Diskors dari siaran terasa seperti kehilangan satu indra. Selama tiga tahun, Damar mengukur waktunya dengan jadwal malam: berangkat menjelang sebelas, membuka mikrofon, menemani kota sampai subuh. Tanpa itu, malam membentang kosong dan tak berbentuk, jam-jam panjang yang tak tahu harus diisi apa.
Ia tidak boleh ke studio. Pak Hasan meneleponnya dengan suara berat, bilang ada surat resmi dari manajemen, bilang ia tidak bisa berbuat apa-apa, bilang maaf berkali-kali sampai Damar yang akhirnya menutup telepon karena tak tahan mendengar lelaki tua itu menanggung rasa bersalah yang bukan miliknya. Lana mencoba menemuinya di rumah singgah, tapi Rangga melarang pertemuan itu, takut Lana ikut terseret kalau Damar resmi jadi tersangka. Satu per satu, benang yang menghubungkannya dengan dunia normal diputus, bukan oleh Suara kali ini, melainkan oleh sistem yang seharusnya melindunginya.
Bang Toni masih menyetel berita di warungnya, dan kini berita itu mulai menyebut "seorang penyiar radio" yang diduga "mengetahui terlalu banyak". Belum ada nama. Tapi di kota sekecil ini, orang tahu. Tetangga di gang mulai menatapnya berbeda. Damar berhenti datang ke warung. Ia berhenti datang ke mana pun.
Pada malam ketiga skorsing, di kamar rumah singgah yang sunyi, ponselnya bergetar tengah malam. Nomor tak dikenal. Tentu saja. Suara selalu menemukan jalan, dengan atau tanpa frekuensi.
Damar membiarkannya berdering tiga kali sebelum mengangkat. Ia tidak bisa tidak. Itulah jebakannya, dan ia tahu itu.
"Mereka mengambil suaramu," kata Suara, dan ada sesuatu yang hampir seperti simpati dalam nadanya, yang membuatnya jauh lebih mengerikan daripada ejekan. "Aku ikut sedih, Damar. Sungguh. Lentera Malam tanpa kamu terasa salah. Aku dengar penyiar penggantinya tadi malam. Suaranya datar. Tidak ada kehangatan. Kota tidak akan bisa tidur dengan suara seperti itu."
"Apa maumu," kata Damar, lelah.
"Aku tidak mau apa-apa malam ini. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku mengerti." Jeda. Napas lambat itu. "Mereka membuangmu. Persis seperti mereka membuang keluargaku. Kamu memberi mereka kebenaran, dan mereka menjadikanmu kambing hitam karena kebenaran itu terlalu merepotkan. Sekarang kamu mengerti, kan? Bagaimana rasanya ketika sistem yang seharusnya melindungimu malah berbalik dan memilih yang mudah daripada yang benar."
Damar menutup mata. Bagian terburuknya adalah Suara tidak salah. Itulah persis yang terjadi. Atasan Rangga memilih yang mudah. Wartawan memilih yang menjual. Manajemen radio memilih yang aman. Tak satu pun dari mereka peduli pada kebenaran. Dan untuk sesaat, satu detik yang membuat perutnya mual, Damar merasakan benang tipis yang menariknya ke arah Suara. Pengertian. Kemarahan yang sama pada ketidakadilan yang sama.
"Kita tidak sama," kata Damar, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk Suara.
"Belum," jawab Suara lembut. "Tapi kamu mulai mengerti. Itu sudah cukup untuk sekarang." Jeda panjang. "Istirahatlah, Damar. Kamu tidak punya siaran malam ini. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, kamu boleh tidur. Aneh, ya? Aku yang memberimu izin untuk tidur. Padahal seharusnya tidak ada yang boleh tidur sampai semua lunas." Ada getaran tipis di sana, sesuatu yang retak. "Selamat malam."
Saluran terputus. Damar berbaring di kasur sempit rumah singgah, menatap langit-langit yang catnya retak seperti peta sungai. Ia sendirian. Tanpa studio, tanpa Lana, tanpa Pak Hasan, hampir tanpa Rangga. Hanya tersisa frekuensi gelap di ponselnya dan satu suara di ujung sana yang mengerti dirinya lebih baik daripada siapa pun yang masih hidup.
Dan itulah, sadarnya dengan dingin yang merayap, justru rencana Suara sejak awal. Mengisolasinya. Mengupas satu per satu orang yang menahannya di sisi terang, sampai yang tersisa hanya Suara, sampai Damar tidak punya siapa pun lagi untuk dipercaya selain orang yang ingin menjadikannya cermin. Damar memejamkan mata, tapi tidur tidak datang. Tentu saja tidak datang. Tidak ada yang boleh tidur sampai semua lunas.