Iptu Rangga menelepon pagi-pagi sekali, suaranya tegang dengan cara yang belum pernah Damar dengar sebelumnya. "Datang ke Polsek. Sekarang. Lewat pintu belakang, jangan lewat depan. Dan jangan bawa siapa-siapa."
Damar tahu sesuatu telah berubah bahkan sebelum ia tiba. Pintu belakang. Jangan lewat depan. Itu bukan undangan, itu peringatan. Ketika ia masuk ke ruang sempit di belakang kantor, Rangga sudah menunggu, rahangnya mengeras, pulpennya untuk sekali ini tidak berputar di antara jarinya melainkan tergeletak diam di meja.
"Kasus ini diambil alih dari atas," kata Rangga tanpa basa-basi. "Bukan oleh saya. Ada tekanan untuk menutupnya cepat. Tiga mayat dalam dua bulan, wartawan mulai mengendus, atasan saya butuh tersangka yang bisa ditahan minggu ini." Ia menatap Damar lurus, dan ada sesuatu yang berat dalam tatapannya. "Dan tersangka yang paling masuk akal di atas kertas, Damar, adalah kamu."
Damar merasa lantai di bawahnya kembali runtuh, sama seperti pertemuan pertama mereka berbulan-bulan lalu, tapi kali ini lebih dalam. "Saya?"
"Kamu selalu tahu lebih dulu," kata Rangga, dan ia mulai menghitung dengan jarinya, suaranya datar seperti membaca berkas dakwaan. "Korban pertama, kamu tahu sebelum mayatnya ditemukan. Lokasi menara air, kamu yang menyebut. Tiap kali ada korban, namamu ada di dekatnya. Kamu punya akses ke rekaman, ke log, ke semuanya. Kamu kenal pabrik itu lebih dari penyidik mana pun. Dan", Rangga menarik napas, "ayahmu pengacara yang membela pabrik itu. Begitu mereka tahu itu, Damar, kamu bukan lagi saksi. Kamu jadi orang yang punya motif, akses, dan pengetahuan. Di mata atasan saya, itu paket lengkap."
"Tapi ayah saya justru di pihak yang merampas keadilan keluarga Sari," kata Damar, suaranya naik. "Saya korban dalam hal ini, bukan—"
"Saya tahu," potong Rangga, dan untuk pertama kalinya suaranya melunak. "Saya tahu, Damar. Saya sudah mendengar rekaman itu puluhan kali. Saya melihat perekam di bawah lacimu. Saya tahu ada orang lain di luar sana yang mengejarmu, bukan sebaliknya. Tapi keyakinan saya bukan bukti. Atasan saya butuh kasus yang selesai, bukan kasus yang benar."
Damar menatap lelaki di depannya, polisi yang dulu menolak mempercayainya, yang perlahan berubah dari skeptis jadi sekutu satu-satunya. Dan kini Damar melihat sesuatu yang baru di wajah itu: seorang lelaki yang terbelah antara apa yang ia tahu benar dan apa yang akan menyelamatkan kariernya.
"Apa yang akan Bapak lakukan?" tanya Damar pelan.
Rangga diam lama. Di luar ruangan, suara mesin tik, dering telepon, langkah-langkah sepatu lars di koridor. Dunia normal sebuah kantor polisi, berjalan seakan tidak ada nyawa yang sedang ditimbang di ruang sempit ini.
"Saya bisa menyerahkanmu," kata Rangga akhirnya, pelan. "Itu cara paling mudah. Atasan senang, wartawan dapat berita, kasus ditutup. Mungkin dalam enam bulan pengadilan membebaskanmu karena kurang bukti, mungkin tidak. Tapi sementara itu, orang sungguhan yang membunuh tiga perempuan akan bebas berkeliaran, dan dia akan menertawakan kita semua." Rahangnya mengeras kembali. "Atau saya bisa mengulur waktu. Bilang ke atasan saya butuh bukti lebih kuat sebelum menahanmu. Itu membahayakan posisi saya. Kalau atasan tahu saya sengaja melindungi tersangka utama, habis sudah karier saya. Mungkin lebih dari karier."
"Kenapa Bapak melakukannya?"
Rangga mengambil pulpennya, memutarnya sekali, lalu meletakkannya lagi. "Karena saya jadi polisi bukan untuk menutup kasus. Saya jadi polisi untuk menangkap orang yang benar." Ia menatap Damar. "Tapi saya tidak bisa melindungimu selamanya. Kamu punya waktu, mungkin satu minggu, sebelum tekanan itu terlalu besar buat saya tahan. Dalam satu minggu itu, kamu harus memberi saya sesuatu yang nyata. Nama. Wajah. Sesuatu yang bisa saya bawa ke atas dan bilang, ini orangnya, bukan dia." Ia berdiri. "Sementara itu, kamu diskors dari siaran. Atas nama 'menjaga keselamatanmu', tapi sebenarnya supaya kamu tidak terlihat di muka publik. Mulai malam ini, kamu tidak mengudara."
Damar berdiri juga, kakinya terasa berat. Diskors. Studio, mikrofon, frekuensi malam yang selama tiga tahun jadi rumahnya, kini direnggut. Dan dengan itu, satu-satunya panggung tempat Suara pasti akan menelepon, satu-satunya jadwal yang menghubungkan mereka, ikut hilang.
"Satu minggu," ulang Rangga di ambang pintu, suaranya nyaris berbisik. "Saya membeli waktu itu dengan lencana saya, Damar. Jangan sia-siakan."