Laras Adiguna dihubungi sebelum namanya diumumkan. Ia bekerja sebagai penerjemah teknis dari luar negeri dan baru pulang tiga bulan lalu untuk mengurus Seno. Paspor serta kamera bandara menguatkan kepulangannya.
Ia mengakui akses jarak jauh ke komputer administrasi, tetapi mengatakan tujuannya memantau tagihan ayah. Perangkat Cakra Rekam sudah terpasang sebelum ia mendapat akun.
'Apakah Anda membuat perintah menukar halaman laporan?' tanya penyidik.
'Tidak. Saya bahkan ingin laporan lama diperbaiki.'
Laptopnya tidak memiliki templat PULANG. Log rumah perawatan menunjukkan akunnya dipakai pukul dua dini hari ketika ia berada dalam penerbangan ke luar kota. Kata sandinya tersimpan pada sistem administrasi.
Nama Laras di daftar hanya menunjukkan kredensial yang dicuri. Tim mengoreksi pemberitahuan internal dan tidak menahannya. Ia menyerahkan surel tagihan yang mungkin menunjukkan siapa membuat akun.
Surel berasal dari vendor Cakra Rekam dan disetujui kepala administrasi rumah perawatan, Bagas Wira. Bagas menghilang sesudah perangkat disita. Polisi menemukan mobilnya di terminal bus, tetapi tidak ada bukti ia pergi bersama siapa pun.
Pencarian Bagas tidak menunda laporan. Antrean palsu sudah diputus, citra asli tersimpan di tiga tempat, dan Dewangga memeriksa nilai hash sebelum pembacaan.
Keluarga korban hadir sesuai pilihan. Lima duduk di ruangan utama, tiga mengikuti dari tempat privat, dua mengirim pengacara, dan satu hanya meminta salinan cetak. Tidak ada kamera mengarah ke wajah mereka.
Siska duduk bersama Livia. Armand berada pada baris penyintas, tidak di panggung keluarga Dirgantara. Brawijaya dan Ratri duduk di bagian pihak perusahaan.
Ketua panel membuka laporan dengan sebelas nama korban meninggal. Nama awak dan penumpang dibaca tanpa membedakan jabatan. Setelah itu, Armand disebut penyintas penumpang 2A yang dihapus secara tidak sah dari manifest pascakejadian.
Temuan menyatakan DA-217 tidak sedang mencoba lepas landas saat keluar dari permukaan. Mahesa telah meminta pemeriksaan, menunda pergerakan, dan mencoba kembali. Kesimpulan lama tentang lepas landas ceroboh dicabut.
Laporan menetapkan retak lelah komponen dengan riwayat dipalsukan menyebabkan respons kemudi terlambat. Pembatalan tunda melalui sertifikat Bram yang disalahgunakan, tekanan Darya, pengetahuan Haris tentang uji, informasi palsu kepada menara, hujan, genangan, penghalang, serta keterlambatan gerbang darurat membentuk rangkaian penyebab dan dampak.
Bram tetap dicatat lalai menandatangani pengadaan tanpa menjaga lampiran serta gagal memastikan karantina. Rekaman perintahnya untuk menghentikan penggunaan juga dicatat. Brawijaya dicatat mengetahui risiko dan tidak memeriksa penggantian, lalu menyembunyikan kotak.
Herlina, Yudhistira, Darya, Haris, Alina, Seno, Adrian, dan pihak lain ditempatkan pada tindakan spesifik. Laporan keselamatan tidak menjatuhkan pidana. Berkas mereka diteruskan ke jalur hukum yang sesuai.
Siska mendengar nama Mahesa tanpa kata ceroboh untuk pertama kalinya dalam pembacaan resmi. Ia tidak bertepuk tangan.
'Ia pulang sebagai dirinya,' bisiknya.
Livia mengangguk. Pemulihan nama tidak mengembalikan hidup atau memindahkan kesalahan kepada satu orang baru.
Sebelas lampiran keluarga diterbitkan sesuai izin. Keberatan terhadap istilah serta metode tetap terlihat. Data luka yang tidak disetujui tetap tertutup. Keluarga Ningsih mendapat laporan terpisah agar kematiannya tidak tenggelam di bawah DA-217.
Dirgantara menerima perintah perbaikan: mengganti seluruh komponen tanpa riwayat, memisahkan sistem asuransi dari manifest, melindungi pelapor, dan mempertahankan Badan Layanan Rute sampai audit selesai. Atlas dilarang mengambil hak permanen selama sengketa lampiran.
Empat pesawat masih dikandangkan. Livia tidak mengumumkan krisis selesai. Masa kepala auditnya masih berjalan dan laporan tindakan harus diperiksa tiap bulan.
Armand memberi kesaksian singkat setelah pembacaan. Ia menyatakan Mahesa menyelamatkan bukti dan mencoba melindunginya, tetapi tidak meminta hak rute atau jabatan sebagai balasan. Identitas sipilnya tetap pulih; sengketa ganti rugi kematian palsu berjalan terpisah.
Di luar gedung, wartawan bertanya apakah perkawinan kontrak mereka kini berakhir karena tujuan membuka DA-217 tercapai.
'Perkawinan kami bukan lampiran laporan,' jawab Livia. 'Pertanyaan itu kami putuskan sendiri.'
Mereka tidak memberi jawaban lain. Malamnya, Livia dan Armand membicarakan kontrak yang telah dinegosiasikan ulang. Mereka memilih tetap bersama, mempertahankan keuangan terpisah, dan meninjau kamar setelah masa audit berakhir. Tidak ada sistem yang menerima salinan keputusan itu.
Perayaan mereka hanya makan bersama Siska. Di meja, nama Mahesa disebut dalam cerita kecil: cara ia salah menyeduh kopi, kebiasaan memeriksa pintu, dan lelucon yang buruk. Untuk beberapa jam, ia bukan kode perkara.
Keesokan pagi, penyelidikan Bagas menghasilkan lokasi. Ia ditemukan di rumah saudaranya dan datang dengan pengacara. Ia mengaku menyimpan kata sandi Laras, tetapi menyangkal membuat pertukaran halaman.
Menurut Bagas, seorang auditor Cakra Rekam meminta akses malam dengan alasan cadangan sidang. Nama pada surat tugas adalah Dewangga Putra.
Dewangga sedang berada di ruang pembacaan saat perintah dijadwalkan, dan tanda tangannya pada surat berbeda dari contoh resmi. Identitas auditor independen kembali dipakai sebagai templat.
Surat tugas mempunyai nilai hash yang berasal dari paket sebelum Dewangga dipilih melalui undian. Seseorang sudah menyiapkan nama pemenang sebelum proses pemilihan terjadi.
Undian nasional ternyata mengambil daftar dari server regulator yang dikompromikan. Hasilnya tidak acak sepenuhnya; tiga nama lain dikeluarkan melalui konflik palsu.
Dewangga menyerahkan mandatnya untuk diaudit tanpa membatalkan laporan yang telah diverifikasi banyak pihak. Laporan final tetap sah karena hash dan pemeriksaan tidak bergantung pada dirinya seorang.
Pada daftar konflik palsu, Naya menemukan akun pembuat yang belum pernah muncul. Akun itu dibuat memakai akta pegawai regulator yang meninggal sebelum DA-217 dan terus diperpanjang otomatis.
Profilnya bernama SA-0.
Seno melihat kode tersebut dan, pada sesi singkat, mengeja nama atasannya yang dahulu memerintah memo Adrian dihentikan.
Orang itu seharusnya sudah meninggal dua puluh tahun lalu.
Namun profil SA-0 baru saja masuk dari gedung pusat catatan sipil, tempat koreksi nama Ningsih diproses pagi itu.
Pusat catatan sipil segera memutus sesi tanpa menghentikan koreksi Ningsih. Dua proses dipisahkan: serangan akses diperiksa, sementara hak keluarga memperoleh akta tidak ditunda sebagai umpan. Jaya serta keluarganya dipindahkan dari ruang arsip sebelum perangkat disita.
Log gedung menunjukkan SA-0 memakai terminal layanan mandiri yang tidak memiliki kamera wajah, hanya rekaman tangan. Pengguna memasukkan kartu pegawai lama lalu menghubungkan perangkat kecil. Kartu tersebut diterbitkan atas nama Surono Adiguna, atasan Seno yang tercatat meninggal dua puluh tahun lalu.
Seno mengeja bahwa Surono memang meninggal. Ia juga mengeja kartu tidak. Tim memahami bahwa manusia dan kewenangannya harus dipisahkan lagi. Seperti HW-1, SA-0 dapat menjadi jabatan orang mati yang dipakai orang hidup.
Laporan final tetap tersedia untuk publik dengan nilai hash asli. Upaya pertukaran dicantumkan sebagai insiden pascapenyelidikan, bukan alasan mencabut hasil. Keluarga korban tidak diminta kembali menunggu karena sistem lama mencoba satu serangan lagi.
Livia menutup hari dengan dua hasil yang tidak saling menghapus. Nama Mahesa telah dipulihkan melalui laporan yang sah. Pada saat sama, jaringan yang mengubah nama orang belum seluruhnya berhenti. Ia dapat menerima kemenangan pertama tanpa menyebut perang kedua selesai.