Wajah perempuan dari lencana dan paspor dibandingkan hanya dengan arsip yang mendapat izin pengadilan. Pencarian publik dapat menuduh orang serupa. Tim memulai dari pegawai klinik Suradipa, Langit Sembilan, dan Astera.
Sebuah foto klinik malam DA-217 menampilkan petugas registrasi bernama Marlina Suteja. Usianya saat itu dua puluh empat. Bekas luka kecil di bawah telinga kanan cocok dengan perempuan pada gerbang imigrasi.
Ahli tidak mengandalkan bentuk wajah saja. Mereka membandingkan jarak telinga, pola berjalan, bekas patah jari, dan tulisan tangan. Hasilnya menguatkan kecocokan, tetapi laporan tetap menyebut kemungkinan tinggi sampai Marlina diperiksa langsung.
Satu foto lain menunjukkan Marlina berdiri di belakang Darya saat daftar korban diumumkan. Ia memegang map baris nol. Waktu foto dibuat dua puluh menit setelah catatan menyebut ia sudah pulang, menandakan jadwal klinik juga diubah.
Suradipa mengenalinya. Marlina bertugas membuat kartu pasien anonim dan menyalin daftar pemulangan. Setelah malam kecelakaan, Darya memindahkannya ke Astera. Enam bulan kemudian ia berhenti tanpa alamat.
'Apakah dia Saksi Wali?' tanya Livia.
'Dia yang mengoperasikan akun setelah saya membuat perannya,' jawab Suradipa. 'Saya tidak tahu namanya kemudian.'
Arsip kepegawaian Astera memiliki tiga identitas untuk foto sama. Marlina Suteja bekerja pada unit medis. Laras Maheswari bekerja pada kepatuhan perwalian. S. Wali tercatat sebagai petugas migrasi tanpa nama lengkap.
Ketiganya memakai satu nomor akta lahir yang pernah diubah. Nomor itu awalnya milik perempuan bernama Sari Wulandari, korban kecelakaan kereta yang selamat tetapi berpindah negara.
Sari memilih tidak memulihkan nomor lama karena telah memiliki identitas sah di negara barunya. Konsulat menerbitkan pernyataan bahwa nomor Indonesia tidak boleh digunakan orang lain tanpa menghidupkan kembali seluruh catatan Sari.
Pilihan itu menjadi contoh bagi perkara lain: mencegah pencurian tidak selalu berarti memaksa pemilik kembali memakai nama yang ditinggalkan.
Tim tidak mengumumkan Sari sebagai alias. Lembaga bantuan menghubunginya melalui konsulat. Sari menjawab bahwa ia tidak pernah memberi izin dan tidak ingin kembali ke Indonesia. Ia mengizinkan nomor aktanya dipakai sebagai bukti pemalsuan dengan alamat ditutup.
'Tiga nama, satu akta, dan orang asli keempat yang tidak pernah bertemu mereka,' kata Maya.
Marlina tidak sekadar mencuri identitas orang mati. Ia memilih catatan baris nol yang pemiliknya jauh atau tidak ingin kembali, lalu menggunakannya sebagai ruang kosong.
Perangkat Langit Sembilan menyimpan pola perjalanan. Setelah tiap rapat K-2, salah satu dari tiga nama muncul pada hotel atau kantor. Pembayaran datang dari biaya administrasi lima rute.
Brawijaya mengaku pernah bertemu Laras Maheswari dan mengira ia staf Ratri. Ratri mengira perempuan itu staf Astera. Sabina mengenalnya sebagai konsultan Surya. Setiap orang menerima penjelasan yang menempatkan Marlina sebagai tanggung jawab pihak lain.
Armand tidak mengingatnya dari klinik. Ia meminta ketidakmampuan mengingat tidak dipakai untuk menyatakan Marlina tidak ada. Cedera serta penenang membuat kesaksian malam itu terbatas.
Polisi melacak pembayaran terakhir ke apartemen sewaan. Tempat tersebut kosong, tetapi bukan dibersihkan terburu-buru. Pakaian, makanan, dan obat masih ada. Di meja terdapat tiga dompet identitas dan satu bingkai tanpa foto.
Penyelidik tidak membawa semua barang. Pakaian dan obat difoto lalu ditinggalkan karena tidak berkaitan. Tiga dompet, catatan akta, serta perangkat komunikasi disita sesuai surat. Tetangga tidak diberi tahu bahwa Marlina tersangka jaringan korban; mereka hanya diminta waktu keluar-masuk.
Bingkai tanpa foto menyimpan lapisan debu berbeda. Forensik menemukan foto pernah dilepas sehari sebelumnya. Potongan kertas di belakangnya memuat nomor loker Haris, petunjuk yang kemudian dicocokkan dengan buku operator.
Tidak ada bukti kekerasan. Kamera menunjukkan Marlina keluar membawa satu tas dua jam setelah LP-0 diisolasi. Ia memakai wajah sendiri tanpa penyamaran.
Di dinding, penyelidik menemukan salinan akta perkawinan Livia serta Armand. Tiga bagian ditandai: nama pasangan, hubungan Mahesa, dan status pengawas. Catatan tangan berbunyi bila satu nama bertahan, putuskan dua lainnya.
Forensik tulisan cocok dengan halaman baru pada buku Mahesa dan formulir LP-0. Marlina adalah PENJAGA GARIS yang menulis cabang keluarga bulan lalu.
Namun draf awal LP-0 tetap berasal dari Darya dan sistem perwalian. Menemukan operator hidup tidak menghapus tanggung jawab orang yang merancang, menyetujui, atau memanfaatkan skenario.
Maya menerima pesan terenkripsi dari pengacara yang mewakili Marlina. Perempuan itu bersedia menyerahkan diri bila ditempatkan dalam perlindungan dan diberi kesempatan memperbaiki identitas aslinya.
'Perlindungan dapat dinilai,' jawab Maya. 'Perbaikan identitas bukan imbalan. Itu hak yang diproses terpisah.'
Marlina meminta jaminan Sari tidak dipaksa pulang serta data sembilan baris nol tidak dibuka. Syarat itu sejalan dengan perlindungan yang sudah ada, tetapi tidak memberinya kuasa menetapkan nasib korban.
Jaksa menyatakan perlindungan dapat mencakup ancaman terhadap Marlina, bukan kebebasan dari tuntutan. Pengacaranya menerima. Identitas aslinya akan diperiksa tanpa membatalkan nama yang dipakai untuk kehidupan sehari-hari sampai pengadilan menentukan dampaknya.
Livia tidak menghadiri penyerahan di ruang yang sama. Sebagai sasaran LP-0, kehadirannya dapat memberi tekanan atau memengaruhi keterangan. Ia menonton dari ruang lain setelah Marlina menyetujui rekaman.
Pertemuan penyerahan dijadwalkan di kantor regulator. Marlina datang didampingi pengacara dan membawa tas kulit tua. Bimo mengenal tas tersebut melalui sambungan video: tas kedua Armand yang ditukar sebelum paket sampai.
Livia menahan diri untuk tidak membuka. Tas disegel, dipindai, dan diperiksa bahan berbahaya. Di dalamnya ada daftar pemilik rute asli, surat Mahesa, serta buku operator K-2.
Nomor jahitan tas cocok dengan foto barang Armand, sedangkan noda bahan bakar cocok dengan Hangar Tujuh. Bimo mengidentifikasi bentuk tetapi tidak diminta menyatakan keaslian mutlak. Laboratorium membangun rantai bukti dari label, serat, dan catatan Marlina.
Marlina memberikan keterangan awal. Darya merekrutnya karena ia ahli membuat catatan klinik cocok dengan daftar pemulangan. Ia mengaku mengubah status Armand, memelihara paspor bayangan, dan menulis LP-0.
'Siapa memerintahkan Anda bulan lalu?' tanya penyelidik.
'Akun PULANG memberi perintah otomatis setelah Livia masuk jalur audit,' jawabnya.
'Siapa yang menjaga akun otomatis itu?'
'Saya, Surya, dan beberapa orang lain. Tetapi aturan yang memilih sasaran ditulis sebelum saya masuk.'
Marlina membuka buku operator pada halaman pertama. Ada tanda tangan Darya, Suradipa, Herlina, dan satu nama yang selama ini tidak muncul pada rapat, polis, atau perwalian.
Kapten Haris Adikara, pilot jet pribadi yang memberi Armand alibi pulang ke Singapura, ikut membentuk PULANG tiga hari sebelum DA-217.
Catatan resmi mengatakan Haris meninggal tiga tahun lalu. Paspor bayangan Armand melakukan perjalanan terakhir pada hari yang sama.
Pengadilan memperpanjang perlindungan Marlina sambil menunggu verifikasi. Penyerahan tas membantu penyelidikan, tetapi belum menentukan nilai hukuman atau membatalkan hak korban lain menggugatnya.