Bus jemputan berhenti di gerbang besi tinggi tepat ketika langit sore mulai berwarna jingga kelabu. Sena turun paling akhir, menyeret koper roda yang satu rodanya macet, dan untuk sesaat ia hanya berdiri menatap bangunan di hadapannya. Asrama Wirautama berdiri di atas bukit kecil, dikelilingi pohon-pohon cemara yang tinggi dan rapat, seperti dinding hidup yang memisahkan tempat itu dari sisa dunia. Gedung utamanya tiga lantai, bercat putih gading yang sudah pudar, dengan deretan jendela yang seragam dan rapi.
"Bagus, kan?" kata laki-laki di sampingnya. Ayahnya, dengan kemeja yang sengaja disetrika rapi untuk hari ini. "Sekolah unggulan, Sen. Tidak semua anak bisa masuk sini. Beasiswamu itu rezeki."
Sena mengangguk pelan. Ia tahu ia harus bersyukur. Nilai ujiannya yang tertinggi se-kabupaten, surat dari kepala sekolah lama, wawancara yang membuat lehernya berkeringat selama satu jam penuh—semua itu berujung pada gerbang besi ini. Tempat di mana, kata orang-orang, anak-anak biasa berubah menjadi anak-anak luar biasa. Tapi entah kenapa, saat menatap baris jendela di lantai paling atas, ada sesuatu yang membuat perutnya mengerut. Jendela-jendela di lantai tiga itu berbeda. Tertutup tirai gelap, semuanya, tanpa kecuali. Tak satu pun memantulkan cahaya senja seperti jendela lain.
"Sena Aditama?" Seorang perempuan paruh baya berkacamata menyambut di pintu masuk, memegang papan jepit. Senyumnya rapi dan terlatih. "Saya Bu Marni, pengasuh asrama putra. Selamat datang. Ayahmu bisa menemani sampai lobi, setelah itu—maaf—orang tua tidak diizinkan masuk lebih jauh. Aturan asrama."
Ayahnya menggenggam bahu Sena, agak terlalu erat. "Belajar yang benar. Jaga diri. Jangan bikin malu."
"Iya, Yah."
Dan secepat itu, ayahnya pergi. Pintu kaca menutup di belakangnya, memantulkan sosok Sena sendiri yang kecil dan sendirian, koper di tangan, di tengah lobi yang terlalu bersih dan terlalu sunyi. Lantainya mengilap memantulkan lampu. Tak ada bercak, tak ada debu, tak ada satu pun jejak bahwa ratusan remaja tinggal di tempat ini. Bau yang menyergap hidungnya bukan bau anak sekolah—bukan keringat, bukan jajanan, bukan parfum murah. Melainkan bau pembersih lantai yang tajam, dan di baliknya, samar, sesuatu yang dingin dan manis seperti bunga yang sudah terlalu lama dipotong.
"Kamarmu di lantai dua, sayap timur, nomor 207," kata Bu Marni sambil berjalan mendahuluinya menaiki tangga. "Kamu berbagi dengan tiga anak lain. Mereka anak-anak baik. Tenang."
Sena memperhatikan dinding sepanjang tangga. Foto-foto angkatan terpajang berurutan, setiap tahun satu bingkai, deretan wajah remaja berseragam yang tersenyum kaku ke kamera. Ia melirik tahun-tahun lama. Anehnya, di beberapa bingkai, ada sosok yang seperti dihapus—bukan robek, tapi seakan diburamkan dengan sengaja, satu wajah di antara puluhan, menjadi noda kabur yang tak bisa dikenali. Ia ingin bertanya, tapi Bu Marni sudah jauh di depan.
Di puncak tangga lantai dua, ada satu tangga lagi yang naik ke atas. Tapi tangga itu ditutup oleh pintu jeruji besi, digembok rantai tebal, dengan papan kayu kecil tergantung di tengahnya. Tulisannya sederhana, dicat tangan: DILARANG MASUK. LANTAI TIGA DITUTUP.
"Lantai tiga kenapa, Bu?" tanya Sena, tak bisa menahan diri.
Bu Marni berhenti. Untuk sepersekian detik, senyum terlatihnya tergelincir. Lalu kembali, lebih lebar. "Rusak. Sudah lama tidak dipakai. Lantainya tidak aman, atapnya bocor. Jangan pernah ke sana, ya. Itu satu-satunya aturan yang kalau dilanggar, langsung dikeluarkan. Mengerti?"
"Mengerti, Bu."
Tapi ketika ia melewati pintu jeruji itu, menyeret kopernya menuju kamar 207, Sena tak bisa menahan diri untuk menengok ke atas, ke kegelapan di balik jeruji. Dan di sana, di ujung tangga yang gelap, untuk sekejap mata, ia merasa melihat sesuatu. Bukan benda. Sebuah bentuk pucat, panjang, yang berdiri diam di tepi anak tangga teratas, lalu—begitu ia berkedip—tidak ada lagi. Hanya gelap. Hanya tangga.
"Cuma capek," gumamnya pada diri sendiri, mengulang kalimat yang sering diucapkan ayahnya. Dan ia masuk ke kamar barunya, tak tahu bahwa di atas kepalanya, di lantai yang katanya kosong, sebuah lantai kayu baru saja berderik pelan satu kali. Lalu sunyi.