===== BAB 2: Harga Perlindungan =====
'Menikahlah denganku sebelum rapat Senin, dan aku akan membuka arsip penerbangan ayahmu.'
Kalimat itu tinggal di antara mereka bersama bunyi hujan pada atap mobil. Livia menutup map perlahan agar tangannya yang gemetar tidak terlihat.
'Anda baru saja menawarkan pernikahan kepada perempuan yang perusahaan Anda tuduh membahayakan pesawat.'
'Saya menawarkan kontrak kepada satu-satunya orang yang punya alasan cukup kuat untuk tidak tunduk kepada keluarga saya.'
'Itu bukan pujian.'
'Memang bukan.'
Armand menjelaskan perwalian yang ditinggalkan kakeknya. Dua puluh persen hak suara Dirgantara Air hanya dapat diaktifkan jika CEO telah menikah dan pasangannya menandatangani piagam pengawasan risiko. Tanpa itu sebelum rapat Senin, hak tersebut berpindah sementara kepada Brawijaya selama lima tahun. Pamannya akan menjual divisi audit dan hak pengelolaan dua rute strategis kepada Atlas Aero.
'Anda butuh stempel berupa istri.'
'Saya butuh orang yang memahami keselamatan dan tidak bisa dibeli Paman.'
'Lalu setelah Anda menang?'
'Lima belas bulan. Kamar dan harta terpisah. Tidak ada kewajiban pribadi. Kau memperoleh penasihat hukum sendiri, perlindungan bagi ibumu, serta akses ke arsip mentah yang selama ini disegel.'
Livia menahan reaksi saat ibunya disebut. 'Jangan bawa Ibu saya ke dalam urusan ini.'
'Ancaman kepada orang terdekat biasanya mengikuti rekayasa bukti. Saya tidak mengancam. Saya memperhitungkan.'
Mobil berhenti di depan apartemen Livia. Wartawan sudah berkumpul di trotoar. Di antara mereka berdiri Gilang, wajahnya cemas, ponsel menempel di telinga. Ketika melihat mobil Armand, kecemasannya berubah menjadi kemarahan.
'Saya belum menjawab,' kata Livia.
'Kau punya sampai besok pukul enam sore. Pengacaraku akan menunggu di Hotel Aeris.'
Armand turun lebih dulu dan mengantar Livia melewati kerumunan. Gilang mencoba mendekat, tetapi pengawal menahannya. Livia tidak menoleh sampai pintu lift tertutup.
Di lantai sembilan, ia mendapati pintu apartemennya terbuka. Tidak ada barang berharga yang hilang. Laptop masih di meja dan uang tunai tetap di laci. Namun semua dokumen tentang DA-217 berserakan, sementara kotak logam berisi salinan catatan ayahnya lenyap.
Telepon Livia bergetar. Ibunya, Siska, menelepon dari toko jahit seragam di Bekasi.
'Ada dua lelaki datang menanyakan buku penerbangan ayahmu,' kata Siska. 'Ibu bilang tidak tahu. Liv, apa yang terjadi? Wajahmu ada di berita.'
Livia memejamkan mata. Ia tidak ingin Siska kembali hidup dalam tatapan tetangga seperti setelah kecelakaan. 'DA-408 mendarat aman. Ada yang memakai aksesku. Ibu kunci toko dan jangan pulang sendirian.'
'Kau juga jangan sendirian.'
Ketukan keras terdengar. Gilang memanggil dari luar. Setelah memastikan rantai pengaman terpasang, Livia membuka pintu selebar telapak tangan.
'Kau masuk mobil Armand untuk apa?' tuntutnya.
'Itu pertanyaanmu setelah apartemenku dibobol?'
Gilang terdiam sepersekian detik terlalu lama. 'Aku baru tahu.'
'Siapa S?'
'Sabina menghubungiku soal pekerjaan.'
'Dengan gambar hati?'
'Liv, kita sedang menghadapi masalah yang jauh lebih besar daripada kecemburuan.'
Ia mendorong pintu, tetapi rantai menahannya. Livia memandang lelaki yang rencananya akan ia nikahi empat bulan lagi. Gilang mengetahui trauma masa kecilnya, menemani Siska saat sakit, dan pernah berjanji membantu membuka arsip Mahesa. Kini ia menyebut pengkhianatan sebagai kecemburuan.
'Tunjukkan ponselmu.'
'Jangan kekanak-kanakan.'
'Tunjukkan.'
Gilang menghapus sesuatu sebelum menyerahkan layar. Gerakan itu cukup. Livia menutup pintu di wajahnya.
Malam itu ia membawa ibunya ke hotel kecil milik teman Siska. Dari sana, Livia menghubungi Naya melalui nomor pribadi. Naya sudah menyimpan salinan log sebelum akses mereka dibekukan.
'Ada anomali,' kata Naya. 'Tanda tanganmu dimasukkan dari terminal perencanaan, bukan terminal keselamatan. Terminal itu di bawah unit Mas Gilang.'
'Kirimkan salinan ke alamat baru. Jangan pakai surel kantor.'
'Ada lagi. Tiga menit setelah DA-408 melaporkan masalah, seseorang menyalin laporan awal ke penyimpanan luar.'
'Siapa?'
'Hak aksesnya milik direktur komersial.'
Sabina.
Pagi berikutnya, berita menampilkan foto Livia dan Armand keluar dari mobil yang sama. Judulnya menyebut hubungan rahasia di tengah skandal keselamatan. Gilang mengirim dua puluh pesan, sebagian memohon, sebagian menuduh. Armand hanya mengirim lokasi pengacara dan kalimat: BAWA SYARATMU SENDIRI.
Livia menghabiskan hari dengan membaca ketentuan perwalian yang diam-diam dikirim Armand. Ada celah besar: pasangan CEO berhak meminta audit independen terhadap semua insiden yang memengaruhi reputasi keluarga. Hak itu mencakup DA-217 karena maskapai masih menyimpan berkasnya.
Pukul lima lewat lima puluh, ia tiba di Hotel Aeris. Armand menunggu bersama Kresna Adiputra, pengacara berusia empat puluh tahun yang langsung menawarkan daftar penasihat independen.
'Saya memilih pengacara sendiri,' ujar Livia.
'Itu hak Anda,' kata Kresna.
Livia menaruh kertas berisi sebelas syarat: akses data tanpa sensor, perlindungan untuk Siska dan Naya, larangan Armand menutup temuan, persetujuan sebelum sentuhan publik, serta hak menyerahkan bukti kepada regulator meski merugikan Dirgantara Air.
Ia juga menuntut biaya pembelaan tidak boleh ditukar dengan kerahasiaan. Bila penyelidikan membuktikan kesalahan perusahaan, semua korban DA-408 harus menerima laporan tanpa sensor. Kresna mencatatnya, sementara Armand bertanya apakah Livia siap kehilangan pekerjaan demi pasal itu. Livia menjawab bahwa pekerjaan tanpa integritas keselamatan bukan karier, melainkan seragam mahal untuk menutupi ketakutan.
Armand membaca semuanya. 'Tambahkan satu dari saya. Kita tidak boleh berbohong mengenai DA-217 atau DA-408.'
'Termasuk kebohongan keluarga Anda?'
'Terutama itu.'
Pintu ruangan terbuka. Gilang masuk tanpa izin, diikuti Sabina yang tak sempat menarik tangannya dari lengan pria itu. Kini tidak ada lagi alasan rapat atau pesan pekerjaan. Wajah Gilang pucat ketika melihat dokumen kontrak.
'Livia, jangan lakukan sesuatu yang akan kau sesali.'
Sabina justru menatap Armand. 'Kau serius menikahi tersangka demi mempertahankan kursi?'
Armand menutup map. 'Keluar.'
Livia memandang tangan Gilang dan Sabina yang akhirnya terpisah. Sakitnya ada, tetapi lebih dingin daripada yang ia bayangkan. Pengkhianatan itu telah memberinya jawaban yang dibutuhkan.
Setelah keduanya pergi, Naya mengirim hasil penelusuran lengkap. Livia membacanya dua kali, lalu menyodorkan ponsel kepada Armand.
'Gilang tidak hanya memalsukan aksesmu. Dia mengirim laporan keselamatan itu kepada Sabina sebelum pesawat mendarat.'