===== BAB 3: Penumpang Tanpa Nama =====
'Gilang tidak hanya memalsukan aksesmu. Dia mengirim laporan keselamatan itu kepada Sabina sebelum pesawat mendarat.'
Armand membaca catatan waktu di layar tanpa mengubah ekspresi. Kresna berdiri untuk menutup pintu ruang pertemuan.
'Bisa dibuktikan secara forensik?' tanya Armand.
'Jika server belum dibersihkan,' jawab Livia. 'Saya ingin salinan diamankan malam ini oleh auditor di luar perusahaan.'
'Setuju.'
'Anda tidak terkejut Sabina terlibat.'
'Saya terkejut dia bergerak secepat ini.'
Jawaban itu bukan penyangkalan. Livia meminta penjelasan. Armand mengaku telah mencurigai Sabina dan Brawijaya mengatur serangkaian kegagalan kecil agar dewan menerima penjualan divisi audit. Namun DA-408 terlalu berbahaya untuk sekadar tekanan bisnis.
'Seratus delapan puluh enam nyawa bukan alat tawar,' katanya.
'Keluarga Anda tampaknya tidak sepakat.'
Armand menerima tusukan itu. Ia memerintahkan tim Kresna mengamankan log dan menempatkan penjaga di sekitar Siska. Livia belum menandatangani kontrak, tetapi ia membubuhkan paraf pada surat kuasa audit terbatas. Mereka menuju pusat arsip di bawah kantor pusat sebelum Brawijaya sempat mengunci semuanya.
Lift servis turun empat lantai di bawah tanah. Udara di koridor berbau kertas lembap dan logam. Penjaga arsip, seorang lelaki tua bernama Pak Idris, memeriksa izin mereka dengan tangan gemetar.
'Berkas DA-217 dipindahkan tiga kali,' katanya. 'Terakhir atas perintah Bu Ratri.'
Ratri Dirgantara, nenek Armand dan ketua perwalian keluarga, jarang muncul di depan umum sejak stroke ringan tahun sebelumnya. Namanya tidak ada di laporan penyelidikan.
Pak Idris membuka ruang berpintu baja. Rak untuk DA-217 hanya berisi enam kotak, padahal daftar inventaris mencatat sembilan. Kotak manifest, rekaman komunikasi, dan laporan medis penumpang hilang.
'Siapa yang mengambilnya?' Livia bertanya.
Pak Idris menunjuk buku pinjaman. Tanda tangan terakhir adalah milik Mahesa Prameswari, bertanggal dua hari setelah kematiannya.
Livia merasa lantai bergeser. 'Ayah saya meninggal pada malam kecelakaan.'
'Karena itulah aku menyimpan buku ini,' ujar Pak Idris. 'Dulu saya disuruh membakarnya.'
Armand memotret halaman tersebut. Bunyi alarm akses tiba-tiba meraung. Lampu berubah merah. Pintu baja menutup otomatis, mengurung mereka bertiga.
Pak Idris panik, sedangkan Armand menghubungi keamanan melalui jalur darurat. Livia memeriksa rak dan menemukan kabel alarm sengaja diputus lalu disambung ke pemicu jarak jauh. Seseorang mengetahui kedatangan mereka.
'Ada pintu lain?' tanyanya.
'Lorong pemindahan kotak,' kata Pak Idris. 'Tapi terkunci dari luar.'
Asap tipis merembes dari ventilasi. Armand melepas jas, menutup celah bawah pintu, lalu menyuruh Livia tetap rendah. Ia tidak bersikap seperti CEO yang menunggu diselamatkan. Bersama Pak Idris, ia mendorong rak hingga membuka panel servis tersembunyi.
Mereka merangkak melalui lorong sempit. Ketika langit-langit bergetar, Armand menutupi kepala Livia dengan tubuhnya. Debu jatuh. Kedekatan itu hanya berlangsung sesaat, tetapi napas hangatnya menyentuh pelipis Livia.
'Kau terluka?'
'Tidak. Anda?'
'Belum sempat.'
Mereka keluar di ruang mesin dan mendapati petugas pemadam sudah datang. Api kecil hanya membakar panel alarm, cukup untuk merusak akses tetapi bukan menghancurkan gedung. Pak Idris dibawa ke klinik karena menghirup asap. Sebelum pergi, ia menyelipkan kunci kuningan kepada Livia.
'Kotak kesepuluh tidak pernah masuk daftar,' bisiknya. 'Hangar Arsip Tujuh.'
Di halaman belakang, Armand menerima telepon dari Ratri. Neneknya meminta mereka datang malam itu juga ke rumah keluarga di Menteng. Suaranya lemah tetapi tegas.
Rumah Ratri dipenuhi foto sejarah penerbangan. Salah satunya menampilkan Mahesa muda berdiri di samping ayah Armand. Livia berhenti di depannya.
'Mereka saling mengenal,' katanya.
'Ayahku pernah menjadi kepala operasi,' jawab Armand. 'Dia meninggal enam tahun lalu tanpa menjelaskan perannya dalam DA-217.'
Ratri menunggu di perpustakaan. Perempuan tua itu memandang Livia lama, seolah mencari wajah Mahesa.
'Ayahmu bukan lelaki sempurna,' katanya. 'Namun dia tidak membawa pesawat itu keluar landasan karena ceroboh.'
'Lalu mengapa keluarga Anda membiarkan namanya dihancurkan?'
'Karena kebenaran saat itu akan menghancurkan lebih banyak orang.'
'Sebelas orang sudah meninggal.'
Ratri menutup mata. Armand meminta neneknya memberikan akses ke Hangar Arsip Tujuh. Ratri menolak sampai kontrak pernikahan sah, karena hanya anggota perwalian dan pasangan mereka yang boleh melihat aset rahasia keluarga.
Livia tertawa pahit. 'Bahkan kebenaran punya silsilah di rumah ini.'
Ratri menyuruh pelayan membawa map tipis. Di dalamnya terdapat daftar penumpang DA-217 dengan nomor halaman melompat dari empat ke enam. Pada halaman enam, jumlah sabuk terpakai tidak cocok dengan jumlah nama.
'Seseorang naik tanpa tiket?' tanya Livia.
'Seseorang punya tiket,' jawab Ratri. 'Namanya dihapus setelah pesawat berhenti bergerak.'
'Siapa?'
Ratri memandang Armand, lalu menoleh ke jendela. 'Jika aku mengatakannya tanpa bukti, cucuku akan mengira aku sedang memilih pihak.'
Livia menyadari Armand pun tidak mengetahui semuanya. Untuk pertama kali, ketenangannya retak.
Ratri menyerahkan sepotong kertas karbon yang menyimpan tekanan tulisan dari lembar yang dicabut. Hanya nomor kursi 2A yang terbaca.
Sebelum mereka pergi, Livia meminta salinan daftar orang yang pernah mempunyai akses ke perpustakaan. Nama Brawijaya, Sabina, dan ayah Armand tercatat, tetapi terdapat satu tanda tangan tanpa nama yang muncul setiap tanggal peringatan kecelakaan. Ratri mengaku tidak mengenali bentuknya. Armand memotret buku tamu, lalu menjanjikan pemeriksaan tinta. Bagi Livia, pola tahunan itu berarti seseorang belum membiarkan DA-217 menjadi masa lalu.
Dalam perjalanan keluar, Armand menunjukkan kamera perpustakaan yang kabelnya baru dipotong. Pelaku bayangan tadi mungkin mengambil foto mereka atau mencari kertas karbon. Livia membungkus benda rapuh itu dan meminta Kresna membuat rantai penguasaan bukti. Ia tidak mau kesalahan prosedur memberi keluarga alasan menyebut temuannya palsu.
'Pernikahan itu bukan jaminan kalian saling percaya,' kata Ratri. 'Ia hanya memberi kalian hak untuk memasuki ruangan tempat kebohongan disimpan.'
Livia menggenggam kertas karbon tersebut. Di luar perpustakaan, bayangan seseorang bergerak lalu menghilang. Ia menoleh kepada Armand.
'Saya akan menandatangani setelah pengacara saya memeriksa setiap kata. Tetapi jika Anda menyembunyikan satu fakta, saya pergi dan membawa bukti ke regulator.'
'Disepakati.'
Ratri mengetukkan tongkatnya sekali, seperti mengesahkan keputusan. Livia kembali menatap angka 2A dan selisih hitungan sabuk.
'Penerbangan DA-217 membawa satu penumpang yang sengaja dihapus dari manifest.'