Livia tidak menyentuh gulungan mikrofilm sebelum Mirah menyebut asal, cara penyimpanan, dan siapa saja yang pernah membuka kotak. Hanya Mirah serta putrinya yang mengetahui tempatnya. Beasiswa dari yayasan Ratri tidak pernah mensyaratkan diam; uang itu masuk setelah Mirah menolak pembayaran Astera.
'Mengapa Anda tidak menyerahkan ini kepada polisi?' tanya Livia.
'Polisi yang datang malam itu membawa daftar yang sudah diubah,' jawab Mirah. 'Ibu Armand mengatakan ada satu petugas yang bisa dipercaya, tetapi dia meninggal sebelum menyebut namanya.'
Maya, yang mengikuti melalui sambungan aman, meminta penyelidik lokal datang. Proyektor, mikrofilm, dan kotak disegel di rumah Mirah agar rantai penguasaan tidak bergantung pada Dirgantara. Livia hanya menerima salinan kerja.
Pernyataan Penumpang Rahasia terdiri atas dua lapisan. Lapisan pertama diketik sebelum penerbangan dan menyebut Armand meminta identitasnya dirahasiakan selama tujuh puluh dua jam karena membawa bukti pelanggaran pengadaan. Lapisan kedua ditambahkan setelah kecelakaan. Kalimatnya mengubah penundaan menjadi penghapusan permanen dan menyatakan risiko ditanggung penumpang.
Tanda tangan Armand berada di antara dua lapisan. Letaknya membuat kedua versi tampak sah.
Nomor halaman juga berubah. Versi awal menyebut halaman satu dari satu, sedangkan tambahan kematian mengubahnya menjadi satu dari dua. Halaman kedua tidak ada pada mikrofilm. Mirah mengingat Suradipa membawa selembar kertas terlipat yang tidak boleh dipotret. Bila lembar itu memuat persetujuan medis atau pengalihan hak, seseorang masih mempunyai setengah pernyataan yang hilang.
Maya segera meminta pengadilan melarang penggunaan halaman kedua sampai sumbernya ditemukan. Ia juga memperingatkan Astera bahwa menampilkan salinan baru setelah pemberitahuan tersebut akan diperiksa sebagai kemungkinan rekayasa bukti.
'Saya perlu tahu kapan tinta tiap bagian dibuat,' kata Livia.
Mirah mengangguk. 'Dulu saya hanya tahu kertasnya kembali lebih tebal. Ibu Armand menyadarinya dan menyuruh saya memotret dengan cahaya dari samping.'
Foto tersebut memperlihatkan bekas tekanan berbeda. Lapisan awal ditulis dengan mesin kantor maskapai. Tambahan kematian memakai pita mesin dari klinik Suradipa.
Mirah tidak melihat Armand menandatangani. Ia melihatnya setelah kecelakaan, terbaring di ruang klinik dengan kepala diperban. Pemuda itu sadar selama beberapa menit dan berulang kali meminta tas dokumennya dikembalikan. Suradipa memberinya suntikan, kemudian melarang Mirah masuk lagi.
'Apakah dia menyebut siapa yang harus menerima tas?' tanya Livia.
'Kapten Mahesa. Ketika saya bilang kapten masih di lokasi, dia meminta ibunya.'
Helena Dirgantara datang menjelang pukul satu pagi. Ia belum tahu kecelakaan diumumkan kepada publik. Saat melihat Armand, Helena menampar Suradipa dan menuntut ambulans resmi. Brawijaya tiba bersama petugas Astera, lalu semua pintu ditutup.
Mirah mendengar pertengkaran dari ruang mikrofilm. Helena ingin melaporkan Armand sebagai penyintas. Brawijaya mengatakan nama Armand tidak pernah masuk manifest dan pengakuan akan menjatuhkan izin maskapai serta menuduh Mahesa membawa penumpang gelap. Ratri datang paling akhir.
'Apa yang dilakukan Ratri?' tanya Livia.
'Dia memeluk cucunya. Lalu menandatangani sesuatu agar Armand dibawa pulang tanpa rumah sakit.'
Tindakan itu dapat dibaca sebagai perlindungan atau awal penghapusan. Livia menolak memilih sebelum melihat dokumennya.
Armand menunggu di kantor Maya ketika Livia kembali. Ia membaca salinan Pernyataan Penumpang Rahasia tanpa meminta satu halaman disembunyikan. Setelah melihat tanda tangannya sendiri, ia meminta pemeriksa tulisan independen dan penilaian medis tentang kemampuan pasien cedera kepala memberi persetujuan.
'Kalau tanda tangan itu asli, saya mungkin memilih kerahasiaan sebelum terbang,' katanya.
'Selama tujuh puluh dua jam, bukan kematian permanen.'
'Aku ingin perbedaannya dicatat.'
Livia menatapnya. Bahkan ketika identitasnya dipertaruhkan, Armand tidak meminta seluruh dokumen disebut palsu. Sikap itu belum menjadi bukti bahwa ia jujur tentang semuanya, tetapi memberi Livia alasan untuk tetap duduk di sampingnya.
'Apakah Anda ingat ibu Anda datang ke klinik?' tanyanya.
'Tidak. Ingatan terakhirku tetap pertengkaran dengan Ayah di bandara. Setelah itu aku bangun di rumah dan diberi tahu mengalami kecelakaan motor.'
'Mirah melihat Suradipa menyuntik Anda.'
'Periksa obatnya. Jangan simpulkan dia menghapus ingatan hanya karena urutannya cocok.'
Naya menemukan inventaris klinik. Obat yang dicatat adalah penenang umum untuk pasien cedera, bukan zat yang dapat menghapus tujuh belas tahun ingatan secara terarah. Namun dosisnya tiga kali lebih tinggi daripada anjuran. Catatan lanjutan hilang.
Pemeriksaan tanda tangan memberi hasil awal bahwa goresannya konsisten dengan tulisan Armand usia sembilan belas. Tekanan tangan tidak stabil, sesuai kondisi cedera. Hasil itu tidak menentukan apakah ia memahami dokumen yang ditandatangani.
Armand meminta hasil mentah diberikan kepada Livia serta pengadilan, bukan hanya pengacaranya. Ia juga menulis pernyataan bahwa dirinya tidak akan menuntut Mirah karena menyimpan salinan. Tanpa perlindungan itu, saksi dapat dipaksa diam oleh ancaman perdata meski keterangannya dibutuhkan publik.
'Kau tidak harus mempercayaiku untuk memakai pernyataan ini,' katanya kepada Livia.
'Saya memang tidak memakai kepercayaan sebagai rantai penguasaan bukti.'
'Itu salah satu alasan aku mempercayaimu.'
Sebelum malam, polisi menemukan Ratri di rumah peristirahatan milik yayasan Helena. Ia tidak diculik. Dokter Suradipa membawanya atas permintaannya, lalu pergi setelah mengetahui polisi menutup klinik. Ratri bersedia diperiksa, tetapi meminta bertemu Armand dan Livia bersama.
Mereka datang dengan Maya serta penyelidik. Ratri tampak lelah, obat paginya sudah diminum dari persediaan yayasan. Armand tidak memeluknya. Ia duduk seberang meja dan meletakkan salinan daftar pemulangan.
'Nenek tahu saya dinyatakan mati?' tanyanya.
'Aku tahu status sementara dibuat malam itu,' jawab Ratri. 'Aku tidak tahu Suradipa mendaftarkannya sebagai koreksi permanen.'
'Nenek menandatangani apa?'
'Perintah membawa pulangmu tanpa nama selama tiga hari. Helena takut orang yang mengejar dokumen akan membunuhmu di rumah sakit.'
Livia meminta alasan Ratri menjadi penasihat Astera setelah kecelakaan. Ratri mengaku masuk untuk mencari siapa yang mengubah perlindungan tiga hari menjadi kematian. Ia menemukan polis K-2, tetapi Brawijaya mengancam membuka keterlibatan Helena dan membuat Armand dituduh memaksa Mahesa menerbangkan penumpang gelap.
'Jadi Anda memilih diam dan membiarkan Mahesa disalahkan,' kata Livia.
Ratri menunduk. 'Ya.'
Pengakuan itu tidak disertai pembenaran. Siska mendengarkan dari sambungan aman dan meminta salinannya dimasukkan ke permohonan pembukaan ulang DA-217.
Ratri menyerahkan map yang dibawanya dari klinik. Isinya bukan daftar pemulangan asli, melainkan kuitansi penyimpanan sebuah paket milik Helena. Paket itu disimpan pada loker stasiun lama dengan sewa yang terus dibayar yayasan. Ratri baru mengetahui nomor lokernya dari Suradipa.
Polisi membuka loker malam itu. Di dalamnya ada kaset kecil, kunci, dan label barang bernomor dua. Tas dokumen Armand seharusnya memiliki dua barang, tetapi daftar akhir hanya mencatat gelang.
Kaset diputar setelah salinan forensik dibuat. Suara Helena terdengar lebih dulu, menyebut tanggal dan lokasi. Kemudian suara Armand muda muncul, lemah tetapi sadar.
'Saya meminta nama saya ditahan tiga hari,' katanya. 'Bukan dihapus. Kalau saya tidak bangun sebagai diri saya sendiri, cari daftar pemilik rute dalam tas kedua.'
Ada bunyi pintu dibuka. Helena bertanya siapa yang datang. Suara lelaki menjawab terlalu pelan untuk dikenali, lalu rekaman terputus.
Naya memeriksa label barang nomor dua. Tujuan pengirimannya bukan kantor Brawijaya, Astera, atau rumah Dirgantara.
Tas itu dikirim tujuh belas tahun lalu kepada Kapten Mahesa Prameswari, tiga jam setelah Mahesa dinyatakan meninggal.