi duduk. "Bayu?" panggil Sena pelan. "Halo, aku Sena."
Bayu tidak menoleh. Tapi dari arah jendela, dengan suara yang datar dan jauh, seperti datang dari dasar sumur, ia menjawab, "Halo." Hanya itu. Lalu diam lagi.
Reza menarik Sena menjauh, membantunya menata barang. "Dulu Bayu paling rame," bisiknya. "Dia yang nyambut aku pertama kali, kayak aku nyambut kamu. Tapi sekitar dua minggu lalu dia mulai begitu. Diam. Pucat. Bu Marni bilang dia kurang tidur, dikasih vitamin. Tapi..." Reza tak melanjutkan, hanya melirik punggung Bayu, lalu mengganti topik dengan terlalu cepat.
Malam pertama, Sena belajar ritme asrama. Makan malam di aula besar, ratusan anak makan dalam keheningan yang aneh—tidak ada teriakan, tidak ada lemparan tisu, hanya dentang sendok yang sopan. Belajar wajib dua jam di kamar. Lampu padam pukul sepuluh, dimatikan otomatis dari pusat, tak bisa dinyalakan lagi.
Dalam gelap, Sena berbaring di ranjang atas, menatap langit-langit yang hanya berjarak sejengkal dari wajahnya. Reza dan Dani sudah mengatur napas tidur. Bayu, di bawah seberang, ia tak yakin tidur atau tidak; tak ada suara napas dari sana sama sekali, dan itu lebih menyeramkan daripada dengkuran.
Sena hampir terlelap ketika ponselnya—yang ia sembunyikan, karena dilarang—menyala sebentar menunjukkan jam. 02.58. Ia menutup mata.
Dan pada pukul tiga tepat, ia mendengarnya yang pertama.
Tuk.
Pelan, tunggal, dari atas. Tepat di atas langit-langit kamar 207. Dari lantai tiga, yang katanya kosong dan terkunci. Sena membuka mata. Mungkin pipa, pikirnya. Mungkin kayu memuai.
Tuk. Tuk.
Berirama. Pelan, hati-hati. Telapak kaki yang menapak papan kayu, satu demi satu, dari ujung lantai ke ujung yang lain. Langkah. Tidak diragukan lagi, itu langkah. Sena menahan napas, jantungnya memukul keras. Di seberang, dalam gelap, ia mendengar gerakan kecil. Bayu, ranjang bawah, telah bangun. Dan dalam temaram, Sena melihat kepala Bayu mendongak ke langit-langit, mengikuti suara langkah itu bergerak, ke sana, ke sini—seakan ia tahu persis ke mana langkah itu menuju. Seakan ia sudah hafal.