Label tas kedua mencantumkan Kapten Mahesa sebagai penerima, tetapi alamatnya bukan rumah Siska atau kantor Dirgantara Air. Paket dikirim ke Unit Barang Awak di terminal lama, tempat seragam, dokumen, dan perlengkapan kru disimpan sebelum diserahkan kepada keluarga.
'Orang yang mengirim tahu Mahesa sudah meninggal,' kata Livia. 'Namanya dipakai sebagai jalur, bukan penerima sebenarnya.'
Naya memindai nomor label. Perusahaan kurir Cakrawala Udara masih beroperasi, meski arsip tujuh belas tahun lalu telah dipindahkan ke gudang luar kota. Maya memperoleh perintah agar buku pengiriman tidak dimusnahkan selama penyelidikan.
Armand tidak ikut ke gudang. Identitas sementaranya hanya berlaku untuk pengadilan dan layanan dasar; perusahaan kurir menolak mengakui kuasanya atas barang milik penumpang yang secara sistem masih meninggal. Ia menyerahkan penyelidikan kepada Livia tanpa meminta laporan pribadi sebelum regulator menerimanya.
'Tas itu milikmu,' kata Livia sebelum berangkat.
'Isinya menyangkut ayahmu dan keselamatan penerbangan. Kepemilikan tidak memberiku hak menahan bukti.'
Di gudang Cakrawala, petugas menemukan gulungan daftar serah terima. Paket bernomor sama tiba pukul dua lewat dua belas dini hari, disimpan delapan menit, lalu diambil seseorang memakai kartu awak Mahesa. Kartu itu seharusnya berada dalam barang korban di rumah sakit.
Tanda tangan penerima hanya berupa M. Prameswari. Di kolom hubungan tertulis diri sendiri.
'Seseorang datang sebagai orang mati,' ujar Naya.
Livia memeriksa tintanya. Goresan M tegak, berbeda dari tulisan ayahnya. Namun nomor kartu benar, termasuk digit pemeriksa yang tidak tercetak pada lencana. Pelaku memegang kartu asli atau akses basis data awak.
Kamera terminal saat itu memakai pita yang ditimpa setiap tiga puluh hari. Tidak ada gambar. Namun gerbang parkir mencatat kendaraan polisi masuk lima menit sebelum paket diambil. Nomor kendaraannya terhubung ke unit yang menangani korban DA-217.
Siska diminta memeriksa foto kartu awak tanpa menyentuh barang aslinya. Ia mengenali goresan kecil dekat sudut kanan, bekas Livia menjatuhkannya ketika berusia delapan tahun. Setelah pemakaman, rumah sakit hanya mengembalikan dompet Mahesa tanpa kartu tersebut. Siska pernah bertanya, tetapi petugas mengatakan kartu menjadi milik maskapai.
'Berarti kartu berpindah dari lokasi kecelakaan ke rumah sakit, lalu ke orang yang mengambil paket,' kata Livia.
Naya membuat tabel penguasaan. Ada empat puluh enam menit tanpa tanda tangan antara pencatatan barang Mahesa dan penggunaan kartu di terminal. Nama petugas pengangkut tidak diisi. Kamera rumah sakit juga mati pada waktu sama dengan kamera koridor pasien anonim.
Armand meminta biaya pemeriksaan tidak dibayar perwalian. Pengadilan menunjuk dana penyelidikan regulator agar hasilnya tidak dianggap milik keluarganya. Keputusan kecil itu memperlambat akses gudang sehari, tetapi Livia memilih penundaan daripada jalur cepat yang dapat dibantah kemudian.
Mereka juga menguji kemungkinan digit pemeriksa kartu ditebak. Naya membuat sepuluh ribu kombinasi dan menemukan peluangnya sangat kecil tanpa basis data awak. Hanya unit keamanan maskapai, rumah sakit penerima barang, serta kepolisian kecelakaan yang mendapat salinan lengkap pada malam DA-217.
Cap petugas pada baris nol memiliki nomor yang sama.
Nama petugas tersebut Bimo Santoso, penyidik kecelakaan yang kini pensiun di Surabaya. Catatan publik menyebut ia mengundurkan diri enam bulan setelah DA-217 karena pelanggaran administrasi. Tidak ada rincian perkara.
Maya menghubungi pengacara Bimo sebelum polisi mendatanginya. Bimo bersedia memberikan keterangan melalui kantor pengawasan, tetapi menolak berbicara di fasilitas Dirgantara atau Astera.
Mereka bertemu keesokan hari di kantor regulator Surabaya. Lelaki berusia enam puluh delapan tahun itu berjalan dengan tongkat dan membawa map yang telah disegel sendiri. Ia mengenali Livia sebelum diperkenalkan.
'Wajahmu mirip Mahesa ketika sedang marah,' katanya.
'Apakah Anda mengambil tas atas namanya?'
Bimo tidak menghindar. 'Saya mengambil sebuah paket. Saya tidak pernah melihat tas.'
Ia menjelaskan Helena meneleponnya dari klinik. Mereka saling mengenal karena Bimo pernah menangani ancaman kepada keluarga Dirgantara. Helena mengatakan barang milik Armand akan dihancurkan bila masuk jalur perusahaan dan meminta Bimo memindahkannya ke penyimpanan polisi.
'Mengapa memakai kartu ayah saya?'
'Kartu itu diberikan petugas rumah sakit bersama barang Mahesa. Saya disuruh membuat pengambilan terlihat seperti kesalahan sistem, bukan tindakan polisi.'
'Siapa yang menyuruh?'
'Helena.'
Bimo mengaku menyetujui karena baru melihat daftar pemulangan diubah. Ia membubuhkan cap ketiga ketika Armand masih hidup. Beberapa menit kemudian atasannya memerintahkannya mencoret cap dan memperlakukan baris nol sebagai urusan keluarga.
Paket yang diterima Bimo berupa kotak datar bersegel. Beratnya hanya enam ratus gram, terlalu ringan untuk tas dokumen. Di ruang penyimpanan polisi, ia membukanya di depan seorang saksi. Isinya kunci kuningan, potongan daftar rute, dan amplop kosong.
'Tasnya sudah ditukar sebelum sampai kepada saya,' katanya.
Bimo menyerahkan salinan berita acara. Nama saksi ditutup karena berada dalam program perlindungan. Maya meminta versi tanpa sensor melalui pengadilan, tetapi Bimo mengatakan saksi sudah meninggal.
'Selalu orang mati,' kata Livia.
'Kali ini saya melihat jenazahnya,' jawab Bimo. 'Dia dibunuh enam hari setelah meminta daftar DA-217 dibuka.'
Korban bernama Anwar Jati, petugas pengatur rute bandara. Kematiannya dicatat sebagai perampokan. Barang yang hilang hanya kartu akses dan buku kerja.
Potongan daftar rute dalam paket tidak disimpan Bimo. Atasannya menyita barang dan menuduhnya merusak rantai bukti. Bimo mengundurkan diri sebelum sidang disiplin. Ia mempertahankan satu salinan karbon berita acara karena takut semua catatan dihapus.
Sebelum mundur, Bimo mencoba menghubungi Siska. Dua suratnya kembali dengan cap alamat tidak dikenal, meskipun keluarga Prameswari tetap tinggal di rumah yang sama. Ia kemudian menerima perintah menjauh dari keluarga korban. Livia meminta amplop tersebut diuji karena cap palsu dapat menghubungkan penghalangan surat dengan orang yang menguasai barang Mahesa.
'Mengapa Anda berhenti mencoba?' tanya Livia.
Bimo memegang tongkatnya. 'Karena saya takut anak saya kehilangan ayah. Ketakutan itu tidak membuat keputusan saya benar.'
Livia tidak mengampuni atau menyalahkannya di ruang wawancara. Ia meminta kalimat itu dimasukkan utuh. Kesaksian yang berguna tidak menghapus tujuh belas tahun diam.
Naya melihat kode di sudutnya: K-2/KEMBALIKAN KEPADA PENERBIT.
'K-2 bukan penerima hak,' kata Livia. 'Setidaknya pada dokumen ini, ia jalur pengembalian.'
Bimo membuka map pribadinya. Di dalamnya ada kuitansi pengiriman ulang. Atasannya memerintahkan kotak dikirim kembali ke penerbit daftar rute, perusahaan bernama Mandala Lintas. Perusahaan itu bubar setahun setelah kecelakaan, tetapi alamat kantornya masih dikenal Livia.
Alamat tersebut kini menjadi pusat data cadangan Astera.
Armand mendengarkan keterangan melalui rekaman resmi di kantor Maya. Ia tidak menyangkal ibunya memindahkan bukti, tetapi meminta tindakan Helena diperiksa terpisah dari pertukaran paket.
'Dia mungkin berusaha melindungiku dan tetap merusak penyelidikan,' katanya.
Livia menyetujui. Cinta keluarga tidak dapat mengubah penghilangan bukti menjadi tindakan benar.
Sebelum Bimo pulang, ia menyerahkan satu benda yang tidak pernah masuk berita acara: sobekan pita segel dari kotak. Di baliknya terdapat sidik jari parsial dan tulisan tangan Anwar.
Tulisan itu hanya satu kalimat.
PENERIMA BUKAN MAHESA. PENERIMA ADALAH ORANG YANG DIIZINKAN PULANG SEBAGAI MAHESA.